Oleh: Dahlan Iskan
Dokter hebat punya mimpi besar: memiliki alat medis paling canggih di bidangnya. Misalnya, dr. Brahmana mendambakan robot operasi, sementara Dr. Fransiscus ingin USG edisi terbaru. Mimpi-mimpi ini sulit diraih, apalagi dipahami, kecuali oleh dokter sukses yang jadi pengusaha rumah sakit.
Dr. Amang dan RS Waron: Lebih dari Sekadar Alat Canggih

Contoh nyata adalah Dr. Amang Surya Proyanto, ahli kandungan dan bayi tabung. Ia tak lagi puas dengan alat hebat; mimpinya lebih tinggi—membangun rumah sakit paling hebat. Mimpi serupa dimiliki dr. Purwati di bidang stem cell, yang baru mendirikan RS Toto Tentrem di Tebet, Jakarta, dekat Patung Pancoran.
Amang memilih konsep rumah sakit butik pertama di Surabaya—kecil tapi mewah, seperti hotel butik. RS Waron punya 102 kamar dalam gedung 15 lantai (minus angka 4, 13, dan 14 di lift, jadi efektif 13 lantai plus basement). Video viral baru-baru ini menyoroti helipad di atapnya, lokasi di Surabaya Timur, Jalan Kali Waron—dekat perumahan elit Kertajaya Indah dan Dharmahusada Indah.
“Waron? Cara ejaannya biasa saja, seperti ucapan Jawa,” jawab Amang saat ditanya. Nama itu dari lokasi: Jalan Kali Waron, selatan sungai. “Untung bukan di utara, kalau tidak namanya RS Kepiting,” candanya.
Tiga Pilar Kesuksesan: Dokter, Alat, dan Tim

Hebatnya, mimpi Amang menyatukan tiga elemen: dokter top, alat terbaik, dan sistem tim solid—yang masih langka di Indonesia. Dokter kita tak kalah hebat secara individu atau alat (bisa dibeli kalau mampu), tapi ego personal sering jadi hambatan khas profesi otonom.

Di RS Waron, hanya dokter yang sevisi dengan Amang yang direkrut sebagai partner, bukan karyawan. Ia sudah dapat empat dokter jagoan (rencana 11), masing-masing bentuk PT sendiri dengan Amang pegang saham. Mereka boleh bawa merek sendiri:
- Lantai 7: The Cell (Prof. Dr. Brahmana + Amang) – Spesialis onkologi kandungan, seperti RS kanker mini.
- Falma (Dr. Fransiscus Hari Prasetyadi SpOG + Amang) – Fokus kehamilan, seperti RS obgyn satu lantai.
- Asha (Haji Ali + Amang) – Bayi tabung.
Perusahaan ini sewa ruang di RS Waron milik Amang dan istri (dokter forensik asal Lampung-Minang). Fasilitas ditangani RS pusat.
Dari Kemiskinan ke Visi Besar
Latar belakang Amang inspiratif: anak keenam sopir di Jember, yatim piatu sejak usia 2,5 tahun. Kuliah di Unair Surabaya (sekamar dengan Prof. Dr. Dwikora, ahli ortopedi), spesialis kandungan dari Unsri Palembang, S3 Unair, dan pelatihan bayi tabung internasional.
“Dulu saya lulus dokter lewat ujian ulang, makanya daftar Unsri—kalau Unair pasti ditolak,” gurau Amang. Dr. Gregorius Agung Himawan (lulusan terbaik Unair se-Indonesia) bilang, “Justru kami yang terbaik sekarang ditolong Amang.”
Dendam kemiskinan dan profesi mendorongnya rekrut lulusan top (bukan yang ujian ulang). Alatnya? Robot EDGE buat Brahmana (pertama di Surabaya, training di Beijing—kualitas setara AS, harga sepertiga). Untuk Fransiscus: USG GE Voluson Expert 22 BT25 edisi terbaru. Plus robot farmasi, pelayanan, NICU 16 tempat, penthouse VVIP (termasuk rooming-in bayi), dan helipad.
RS Waron di Jalan Kali Waron jadi model baru dokter Indonesia berbisnis: kolaboratif, inovatif, butik. (Dahlan Iskan)