Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use

Tujuh Dekade Mengabdi: Transformasi UGM Menjadi Episentrum Inovasi Inklusif dan Riset yang Membumi

YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) merayakan 70 tahun perjalanan pengabdiannya dengan mempertegas posisi sebagai kampus kerakyatan yang adaptif dan inklusif.

Sebagai perguruan tinggi dengan disiplin ilmu terluas di Indonesia—menaungi 18 fakultas, 2 sekolah, dan lebih dari 250 program studi—UGM terus bertransformasi

menjadi gudang pengetahuan yang tidak hanya eksklusif bagi sivitas akademika, tetapi juga menjadi milik masyarakat luas.

Mendobrak Sekat Pengetahuan: Kampus Inklusif di Era Digital

Semangat inklusivitas UGM kini diwujudkan melalui Kanal Pengetahuan dan Menara Ilmu.

Inisiatif yang dikembangkan sejak 2016 ini memastikan bahwa aset intelektual kampus dapat diakses oleh siapa saja melalui laman kanalpengetahuan.ugm.ac.id.

Advertisement

Dengan ribuan konten edukasi mulai dari artikel, infografis, hingga dokumenter, UGM berkomitmen bahwa ilmu pengetahuan adalah hak publik.

Tak hanya itu, UGM memperluas jangkauan visualnya melalui UGM Channel, sebuah kanal audio visual yang

menyajikan konten inspiratif secara real-time. Langkah ini merupakan strategi cerdas dalam merespons tren visual-based learning sekaligus memberikan paparan kompetensi global bagi masyarakat di seluruh pelosok negeri.

Pendidikan Tanpa Batas: Komitmen bagi Penyandang Disabilitas

Memasuki usia ke-70, UGM semakin serius menyediakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua kalangan.

Pembangunan sarana fisik yang aksesibel dan sistem pengajaran inklusif menjadi prioritas utama.

Komitmen ini diperkuat dengan rencana pembentukan Unit Layanan Disabilitas yang fokus pada dukungan akses total.

Baca Juga :  Strategi Gen Z Indonesia Hadapi Persaingan Global: Mengapa Kuliah di Luar Negeri Jadi Kunci?

Salah satu bukti keberhasilan sistem inklusif UEU adalah sosok Muhammad Fahmi Husein.

Meski mengidap Duchne Muscular Distropy (DMD), alumnus Sekolah Vokasi ini berhasil mencetak prestasi internasional, mulai dari medali emas di PIMNAS hingga penghargaan

di Seoul International Invention Fair. Kisah Fahmi adalah cermin bahwa di UGM, keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menjadi mahasiswa berprestasi nasional maupun global.

Riset Membumi: Peringkat Pertama Kinerja Penelitian Nasional

Kinerja riset UGM terus menunjukkan dominasi yang sulit tertandingi. Selama dua periode berturut-turut (2013-2015 dan 2016-2018),

UGM menempati peringkat pertama nasional dalam penilaian kinerja penelitian oleh Kemenristek/BRIN.

Hingga akhir 2019, UGM mencatatkan 440 judul Kekayaan Intelektual (KI), termasuk 123 paten yang siap dikomersialkan untuk kesejahteraan rakyat.

Inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di atas kertas, namun langsung menyentuh kebutuhan dasar manusia:

  1. Kesehatan: Katup INA Shunt karya Dr. dr. Paulus Sudiharto, Sp.BS(K) telah menyelamatkan lebih dari 10 ribu pasien hidrosefalus.
  2. Pertanian Modern: Edrones, pesawat tanpa awak autopilot pembasmi hama hasil inovasi tim FMIPA UGM.
  3. Lingkungan: Papan komposit ramah lingkungan dari limbah pertanian karya peneliti Fakultas Kehutanan.

Mengabdi dengan Hati: KKN dan Pemberdayaan Desa

Sebagai kampus “biru” yang berakar pada kerakyatan, darma pengabdian masyarakat tetap menjadi denyut nadi UGM.

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) UGM kini telah menjangkau 32 provinsi di Indonesia, melibatkan ribuan mahasiswa termasuk mahasiswa internasional dari 17 negara.

Baca Juga :  Satu Abad Lebih Melayani: Gebyar 120 Tahun Santa Angela Bandung, Rayakan Inovasi dalam Tradisi Ursulin

Mulai dari pembangunan sarana penjernih air di pedalaman Kalimantan hingga penanganan bencana tsunami di Lampung, mahasiswa UGM hadir untuk memberikan solusi nyata.

Melalui unit Disaster Response Unit (Deru), UGM selalu menjadi yang terdepan dalam mitigasi dan pemulihan pascabencana, membuktikan bahwa ilmu pengetahuan harus kembali dan bermanfaat bagi masyarakat.

Menyongsong Masa Depan: Adaptasi di Tengah Disrupsi

Di tengah era disrupsi teknologi dan perubahan iklim global, UGM menyadari bahwa tantangan 70 tahun ke depan akan jauh lebih kompleks.

Oleh karena itu, UGM terus memperkuat kolaborasi lintas disiplin (interdisciplinary research) untuk menjawab isu-isu strategis seperti ketahanan pangan, energi terbarukan, dan kedaulatan digital.

Dengan semangat Pancasila dan jati diri sebagai Balai Nasional Ilmu Pengetahuan, UGM tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara intelek,

tetapi juga memiliki integritas moral dan kepedulian sosial yang tinggi. 70 tahun adalah sebuah awal baru untuk terus tumbuh, berinovasi, dan tetap membumi demi kejayaan bangsa Indonesia.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Menjadi Benteng Budaya Bangsa: ISBI Bandung Kukuhkan 366 Wisudawan dalam Harmoni Tradisi dan Teknologi

Next Post

Menuju Unair 2025: Uji Masyarakat Kampus Jadi Ajang Adu Gagasan Strategis Calon Nahkoda Baru