JAKARTA – Mengusung semangat pelayanan yang “menyala karena cinta”, Yayasan Tarakanita Wilayah Jakarta menggelar Misa Syukur dan Perayaan Peringatan Santo Carolus Borromeus di Auditorium Sekolah Tarakanita Puloraya.
Acara ini menjadi momentum refleksi bagi lebih dari 600 karyawan, pendidik, dan tenaga kependidikan
untuk meneladani spiritualitas sang pelindung dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini.
Ekaristi: Panggilan untuk Menjadi Kecil demi Sesama
Perayaan iman ini diawali dengan Misa Ekaristi khidmat yang dipimpin oleh Romo Samuel Pangestu (Vikaris Jenderal KAJ) bersama Romo Athanasius Kristiono Purwadi, SJ.
Dalam homilinya, Romo Samuel menekankan filosofi pelayanan yang rendah hati.
Beliau mengajak para guru untuk berani “menjadi kecil” agar para peserta didik dapat tumbuh menjadi pribadi yang besar dan berhasil.
“Setiap tindakan kasih, betapa pun sederhananya, memiliki nilai abadi di mata Tuhan.
Teladan Santo Carolus adalah tentang mengupayakan kebahagiaan bagi sebanyak-banyaknya orang melalui solidaritas yang adil dan merata,” pesan Romo Samuel.
Saksi Kasih: Menghidupi Spiritualitas Cc5+
Tahun ini, perayaan mengambil tema strategis: “Menjadi Saksi Kasih Tuhan dengan Solidaritas yang Nyata”.
Kepala Kantor Wilayah Jakarta, Sr. Yudith Maryani, CB, dalam sambutannya menegaskan bahwa keteladanan Santo Carolus dan
pendiri Kongregasi CB, Bunda Elisabeth Gruyters, adalah kompas utama dalam membentuk karakter peserta didik.
“Kami dipanggil untuk membangun dasar yang baik melalui pelayanan yang total kepada mereka yang menderita dan tersingkir. Semangat ini diintegrasikan dalam pembentukan pribadi siswa yang cerdas, berintegritas, dan memiliki karakter Cc5+ (Compassion, Celebration, Competence, Conviction, Creativity, dan Community),” tutur Sr. Yudith.

Apresiasi Atas Dedikasi dan Loyalitas Tanpa Batas
Sebagai bentuk pengakuan atas pengabdian yang tulus, Yayasan Tarakanita kembali memberikan penghargaan masa bakti kepada para karyawan.
Tahun 2025, sebanyak 35 karyawan di Wilayah Jakarta dan 115 karyawan secara nasional menerima penghargaan atas masa kerja 15, 25, hingga 30 tahun.
Penghargaan berupa piagam, cincin, dan uang tunai ini bukan sekadar apresiasi
atas lamanya waktu bekerja, melainkan simbol loyalitas terhadap visi misi lembaga.
Dedikasi para pendidik ini dianggap sebagai pilar utama yang menjaga keberlanjutan kualitas pendidikan Tarakanita di tengah disrupsi zaman.
Mempererat Kebersamaan di Tengah Tantangan Zaman
Di luar aspek formal dan spiritual, perayaan ini juga menjadi ajang penguatan solidaritas internal.
Kreativitas para guru dan karyawan tumpah ruah dalam berbagai penampilan seni budaya dari berbagai blok sekolah, mulai dari Rawamangun, Patal, Pluit, Tendean, hingga Barito.
Puncaknya, fragmentari “Anoman Obong” yang dibawakan oleh karyawan Kantor Pusat memukau hadirin sebagai simbol semangat yang tak kunjung padam dalam melayani.
Kemeriahan acara ditutup dengan pembagian door prize menarik sebagai bentuk kegembiraan bersama, termasuk dua unit sepeda motor sebagai hadiah utama.

Harapan untuk Masa Depan Pendidikan
Perayaan Hari Carolus Borromeus 2025 ini diharapkan tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi menjadi bahan bakar baru
bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berinovasi dalam pelayanan.
Di era yang semakin individualistis, Yayasan Tarakanita berkomitmen untuk tetap menjadi oase bagi mereka
yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel melalui pendidikan yang inklusif dan penuh belarasa.
Dengan semangat St. Carolus, Yayasan Tarakanita siap melangkah maju, membawa perubahan positif bagi dunia pendidikan di Indonesia dengan hati yang selalu terbuka bagi sesama.