NUSANTARA, 14 Juni 2026 – Koridor pesisir Pantai Tanah Merah di Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Samboja, kini resmi dipetakan sebagai salah satu benteng ekologi krusial dalam struktur tata ruang
Ibu Kota Nusantara (IKN). Berada langsung di dalam garis delineasi wilayah ibu kota baru, kawasan pantai ini menjadi
titik pusat aksi pemulihan lingkungan kolektif guna menahan laju abrasi sekaligus memitigasi dampak perubahan iklim regional pada Sabtu (13/6/2026).
Langkah penyelamatan lingkungan ini tidak hanya menyasar pada penguatan vegetasi pantai melalui penanaman ratusan bibit mangrove,
tetapi juga aksi pembersihan material polutan yang mengancam ekosistem pesisir Kalimantan Timur dari tekanan aktivitas antropogenik (aktivitas manusia).
Bukan Seremonial, OIKN Targetkan Pemulihan Berkelanjutan
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menjelaskan bahwa
posisi strategis Pantai Tanah Merah menuntut model tata kelola yang terintegrasi erat antara otoritas, sektor privat, dan komunitas lokal.
Dalam aksi nyata bertema “Saatnya Beraksi untuk Iklim” ini, para peserta lintas sektor tidak hanya menanam pohon, tetapi juga
melakukan pemilahan dan penimbangan sampah langsung di lapangan. Hasilnya, sebanyak 202,7 kilogram sampah domestik dan plastik berhasil diangkat dari garis pantai.
“Kegiatan seperti ini bukan seremonial, melainkan aksi nyata Otorita IKN bersama para mitra. Hari ini kita menanam 350 bibit mangrove dan membersihkan pantai. Ini tentu tidak cukup dan tidak akan berhenti di sini, karena upaya pemulihan ekosistem mangrove di wilayah IKN akan terus kami pacu secara berkelanjutan,” tegas Myrna.
Sinergi Hulu Migas: Pasokan Ratusan Bakau Hitam
Intervensi korporasi dalam menjaga daya dukung lingkungan pesisir ini terlihat dari kontribusi nyata entitas hulu migas yang beroperasi
di sekitar wilayah kerja IKN. PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) turut ambil bagian dengan menyuplai kebutuhan vegetasi penahan ombak alami tersebut.
Kepala Lapangan Senipah, Peciko, dan South Mahakam PT Pertamina Hulu Mahakam, Billy Sunyoto, menegaskan komitmen operasional perusahaan yang wajib sejalan dengan regulasi proteksi lingkungan ketat dari Otorita IKN.
“Kami berkomitmen penuh mendukung aktivitas Otorita IKN dalam menjaga kelestarian alam. Pada aksi ini, kami berkontribusi dengan menyerahkan 500 bibit pohon bakau jenis Rhizophora mucronata atau bakau hitam yang memiliki struktur akar kuat untuk memastikan keberlanjutan tanah pantai,” jelas Billy.
Memulihkan Samboja dari Rekam Jejak Aktivitas Ekstraktif
Kecamatan Samboja sebagai wilayah penyangga utama IKN saat ini memikul beban ekologis yang cukup ganda. Selain polusi pesisir
akibat arus laut pembawa sampah, kawasan ini memiliki rekam jejak kerusakan bentang alam akibat aktivitas ekstraktif di masa lalu.
Oleh karena itu, restorasi hutan bakau dipandang sebagai instrumen vital. Camat Samboja, Damsik, menyatakan bahwa aksi kolaboratif ini memperkuat program
rehabilitasi lahan terbengkalai yang sedang berjalan di wilayahnya. “Ini bukti kepedulian riil kita terhadap masa depan lingkungan di Kecamatan Samboja,” ungkapnya.
Namun, Otorita IKN tidak menampik adanya tantangan besar ke depan, terutama dalam mengubah perilaku pembuangan limbah dari sektor domestik dan wisatawan.
Tanpa regulasi dan sanksi ketat terkait pengelolaan sampah di area publik, investasi ekologis pada tanaman bakau rentan mengalami kegagalan tumbuh akibat tertimbun material plastik.
Myrna menambahkan, keberhasilan pengendalian iklim di IKN mensyaratkan perubahan pola hidup masyarakat secara permanen.
“Penyelamatan lingkungan ini harus menjadi gerakan bersama dan, yang lebih penting lagi, menjadi gaya hidup,” pungkasnya.