JAKARTA – Di tengah tantangan meningkatnya angka pengangguran terdidik dan fenomena ketidaksesuaian (mismatch) antara mutu lulusan perguruan tinggi
dengan kebutuhan industri, Universitas Prasetiya Mulya mengukuhkan posisinya sebagai institusi yang berfokus pada keahlian terapan dan inovasi.
Melalui model pembelajaran yang unik, kampus ini berhasil melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga tangguh secara praktik.
Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Prof. Dr. Djisman S. Simandjuntak, menekankan bahwa tantangan terbesar SDM Indonesia saat ini adalah kurangnya keahlian dalam menggunakan ilmu pengetahuan (the use of knowledge).
“Kami tidak hanya mencetak lulusan yang tahu ‘apa’, tetapi juga tahu ‘bagaimana’ menggunakan ilmu tersebut untuk memajukan industri dan bangsa,” ungkapnya.

Filosofi Learning by Enterprising
Sebagai sekolah bisnis pionir, Prasetiya Mulya menganut model pembelajaran Learning by Enterprising.
Berbeda dengan pendidikan kewirausahaan konvensional, mahasiswa di sini ditempa melalui proses bisnis nyata sejak awal perkuliahan.
Salah satu program unggulannya adalah Community Development (Comdev). Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi diterjunkan langsung ke komunitas pelaku usaha kecil (UKM) untuk
bertindak sebagai energizer dan builder. Mereka ditantang untuk memperbaiki sumber nafkah komunitas tersebut, menggali potensi daerah, hingga mendatangkan pasar melalui berbagai ajang kreatif.
“Sebagai akademisi kita harus membumi. Di Comdev, kami belajar meningkatkan self-humanity dan bekerja sama lintas bidang untuk mengembangkan bisnis yang nyata bagi masyarakat,”
kenang Egar Takbira, wisudawan peraih The Best Contributor in Community Development.

Penerapan Triple Bottomline: Profit, People, Planet
Universitas Prasetiya Mulya berkomitmen melahirkan lulusan yang menjunjung tinggi asas Triple Bottomline.
Bagi kampus ini, keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari angka keuntungan (profit), tetapi juga dampak positif bagi manusia (people) dan kelestarian lingkungan (planet).
Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi, Prof. Agus W. Soehadi, menyatakan bahwa inovasi dan kreativitas mahasiswa harus memiliki dimensi kemanusiaan yang utuh.
Filosofi ini diamini oleh para wisudawan yang kini dibekali kemampuan untuk menjadi pengusaha yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga etis dan berintegritas.
Jaminan Keterserapan Kerja Melalui Direct Hired
Selain mencetak wirausaha, Prasetiya Mulya juga memastikan lulusannya memiliki daya saing tinggi di pasar tenaga kerja profesional.
Melalui kerja sama erat dengan raksasa industri seperti Adaro Power, Dynapack Indonesia, dan Medco Foundation, mahasiswa mendapatkan akses magang (internship) dan studi kasus nyata.
Data internal menunjukkan efektivitas program ini sangat tinggi:
- Sekitar 50% mahasiswa yang menjalani program magang langsung mendapatkan tawaran kerja (direct hired) sebelum mereka resmi wisuda.
- Sisanya berhasil menembus perusahaan multinasional bergengsi seperti Boston Consulting Group (BCG) atau sukses membangun startup mandiri.

Menyongsong Masa Depan dengan STEM Berbasis Bisnis
Menghadapi era transformasi digital, Prasetiya Mulya kini melebarkan sayap ke bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Dekan STEM Prasetiya Mulya, Prof. Janson Naiborhu, menjelaskan bahwa fakultas ini akan mengintegrasikan keahlian teknis dengan perspektif bisnis.
Hal ini bertujuan agar para teknokrat masa depan Indonesia mampu mengubah penemuan ilmiah menjadi produk komersial yang produktif dan efisien.
Dengan pengalaman lebih dari 35 tahun dan jaringan lebih dari 6.000 alumni, Universitas Prasetiya Mulya terus melangkah maju sebagai
ekosistem pendidikan yang tidak hanya memberikan gelar, tetapi juga membentuk masa depan Indonesia yang lebih cerdas dan berdikari.