Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use

Ambisi Filipina 2026: Dari Visa Digital Nomad hingga Destinasi Halal Unggulan

CEBU, Filipina – Filipina tidak hanya sekadar pulih dari dampak pandemi, melainkan sedang memacu akselerasi besar-besaran untuk mendominasi pasar pariwisata Asia Tenggara. Dengan target melampaui angka kunjungan pra-pandemi, Departemen Pariwisata Filipina (DOT) resmi meluncurkan strategi diversifikasi produk yang agresif dan inklusif.

Berdasarkan data terbaru, lonjakan signifikan terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang meroket dari hanya 163.879 orang pada 2021 menjadi 6,48 juta wisman pada 2025. Sektor ini pun berhasil menyumbang devisa fantastis senilai 694 miliar peso (sekitar US$11,9 miliar).

Inovasi Akses: Visa Gratis dan Digital Nomad

Salah satu kunci utama Filipina dalam memikat turis internasional adalah kemudahan birokrasi. Filipina kini menerapkan kebijakan visa gratis bagi wisatawan dari pasar potensial seperti Taiwan, China, dan India, serta penumpang kapal pesiar.

Tak hanya turis konvensional, Filipina juga membidik tren kerja jarak jauh dengan memperkenalkan Visa Digital Nomad. Langkah ini dibarengi dengan kebijakan VAT Refund (pengembalian pajak) bagi wisatawan asing yang berbelanja, guna meningkatkan daya tarik wisata belanja di negara kepulauan tersebut.

Melirik Pasar Muslim: Lompatan di Global Muslim Travel Index

Filipina menunjukkan komitmen serius dalam membangun pariwisata inklusif. Terbukti, posisi Filipina dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025 melonjak dari peringkat 12 ke peringkat 8 dunia.

Verna Buensuceso, Undersecretary of the Department of Tourism, menegaskan bahwa Filipina kini memiliki 51 hotel bersertifikat ramah Muslim dan mewajibkan setiap venue besar memiliki dapur bersertifikat halal. Langkah ini dilakukan untuk menyambut wisatawan dari negara-negara Islam yang memiliki potensi pengeluaran tinggi.

Baca Juga :  Dominasi Pasar EV: Jaecoo Targetkan Distribusi 10.000 Unit J5 EV Sebelum Mudik Lebaran 2026

Kolaborasi Regional dan Fasilitas “Hop On Hop Off”

Filipina tidak berjalan sendiri. Melalui program Two Country One Destination bersama Thailand dan promosi wisata halal dengan Brunei Darussalam, Filipina memperkuat konektivitas regional.

Di dalam negeri, fasilitas Hop On Hop Off (HOHO) Transit Tours di Metro Manila diperkenalkan untuk memperpanjang length of stay wisatawan yang kini rata-rata mencapai 11,9 hari. Selain itu, pemerintah menargetkan pembangunan 100 Tourist Rest Area yang nyaman dan aman di seluruh penjuru negeri untuk menjamin pengalaman wisata yang berkualitas.

Empat Pilar Strategi Pariwisata 2025-2028

Marga Nograles, COO Philippines Tourism Promotion Board, memaparkan empat pilar utama yang akan menjadi kompas pariwisata Filipina hingga 2028:

  1. Promosi Berbasis Data: Menggunakan bukti nyata di lapangan untuk memahami kebutuhan spesifik wisatawan.
  2. Konektivitas Global via Influencer: Menggandeng kreator konten lokal dan internasional untuk menceritakan keautentikan budaya Filipina.
  3. Destinasi MICE Utama: Memosisikan Filipina sebagai tuan rumah konferensi dan pameran skala dunia (seperti kesuksesan ASEAN Tourism Forum 2026).
  4. Pariwisata Berkelanjutan: Memperkuat kerja sama berbasis komunitas guna menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal.

Dengan diversifikasi pada sektor wisata menyelam, golf, sport tourism, hingga lokasi syuting film internasional, Filipina optimistis sektor pariwisata akan menjadi tulang punggung ekonomi yang semakin kokoh di masa depan.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Corporate Entrepreneurship: Kunci Bertahan dan Bertumbuh di Era Disruptif

Next Post

Mengapa Raksasa Bisnis Tumbang? Kebenaran Pahit Corporate Entrepreneurship di Era Disrupsi