BANDUNG – Pemerintah Indonesia secara resmi membuka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2025 di Auditorium Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), ITB, Bandung. Mengangkat tema “Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi melalui Penguasaan Sains dan Teknologi”, forum ini menjadi tonggak sejarah dalam mempercepat transformasi ekonomi nasional yang berbasis inovasi.
KSTI 2025 merupakan kolaborasi strategis antara Kemdiktisaintek, LPDP, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai tuan rumah.
Dibuka oleh Presiden Prabowo: Fokus pada Transformasi Inklusif
Acara ini dibuka langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto yang menyampaikan keynote speech mengenai pentingnya industri nasional berbasis riset. Konvensi ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, termasuk:
- 350 Rektor perguruan tinggi seluruh Indonesia.
- 1.000 lebih peneliti terbaik nasional.
- 3.000 peserta yang terdiri dari teknokrat, CEO BUMN, pelaku industri, hingga diaspora.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan bahwa KSTI adalah ruang untuk menyatukan riset inovasi dengan arah kebijakan negara yang tegas.
8 Sektor Strategis Pendorong Ekonomi Nasional
KSTI 2025 merumuskan peta jalan (roadmap) riset dan industri yang berfokus pada delapan sektor krusial:
- Energi: Kemandirian energi berkelanjutan.
- Pertahanan: Penguatan kedaulatan melalui teknologi militer.
- Digitalisasi: Pengembangan AI dan industri Semikonduktor.
- Hilirisasi & Industrialisasi: Peningkatan nilai tambah komoditas.
- Kesehatan: Ketahanan alat kesehatan dan farmasi.
- Ketahanan Pangan: Teknologi pertanian modern.
- Kemaritiman: Optimalisasi potensi ekonomi biru.
- Material & Manufaktur Maju: Inovasi bahan baku industri masa depan.
Hilirisasi Nyata: Kerja Sama Investasi dan Kawasan Industri

Langkah konkret KSTI 2025 ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) lintas sektor:
- Sinergi Pemerintah & Pengusaha: Kerja sama antara Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Mendiktisaintek Brian Yuliarto, dan HKI Indonesia untuk mengintegrasikan investasi dengan kawasan industri berbasis sains.
- Hilirisasi Produk ITB: Rektor ITB Tatacipta Dirgantara meresmikan kerja sama dengan Pertamina dan PT Pindad untuk komersialisasi Bensin Sawit dan Katalis, sebagai solusi ketahanan energi nasional.
Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Dirjen Riset dan Pengembangan, Mohammad Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa hasil dari KSTI 2025 akan diintegrasikan dengan Kementerian Keuangan dan Kemenko Perekonomian. Tujuannya adalah memastikan setiap inovasi sains memiliki dukungan pendanaan dan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Melalui sinergi ini, Indonesia optimis mampu keluar dari middle income trap dan menjadi pemain utama dalam ekonomi pengetahuan global yang adil dan merata.