OSLO, 23 Juni 2026 – Pemerintah Norwegia mengambil langkah radikal demi menyelamatkan kualitas pendidikan generasi mudanya. Negara Nordik tersebut resmi mengumumkan larangan total
terhadap penggunaan alat kecerdasan buatan atau AI generatif (seperti ChatGPT dan sejenisnya) untuk seluruh siswa sekolah dasar (SD).
Kebijakan tegas ini akan mulai diimplementasikan secara serentak pada tahun ajaran baru yang dijadwalkan bergulir pada akhir Agustus 2026.
Langkah ini diambil sebagai respons langsung pemerintah atas tren penurunan nilai ujian nasional yang terjadi secara luas di negara tersebut akibat ketergantungan digital yang berlebihan.
Alasan Norwegia Larang AI: Takut Kehilangan Kemampuan Fondasi
Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Stoere, menegaskan bahwa intervensi teknologi yang terlalu dini pada anak-anak justru
membawa risiko besar. Penggunaan AI generatif dinilai membuat anak-anak melewatkan tahapan kognitif paling krusial dalam perkembangan motorik dan cara berpikir mereka.
“Hal terpenting di sekolah adalah memastikan anak-anak kita belajar membaca, menulis, dan berhitung secara mandiri tanpa bantuan instan. Penggunaan AI pada anak-anak meningkatkan risiko hilangnya tahapan penting dalam proses pendidikan dasar mereka,” ujar Stoere dalam keterangannya yang dikutip dari Reuters, Selasa (23/6/2026).
Pembagian Aturan Berdasarkan Klaster Usia Siswa
Pemerintah Norwegia merancang regulasi ini secara berjenjang berdasarkan tingkat kematangan usia dan kebutuhan akademis siswa:

- Siswa Usia 6–13 Tahun (Kelas 1–7 SD): Dilarang total menggunakan segala bentuk alat AI generatif di lingkungan sekolah selama kegiatan belajar mengajar.
- Siswa Usia 14–16 Tahun (SMP): Diperbolehkan mengadopsi teknologi AI secara terbatas dan wajib berada di bawah pengawasan serta kurasi ketat dari guru kelas.
- Siswa Usia 17–19 Tahun (SMA): Diwajibkan belajar menggunakan AI secara tepat dan bijak. Pada fase ini, AI diposisikan sebagai instrumen pelengkap guna mempersiapkan mereka menuju dunia perkuliahan dan persaingan kerja global.
Tren Balik Arah: Dari Tablet Komputer Kembali ke Buku Cetak
Kebijakan pembatasan AI ini menandai titik balik besar (u-turn) dalam sejarah pendidikan Norwegia. Sejak era 1990-an, negara ini
menjadi salah satu pionir digitalisasi ruang kelas, yang kemudian dipercepat dengan penggunaan tablet komputer dan iPad secara masif pada tahun 2010 demi menyingkirkan buku teks konvensional dan tulisan tangan.
Namun, menyadari dampak negatifnya terhadap konsentrasi dan disiplin siswa, pemerintah Norwegia kini berbalik arah. Bersamaan dengan
pelarangan AI, pemerintah akan mengusulkan undang-undang baru untuk mengembalikan anggaran dana demi menyediakan lebih banyak buku cetak fisik di ruang kelas.
Langkah ini melengkapi rangkaian aturan proteksi anak dari distorsi digital yang gencar dilakukan Norwegia. Sebelumnya pada tahun 2024, mereka telah melarang ponsel pintar (smartphone) di area sekolah.
Bahkan pada April lalu, Norwegia menyusul langkah Australia dengan merencanakan undang-undang larangan penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun.