BANDUNG, 27 Januari 2026 – Sebuah tonggak sejarah baru saja ditancapkan di jantung Kota Kembang.
Biara dan Kampus Santa Angela Bandung resmi merayakan 120 tahun dedikasinya dalam karya pelayanan pendidikan.
Perayaan satu abad lebih ini bukan sekadar seremoni angka, melainkan wujud keteguhan komitmen pendidikan Ursulin
dalam mencetak generasi yang cerdas, humanis, dan berjiwa pelayan (Serviam) lintas zaman.
Rangkaian acara bertajuk Gebyar Santa Angela ini mencapai puncaknya melalui pementasan drama musikal kolosal yang menyatukan seluruh elemen komunitas sekolah.

“Titik Balik”: Simfoni Holistik 899 Siswa
Puncak perayaan yang digelar di Auditorium Universitas Katolik Parahyangan, Sabtu (24/1), menghadirkan drama musikal bertajuk “Titik Balik”.
Pertunjukan ini merupakan karya orisinal berbasis ide cerita Suster Kristofora Nou, OSU, yang divisualisasikan secara apik oleh sutradara Stephanus Yogi Pranata.
Tidak kurang dari 899 peserta didik dari jenjang TK hingga SMA terlibat aktif di atas panggung. Keterlibatan lintas usia ini menjadi representasi nyata dari metode pendidikan holistik di Santa Angela.
Di bawah lampu panggung, sekat antara jenjang sekolah melebur menjadi satu keluarga besar yang harmonis.
“Proses latihan ini adalah ruang pembelajaran yang hidup. Anak-anak belajar disiplin, tanggung jawab, dan empati. Di sini, Santa Angela Merici bukan sekadar nama, melainkan roh yang menggerakkan mereka untuk bertumbuh bersama,” ungkap Suster Kristofora Nou, OSU.

Apresiasi dari Balai Kota hingga Masyarakat Luas
Kehadiran Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam acara tersebut memberikan pengakuan atas kontribusi besar Santa Angela terhadap wajah pendidikan di Bandung.
Kontribusi Santa Angela selama 12 dekade telah ikut membentuk karakter warga Bandung melalui nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian lingkungan yang kuat.
Ketua Panitia, Aline Erline, S.Pd., menekankan bahwa pesan moral dari drama musikal ini—yakni kepedulian terhadap alam—telah diimplementasikan
secara nyata melalui aksi penanaman pohon di Desa Adat Cireundeu dan Mandalamekar, serta Seminar Merawat Bumi yang melibatkan berbagai komunitas.
Relevansi Tradisi Ursulin di Era Digital
Memasuki dekade ke-13, tantangan pendidikan Santa Angela kian berkembang seiring disrupsi teknologi.
Namun, kekuatan sekolah Ursulin terletak pada kemampuannya menjaga “akar” tradisi yang telah hidup sejak abad ke-15, sembari tetap terbuka pada “pucuk” perubahan zaman.
Integrasi teknologi dalam pembelajaran, yang ditampilkan melalui kompetisi ICT dan Riset pada ajang Angela Cup, membuktikan bahwa Santa Angela tetap relevan bagi Generasi Alpha.
Pendidikan di Santa Angela tidak hanya fokus pada kecerdasan kognitif, tetapi juga pada pembentukan integritas yang kokoh.
Di tengah tantangan krisis iklim dan kemanusiaan global, semangat Serviam (Saya Melayani) yang diajarkan sejak bangku TK menjadi bekal utama lulusannya untuk menjadi pemimpin yang membawa solusi bagi dunia.

Misa Syukur: Menghidupi Semangat yang Tak Pernah Padam
Sebagai penutup rangkaian perayaan, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, memimpin Misa Syukur pada Selasa (27/1).
Dalam suasana doa yang khidmat, perjalanan panjang para suster Ursulin di Bandung sejak tahun 1906 dikenang sebagai karya kasih Tuhan yang luar biasa.
Suster Korina Ngoe, OSU, selaku Ketua II Yayasan Widya Bhakti, menegaskan bahwa 120 tahun adalah awal dari babak baru.
“Kami berkomitmen untuk terus menjadi terang bagi dunia pendidikan di Indonesia. Berakar pada tradisi, namun selalu dinamis dalam menyongsong masa depan,” tandasnya.