Penguatan sistem rantai dingin atau cold chain dinilai dapat membantu menjaga mutu hasil tangkapan sekaligus memperkuat posisi tawar nelayan dalam menghadapi perubahan harga ikan.
Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan mengatakan, rantai dingin yang terintegrasi dari titik pendaratan hingga distribusi dapat mengurangi risiko penurunan kualitas ikan. Dengan mutu yang lebih terjaga, hasil tangkapan memiliki peluang untuk dijual dengan harga yang lebih baik dan tidak terpaksa dilepas segera setelah nelayan kembali melaut.
“Keberadaan rantai dingin yang terintegrasi, mulai dari titik pendaratan hingga distribusi, berdampak pada terjaganya mutu ikan, stabilnya harga di tingkat nelayan, hingga terbentuknya cadangan pangan perikanan yang strategis bagi negara,” kata Dani kepada ANTARA di Jakarta, Senin, 28 September 2026.antaranews
Masalah Harga di Tingkat Nelayan

Nelayan skala kecil sering menghadapi tekanan untuk menjual hasil tangkapan secepat mungkin. Keterbatasan tempat penyimpanan membuat ikan harus segera dipasarkan, meskipun harga sedang rendah atau permintaan belum optimal.
Situasi tersebut dapat mengurangi daya tawar nelayan terhadap pedagang pengumpul. Ketika hasil tangkapan tidak dapat disimpan dalam kondisi yang baik, nelayan memiliki ruang yang lebih sempit untuk menunggu harga yang lebih menguntungkan atau mencari pembeli dari pasar yang lebih luas.
Sistem rantai dingin dapat membantu mengurangi tekanan tersebut dengan menjaga suhu ikan sejak setelah ditangkap, saat didaratkan, selama penyimpanan, hingga proses pengiriman. Infrastruktur ini bukan hanya berupa gudang beku, tetapi juga mencakup es, cool box, kendaraan berpendingin, listrik, bahan bakar, serta fasilitas pelabuhan.
Kapasitas Belum Merata

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dikutip KNTI, Indonesia memiliki 2.287 unit cold storage dengan kapasitas total sekitar 899.178 ton.
Namun, jumlah kapasitas nasional belum otomatis menunjukkan bahwa nelayan di seluruh daerah telah memperoleh akses yang memadai. KKP mencatat kapasitas cold storage sekitar 895.931,1 ton dalam basis data Market Intelligence, sehingga terdapat perbedaan angka berdasarkan waktu pemutakhiran dan cakupan pendataan.kkp.go
Sebagian fasilitas masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara itu, wilayah Sumatera dan kawasan timur Indonesia yang menjadi sentra perikanan tangkap masih menghadapi keterbatasan infrastruktur rantai dingin.
Kesenjangan tersebut membuat fasilitas yang tersedia belum sepenuhnya menjawab kebutuhan nelayan kecil. Keberadaan cold storage di pelabuhan perikanan juga tidak otomatis dapat dimanfaatkan oleh seluruh nelayan, terutama jika lokasi, biaya, kapasitas layanan, atau persyaratan penggunaannya tidak sesuai dengan kondisi mereka.
Nelayan Kecil Perlu Akses Langsung
Dani menilai pembangunan rantai dingin harus memperhatikan akses nelayan terhadap keseluruhan ekosistem, bukan hanya mengejar penambahan kapasitas penyimpanan.
Sebagian nelayan kecil tidak mendaratkan ikan di pelabuhan berskala besar. Karena itu, fasilitas yang berada di pelabuhan utama berpotensi lebih banyak digunakan oleh kapal besar, industri pengolahan, pedagang, atau pengumpul dengan kemampuan usaha yang lebih besar.
“Masalah terbesar yang dihadapi nelayan kecil adalah infrastruktur rantai dingin itu sendiri, baik ketersediaan maupun keterjangkauannya. Pembangunan infrastruktur ini pun tidak dapat berdiri sendiri,” ujar Dani.antaranews
Ia menambahkan, rantai dingin perlu didukung oleh pasokan listrik dan energi, bahan bakar, serta pelabuhan perikanan yang memadai. Tanpa dukungan tersebut, fasilitas penyimpanan dapat mengalami kendala operasional dan tidak memberikan manfaat maksimal.
Rantai Dingin Harus Terintegrasi
Sistem rantai dingin yang efektif dimulai dari penanganan ikan setelah penangkapan. Ikan perlu segera didinginkan menggunakan es atau fasilitas pendingin yang sesuai agar kualitas dan masa simpannya tetap terjaga.
Proses berikutnya mencakup pendaratan, pemindahan, penyimpanan, pengangkutan, hingga distribusi kepada konsumen atau industri pengolahan. Setiap tahapan harus berjalan dengan standar yang konsisten agar mutu ikan tidak menurun.
KKP menyebut fasilitas rantai dingin yang dibutuhkan nelayan dapat mencakup cold storage portabel, pabrik es, kendaraan berpendingin, dan cool box. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk menjaga mutu hasil tangkapan sejak setelah panen hingga sampai ke konsumen.kkp
Ketersediaan es menjadi salah satu faktor penting, terutama di wilayah pesisir yang belum memiliki pasokan energi dan fasilitas pendinginan yang stabil. Tanpa produksi es yang memadai, nelayan tetap akan kesulitan mempertahankan mutu ikan meskipun terdapat gudang beku di wilayah yang sama.
Koperasi Bisa Perkuat Pengelolaan
Kelembagaan ekonomi nelayan, termasuk koperasi, juga dinilai berperan dalam memastikan fasilitas rantai dingin dapat digunakan secara optimal.
Koperasi dapat membantu mengatur jadwal penggunaan fasilitas, pembelian es, pengelolaan transportasi, pencatatan stok, hingga pemasaran bersama. Dengan pengelolaan kolektif, biaya operasional dapat dibagi dan nelayan memiliki posisi tawar yang lebih kuat.
Model tersebut juga dapat membantu nelayan memperoleh akses terhadap pasar yang lebih luas. Ikan yang telah ditangani dan disimpan sesuai standar dapat dipasarkan kepada pembeli yang membutuhkan kualitas tertentu, termasuk industri pengolahan dan pasar ekspor.
Namun, koperasi perlu didukung dengan tata kelola yang transparan, kemampuan manajemen, akses pembiayaan, serta sistem pencatatan yang baik. Pembangunan fasilitas fisik tanpa pengelolaan yang profesional berisiko membuat infrastruktur tidak digunakan secara berkelanjutan.
Menopang Stabilitas Pasokan
Selain menjaga pendapatan nelayan, cold chain dapat berfungsi sebagai penyangga pasokan ikan. KKP menyebut cold storage dapat digunakan untuk menyimpan kelebihan produksi dan mengeluarkannya kembali saat pasokan di pasar berkurang.kkp.go
Fungsi tersebut dapat membantu mengurangi gejolak pasokan yang berpotensi memengaruhi harga. Ketika ikan tidak harus langsung dijual dalam jumlah besar setelah musim tangkap, distribusi dapat dilakukan secara lebih bertahap sesuai kebutuhan pasar.
Sistem ini juga berpotensi mendukung cadangan pangan perikanan nasional. Dengan penyimpanan yang tepat, produk perikanan dapat tersedia lebih konsisten di berbagai wilayah, terutama ketika terjadi gangguan cuaca, kendala distribusi, atau perubahan permintaan.
Dorong Hilirisasi Perikanan
Dani menilai penguatan rantai dingin perlu berjalan bersamaan dengan hilirisasi, standardisasi mutu, dan dukungan terhadap biaya logistik.
Ikan dengan kualitas yang terjaga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti fillet, ikan beku, produk siap masak, makanan kaleng, atau bahan baku industri. Pengolahan tersebut dapat memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapan.
Hilirisasi juga membuka peluang kerja di wilayah pesisir. Kegiatan tersebut dapat mencakup pengolahan, pengemasan, penyimpanan, transportasi, pemasaran, dan layanan pendukung lainnya.
Namun, pengembangan industri pengolahan tetap harus mempertimbangkan kepentingan nelayan kecil. Akses bahan baku, harga pembelian, transparansi rantai pasok, dan pembagian manfaat ekonomi perlu diatur agar peningkatan nilai tambah tidak hanya dinikmati oleh pelaku usaha di hilir.
Daya Saing Produksi Perikanan
Penguatan infrastruktur rantai dingin menjadi semakin penting karena produksi perikanan Indonesia disebut mencapai 12,66 juta ton. Mutu, efisiensi distribusi, dan kemampuan memenuhi standar pasar akan menentukan daya saing produk perikanan nasional.antaranews
Untuk memperkuat daya saing tersebut, pemerintah dan pelaku industri perlu membangun sistem yang saling terhubung. Infrastruktur pendingin harus ditempatkan dekat dengan sentra produksi, biaya layanan perlu terjangkau, dan akses pasar harus tersedia setelah ikan disimpan.
Dengan demikian, pembangunan cold chain tidak berhenti pada penyediaan gudang. Sistem tersebut harus menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan nelayan, pelabuhan, koperasi, pengolah, distributor, pedagang, dan konsumen.
Arah Pengembangan ke Depan
Rantai dingin yang terintegrasi dapat memberikan manfaat besar bagi nelayan dan konsumen, tetapi pelaksanaannya membutuhkan perencanaan yang sesuai dengan kondisi daerah.
Pemerintah perlu memetakan sentra produksi, memperluas fasilitas ke wilayah yang belum terlayani, dan memastikan pasokan energi tersedia. Pada saat yang sama, nelayan perlu memperoleh pelatihan penanganan ikan, dukungan pembiayaan, serta akses terhadap kelembagaan ekonomi.
Jika seluruh komponen tersebut berjalan bersama, cold chain dapat membantu menjaga mutu ikan, mengurangi kerugian pascapanen, meningkatkan posisi tawar nelayan, menstabilkan pasokan, dan memperluas nilai ekonomi sektor perikanan bagi masyarakat pesisir.
Baca berita terbaru mengenai bisnis, ekonomi, perikanan, pangan, logistik, dan perkembangan industri lainnya di komunikasibisnis.com. Untuk mendapatkan berita dan insight terbaru seputar dunia bisnis, kunjungi Instagram @komunikasibisniscom.
Sumber dan Referensi
- ANTARA News. “KNTI Sebut Cold Chain Bisa Bantu Stabilkan Harga Ikan Nelayan.” 28 September 2026.
- Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. “Stok dan Harga Ikan Selama Ramadan 1447 H.” 20 Februari 2026.
- Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. “KKP Pastikan Bisnis Rantai Dingin di Lokasi KNMP Dikelola Profesional.” 7 Februari 2026.
- KKP Market Intelligence. “Data Cold Storage Indonesia.”
- Sistem Informasi Pengelolaan Cold Storage KKP. “Informasi dan Pengelolaan Cold Storage.”