Di industri ritel, jumlah toko sering dianggap sebagai penentu utama kemenangan. Logikanya sederhana: semakin banyak cabang, semakin luas jangkauan, dan semakin banyak pembeli yang didapatkan. Namun, apakah ritel dengan toko terbanyak otomatis memegang strategi terbaik?
Per September 2026, jaringan MR.DIY di Indonesia sudah menembus 1.400 toko. Sementara itu, AZKO mencatatkan 277 toko setelah berekspansi hingga ke Baubau pada Agustus 2026. Secara jumlah, MR.DIY unggul lima kali lipat. Namun, di balik perbedaan angka tersebut, terdapat dua filosofi bisnis yang sangat bertolak belakang.
MR.DIY: Menang Lewat Jangkauan dan Replikasi Cepat (Reach)

MR.DIY tidak sekadar membuka toko, tetapi membangun model bisnis yang mudah ditiru dan diperbanyak dalam skala masif. Dengan rata-rata luas toko 1.000 m² dan menyediakan lebih dari 18.000 jenis produk, MR.DIY dirancang untuk tumbuh cepat.
Kunci keberhasilan mereka ada pada konsep standalone store (toko mandiri luar mall) yang mencapai 80% dari total gerai. Mereka tidak bergantung pada pengunjung pusat perbelanjaan. Model ini memudahkan MR.DIY masuk ke pemukiman padat hingga wilayah pelosok.
Hingga Agustus 2026, MR.DIY telah menjangkau 445 dari 514 kabupaten/kota di 37 provinsi Indonesia, termasuk daerah seperti Kabupaten Sorong Selatan dan Buton Tengah. Dengan target penambahan minimal 270 toko baru pada 2026, strategi MR.DIY sangat jelas: Hemat, Lengkap, dan Dekat. Mereka memangkas waktu tempuh konsumen agar bisa berbelanja kebutuhan kecil sehari-hari tanpa perlu pergi jauh.
AZKO: Menang Lewat Pengalaman dan Nilai Tambah (Depth)

Berbeda arah, AZKO tidak berniat mengejar jumlah toko dengan kecepatan yang sama. Dengan target 25–30 toko baru pada 2026—khususnya di kota lapis kedua dan ketiga—AZKO lebih memilih lokasi yang benar-benar memberikan nilai strategis.
AZKO mengubah toko fisik dari tempat transaksi menjadi pusat inspirasi (experience-driven retail). Format toko baru seperti di Tabanan (3 lantai, 1.880 m²) dan Pasuruan (1.722 m²) menggunakan zonasi idea spots. Bukan sekadar menata barang di rak, mereka memperlihatkan contoh penataan produk dalam konteks ruang nyata. Hal ini mendorong konsumen membeli lebih banyak barang dari rencana awal. Keunggulan utama AZKO meliputi.
- Merek Eksklusif (Home Brands): Kepemilikan merek internal seperti KRISBOW, KRIS, KLAZ, STORA, SOLEIL, dan OTTO KLASSE membuat produk mereka tidak mudah dibandingkan harganya dengan tempat lain.
- Integrasi Omnichannel: Toko fisik terhubung dengan aplikasi ruparupa melalui fitur Scan & Shop, sehingga toko berfungsi sebagai showroom sekaligus pusat pengalaman belanja.
- Peremajaan Toko: AZKO rutin memperbarui toko lama di lokasi strategis agar setiap meter persegi ruangan menghasilkan penjualan yang lebih tinggi.
Pergeseran Strategi Lokasi di Surabaya

Surabaya menjadi contoh nyata bagaimana strategi ini bekerja di lapangan. AZKO kini tidak lagi hanya berada di dalam mall, tetapi mulai merambah kawasan komersial dekat pemukiman.
Selain di Rungkut dan Margorejo, pembukaan toko baru AZKO di Jalan Tanjungsari Madya, Sukomanunggal pada 24 Agustus 2026 membuktikan bahwa AZKO mulai mendekati aktivitas harian masyarakat. Langkah selektif ini juga diterapkan di wilayah koridor berkembang seperti Pasuruan dan Tabanan.
Dua Model Bisnis yang Berbeda
- MR.DIY (Scale): Skala Besar – Banyak Toko – Jangkauan Luas – Dekat Pelanggan – Volume Transaksi Tinggi.
- AZKO (Value): Nilai Tambah – Lokasi Strategis – Toko Berbasis Pengalaman – Produk Eksklusif – Nilai Belanja Per Pelanggan Lebih Besar.
Keduanya terbukti tetap tumbuh pada semester I 2026. MR.DIY mencetak pertumbuhan pendapatan 25% YoY. Sementara PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (AHI – induk AZKO) membukukan penjualan bersih Rp4,5 triliun (+6,3% YoY) dan laba bersih Rp390,3 miliar (+33,3% YoY).
Perbandingan antara MR.DIY dan AZKO memberikan pelajaran berharga bagi siapa saja yang sedang mempelajari dunia bisnis.
- Sukses Tidak Harus Meniru Kompetitor: Anda tidak wajib mengikuti gaya bisnis pesaing. MR.DIY menang lewat perluasan cabang (scale), sedangkan AZKO menang lewat kualitas pengalaman (depth). Keduanya bisa sukses dengan jalannya masing-masing.
- Pahami Alasan Konsumen Datang: Bisnis yang kuat paham betul kebutuhan pelanggannya. MR.DIY tahu konsumennya mengejar kepraktisan dan harga murah. Sementara AZKO tahu konsumennya mencari inspirasi dan solusi rumah yang lengkap.
- Merek Sendiri Mencegah Perang Harga: Memiliki produk eksklusif (home brand) seperti AZKO membuat barang tidak mudah dibanding-bandingkan harganya di toko lain. Ini memberi ruang untuk mengambil margin keuntungan yang lebih sehat.
- Lokasi Harus Menyesuaikan Format Toko: MR.DIY menggunakan format toko mandiri agar mudah dibuka di mana saja. Di sisi lain, AZKO mulai berani keluar dari mall untuk mendekati konsumen secara langsung di jalan utama pemukiman.
- Setiap Strategi Punya Risiko Berbeda: Mengelola ribuan toko kecil (MR.DIY) membutuhkan kerumitan logistik dan rantai pasok yang tinggi. Sebaliknya, mengelola toko besar berbasis pengalaman (AZKO) membutuhkan modal awal dan biaya tempat yang lebih tinggi.
MR.DIY sedang membangun jaringan, sedangkan AZKO sedang membangun nilai. Yang satu mengejar seberapa luas mereka bisa hadir, sementara yang lain mengejar seberapa bernilai setiap kehadiran mereka.
Pertarungan ritel sebenarnya bukanlah tentang siapa yang memiliki toko paling banyak, melainkan siapa yang paling efektif mengubah kehadiran tokonya menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Dapatkan analisis tepercaya, studi kasus pemasaran, hingga insight ekonomi bisnis terkini hanya di komunikasibisnis.com. Pelajari bagaimana merek-merek besar memenangkan pasar dan terapkan strateginya untuk pertumbuhan bisnis Anda!