Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use

Transformasi Komunikasi Kebijakan: Bappenas Gandeng Kompas Institute Pertajam Kemampuan Menulis Naratif

Peserta pelatihan Menulis Naratif Kompas Institute-SKALA-Kementerian PPN/Bappenas memindai kode QR untuk pengumpulan tugas praktik menulis. DOK CM KOMPAS/ASEP SUJANA

BOGOR – Dalam upaya menjembatani celah antara data kebijakan yang kompleks dengan pemahaman publik,

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menggelar Pelatihan Menulis Naratif yang intensif.

Bekerja sama dengan Kompas Institute dan didukung oleh Program SKALA (Kemitraan Australia-Indonesia),

kegiatan ini berlangsung di Jambuluwuk Convention Hall & Resort, Puncak, Bogor, pada Senin (20/5/2024).

Pelatihan ini diikuti oleh 110 peserta dari Kedeputian Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas.

Fokus utamanya adalah membekali para perencana dan aparatur sipil negara (ASN) dengan

keterampilan “bercerita” agar pesan kunci kebijakan pemerintah dapat diterima masyarakat dengan lebih efektif dan humanis.

Mengubah Data Menjadi Cerita yang Berdaya

Sesi pertama dibuka dengan materi “Bahasa dan Kalimat Efektif” yang dibawakan

oleh duo Penyelaras Bahasa Harian Kompas, Retmawati dan Lucia Dwi Puspita Sari.

Di sini, peserta diajak membedah diksi dan struktur kalimat yang sering kali terjebak dalam bahasa birokrasi yang kaku.

“Pelatihan ini sangat membantu pekerjaan lapangan. Saya baru menyadari banyak istilah yang selama ini dianggap benar ternyata kurang tepat secara kaidah. Pemahaman saya terhadap kalimat efektif kini jauh lebih mendalam,” ungkap Anoraga Ilafi Perdana, staf Direktorat Ketenagakerjaan Bappenas.

Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi mengenai teknik “Piramida Terbalik” dan formula 5W+1H yang dipandu oleh wartawan senior Kompas, Sekar Gandhawangi dan Melati Mewangi.

Baca Juga :  Mahakarya Jakarta Kota Global: Jejak Transformasi Heru Budi Menuju Metropol Inklusif dan Cerdas

Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi langsung mempraktikkan cara memilah informasi krusial menjadi sebuah draf tulisan yang ringkas namun padat makna.

Metode Interaktif dan Evaluasi Langsung

Uniknya, pelatihan ini menggunakan metode learning by doing. Setelah menyerap materi teknik naratif lanjutan di sesi siang,

para peserta ditantang untuk menyusun tulisan naratif dalam waktu singkat.

Hasil karya mereka kemudian dipresentasikan dan dievaluasi bersama, menciptakan ruang diskusi dua arah yang dinamis.

Retmawati memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas intelektual para peserta.

“Mereka sangat kritis, terutama saat menghubungkan teori dengan kebutuhan penulisan laporan resmi maupun artikel populer. Beberapa bahkan meminta waktu tambahan karena ingin menghasilkan tulisan yang benar-benar berkualitas,” jelasnya.

Penyelaras Bahasa Kompas Retmawati membagikan pengalaman dan pengetahuannya sebagai ahli bahasa dalam sesi “Bahasa dan Kalimat Efektif dalam Menyampaikan Pesan”. DOK CM KOMPAS/ASEP SUJANA

Analisis: Urgensi Narasi dalam Perencanaan Nasional

Di era keberlimpahan informasi (information overload), kemampuan menulis naratif

bagi instansi pemerintah seperti Bappenas bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan sebuah kebutuhan strategis.

Data kependudukan dan ketenagakerjaan sering kali dianggap “kering” dan teknis oleh masyarakat umum.

Melalui pendekatan naratif, angka-angka statistik dapat diberi “nyawa” sehingga publik memahami urgensi dari setiap kebijakan yang diambil.

Komunikasi yang efektif adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik (public trust) dan memastikan dukungan masyarakat terhadap program pembangunan jangka panjang.

Visi Kolaborasi Berkelanjutan

Program SKALA terus berkomitmen mendukung Kementerian PPN/Bappenas dalam memperkuat komunikasi kebijakan publik.

Baca Juga :  Bentang Harapan JakASA: Momen Bersejarah Bersatunya Para Mantan Gubernur Jakarta di Balai Kota

Riski Raisa Putra, peserta lainnya, berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada satu kali pertemuan saja.

“Kami mengelola begitu banyak data setiap hari. Kami butuh mengubahnya menjadi konten yang menarik agar pesan pemerintah sampai ke publik. Harapannya, ada coaching reguler yang lebih intensif agar kolaborasi ini semakin produktif,” harap Riski.

Kegiatan ditutup dengan pemberian apresiasi kepada peserta terbaik, termasuk pembagian buku Salah Kaprah Berbahasa sebagai referensi mandiri.

Dengan kemampuan narasi yang terasah, diharapkan setiap kebijakan yang lahir dari Menteng 31 dapat tersampaikan dengan jernih dari hulu hingga ke hilir.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Wisata Air: Tulang Punggung Baru Pariwisata Berkelanjutan dan Berkualitas di Indonesia

Next Post

Investasi Masa Depan Nusantara: Summarecon Hadirkan Sekolah Islam Al Azhar Berkonsep Eco-Friendly di IKN