SURABAYA – Universitas Airlangga (Unair) memulai babak krusial dalam suksesi kepemimpinan melalui sesi Uji Masyarakat Kampus (UMK)
untuk pemilihan Rektor periode 2020–2025. Perhelatan yang berlangsung di Aula Garuda Mukti, Kampus C Unair ini menjadi panggung bagi para kandidat untuk membedah visi, misi, dan solusi konkret di hadapan seluruh sivitas akademika.
Ketua Senat Akademik, Prof. Djoko Santoso, menekankan bahwa UMK adalah instrumen keterbukaan informasi sekaligus bentuk pengawasan publik.
“Melalui uji publik ini, kita memastikan bahwa proses seleksi berjalan transparan demi melahirkan sosok pemimpin yang mampu membawa Unair melakukan lompatan besar di kancah internasional,” ujarnya.

Adu Visi: Dari Kemandirian Ekonomi hingga Inovasi Global
Tiga kandidat pertama yang tampil dalam sesi pembuka menunjukkan spektrum pemikiran yang luas untuk menjawab tantangan zaman:
- Dr. Muhammad Nafik (FEB): Mengusung tema revitalisasi peran Unair sebagai penyelesai masalah bangsa. Nafik menekankan pentingnya manajemen pembiayaan yang mandiri melalui penguatan inovasi dan kewirausahaan. Satu poin krusial yang ia tawarkan adalah fokus penuh Unair pada bidang life science sebagai keunggulan kompetitif di masa depan.
- Prof. Rahmi Jened (FH): Menitikberatkan pada pembangunan ekosistem inovasi yang berlandaskan hukum dan manajemen yang modern. Guru Besar Fakultas Hukum ini menekankan pentingnya regulasi yang mendukung riset agar diakui secara global, sembari tetap menjaga keberlanjutan program-program strategis yang telah diletakkan oleh kepemimpinan sebelumnya.
- Dr. Eridani (FST): Fokus pada peran sosial Unair dalam menuntaskan persoalan di Jawa Timur dan Indonesia. Ia juga menyoroti penataan program studi teknik yang lebih optimal serta integrasi antara publikasi riset, magang industri, dan pengabdian masyarakat sebagai satu kesatuan pembelajaran mahasiswa.
Navigasi Pendidikan di Era Disrupsi
Sesi UMK ini menjadi semakin relevan mengingat tantangan perguruan tinggi di era disrupsi digital yang kian kompleks. Siapa pun rektor yang terpilih nantinya akan dihadapkan pada mandat besar untuk membawa
Unair menembus jajaran Top 500 World University Rankings secara stabil. Hal ini menuntut kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga lincah (agile) dalam menjalin kolaborasi internasional.
Pemilihan rektor kali ini juga menjadi momentum bagi Unair untuk memperkuat hilirisasi riset.
Transformasi hasil penelitian dari laboratorium menuju produk nyata yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan industri menjadi salah satu indikator keberhasilan kepemimpinan universitas di masa mendatang.

Demokrasi Kampus sebagai Budaya Akademik
Kemeriahan UMK yang dihadiri oleh perwakilan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga alumni menunjukkan bahwa proses suksesi di Unair dijunjung sebagai pesta demokrasi intelektual.
Keterlibatan aktif mahasiswa dalam sesi tanya jawab memberikan warna tersendiri, memastikan bahwa suara generasi masa depan didengar dalam penentuan arah kebijakan kampus.
Ketua Pemilihan Calon Rektor, Prof. Suryanto, menyampaikan harapannya agar proses ini menghasilkan mufakat yang berkualitas.
“UMK adalah jembatan ide. Kita ingin masyarakat kampus mengenal lebih dekat siapa calon pemimpin mereka, bukan hanya dari profilnya, tapi dari ketajaman gagasannya,” tutupnya.