JAKARTA – Ekosistem seni rupa Jakarta kembali kedatangan energi baru melalui pameran kolektif bertajuk “AARO”. Pameran yang digagas oleh Atreyu Moniaga Project (AMP) ini menampilkan karya dari empat seniman muda berbakat: Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry. Bertempat di CAN’S Gallery, Jakarta Pusat, pameran ini berlangsung mulai 18 April hingga 11 Mei 2026.
Eksibisi ini bukan sekadar pameran biasa, melainkan puncak dari program inkubasi intensif selama 19 bulan yang dimulai sejak September 2024. Melalui bimbingan mentor utama Atreyu Moniaga, keempat seniman ini berhasil mengonversi refleksi personal mereka ke dalam lebih dari 40 karya lukisan yang memukau.
Filosofi AARO: Gunung yang Menjulang Kokoh

Nama “AARO” diambil dari inisial keempat seniman, namun di balik itu terdapat makna filosofis yang dalam. Dalam terminologi artistik mereka, AARO melambangkan sebuah gunung yang menjulang kokoh. Nama ini disematkan sebagai doa agar fondasi artistik para seniman muda ini tetap kuat dalam menghadapi dinamika industri seni rupa di masa depan.
Pameran ini menyoroti empat seri lukisan dengan karakter visual yang kontras namun tetap terikat pada benang merah pendewasaan:
- Ada Khansa (Seri ‘Sandbox’): Menampilkan 10 karya yang menggali pergumulan batin masa kecil dan memori yang membentuk identitas diri.
- Ansn Martin (Seri ‘WOY!’): Mengeksplorasi perubahan persepsi diri dan nilai-nilai hidup yang berevolusi seiring waktu.
- Red Maerra (Seri ‘ASLPLS’): Menyuguhkan 15 karya kritis tentang fenomena keterasingan (alienasi) manusia urban di tengah konektivitas digital yang semu.
- Oddyendry (Seri ‘Tungkal’): Sebuah proses napak tilas emosional ke kampung halaman dan penerimaan terhadap rekaman masa lalu.
Inkubasi Menyeluruh: Lebih dari Sekadar Melukis
Atreyu Moniaga Project menekankan bahwa menjadi seniman profesional membutuhkan pemahaman operasional yang menyeluruh. Selama program inkubasi ke-13 ini, para seniman tidak hanya mengasah teknis di atas kanvas, tetapi juga terjun langsung dalam manajemen pameran.
“Saya ingin mereka memahami bahwa dunia seni tidak selalu glamor. Ada sisi melelahkan seperti revisi, deadline, konflik tim, hingga penggalangan dana mandiri. Saya salut dengan komitmen AARO; mereka mendaki ‘gunung’ ini dengan kerja keras hingga hasilnya terlihat matang dan elegan,” ungkap Atreyu Moniaga.
Program ini juga menggandeng kolaborator profesional seperti Wilhemus Willy (Desain Grafis), Joshua Agustinus (Desain Pameran), dan Nin Djani (Penulis). Seluruh perjalanan inspiratif ini didokumentasikan dalam sebuah buku AARO yang dicetak secara terbatas.
Dukungan CAN’S Gallery untuk Talenta Muda

Sebagai mitra pendukung, CAN’S Gallery terus konsisten menyediakan ruang bagi bibit-bibit baru seni rupa Indonesia. Inge Santoso, Direktur CAN’S Gallery, menyatakan kebanggaannya terhadap hasil karya keempat seniman ini. Keterlibatan galeri bereputasi tinggi seperti CAN’S memberikan validasi penting bagi langkah awal karier profesional Ada Khansa dkk.
Pameran ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para seniman muda lainnya tentang pentingnya mengikuti proses inkubasi yang disiplin untuk menghasilkan karya yang tidak hanya estetik, tetapi juga memiliki kedalaman narasi yang kuat.