Advertisement
Dark Mode Light Mode

PERKEDWI Sumsel Dorong Medical Tourism: RSMH dan Siti Fatimah Jadi Pilar Wisata Kesehatan Palembang

Pengurus Cabang Perkumpulan Kedokteran Wisata Indonesia (PERKEDWI) Sumatera Selatan periode 2026–2029 resmi dilantik di Atrium PS Mall Palembang, Kamis sore 24 Sept 2026 Pengurus Cabang Perkumpulan Kedokteran Wisata Indonesia (PERKEDWI) Sumatera Selatan periode 2026–2029 resmi dilantik di Atrium PS Mall Palembang, Kamis sore 24 Sept 2026
Pengurus Cabang Perkumpulan Kedokteran Wisata Indonesia (PERKEDWI) Sumatera Selatan periode 2026–2029 resmi dilantik di Atrium PS Mall Palembang, Kamis sore 24 Sept 2026

RSMH dan RSUD Siti Fatimah disiapkan sebagai rumah sakit rujukan wisata kesehatan di Palembang. Pengurus Cabang Perkumpulan Kedokteran Wisata Indonesia (PERKEDWI) Sumatera Selatan periode 2026–2029 resmi dilantik di Atrium PS Mall Palembang, Kamis sore (24/9/2026).

Organisasi ini menargetkan Sumatera Selatan menjadi salah satu destinasi medical tourism atau wisata kesehatan di Indonesia. Target tersebut akan dicapai melalui kolaborasi antara sektor kesehatan dan pariwisata

Ketua PERKEDWI Sumsel, Dr dr Mgs M Hakim MKes, menyebut konsep wisata kesehatan menawarkan pilihan kepada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan medis sekaligus menikmati destinasi wisata di wilayah tersebut. “Berobat sekaligus berwisata, ada pilihannya. Kita ingin masyarakat mengetahui bahwa Sumsel juga memiliki potensi sebagai tujuan wisata kesehatan,” ujarnya dalam acara pelantikan.

Struktur Kepengurusan dan Fokus Organisasi

Kepengurusan PERKEDWI Sumsel beranggotakan sekitar 30 orang. Dr dr Mgs M Hakim MKes menjabat sebagai ketua, sedangkan dr Haykal Mubarak menjadi sekretaris. Struktur ini dirancang untuk mengoordinasikan pengembangan wisata kesehatan. Organisasi juga bertugas meningkatkan kompetensi anggota. Selain itu, PERKEDWI Sumsel akan mempromosikan potensi layanan medis Sumsel ke pasar domestik dan internasional.

PERKEDWI Sumsel juga berencana mengikuti expo di Singapura untuk memperkenalkan potensi pelayanan kesehatan Palembang kepada calon wisatawan medis dari luar daerah maupun luar negeri. Langkah tersebut sejalan dengan upaya membangun citra Sumsel sebagai destinasi kesehatan yang kompetitif di tingkat regional.

Advertisement

Rumah Sakit Rujukan: RSMH dan RSUD Siti Fatimah

Dalam pengembangan medical tourism, PERKEDWI Sumsel menyebut dua rumah sakit sebagai pilar utama. RSUP Mohammad Hoesin (RSMH) dan RSUD Siti Fatimah. Kedua rumah sakit tersebut dinilai memiliki fasilitas dan tenaga medis yang dapat mendukung layanan bagi pasien domestik maupun wisatawan medis.

Baca Juga :  Mengapa Loneliness Menjadi Ancaman Baru bagi Kesehatan?

RSUD Siti Fatimah telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan sebagai rumah sakit yang layak menyelenggarakan wisata medis. Rumah sakit ini memiliki layanan unggulan di bidang kardiovaskular, ortopedi dan sport injury, serta medical check-up terpadu. Penetapan ini menjadi landasan bagi Sumsel untuk mengajukan rumah sakit wisata medis lainnya seiring pematangan program.

Rumah sakitPeran dalam health tourism
RSUP Mohammad Hoesin (RSMH)Rumah sakit rujukan regional dengan berbagai layanan spesialis
RSUD Siti FatimahRumah sakit wisata medis dengan layanan unggulan jantung, ortopedi, dan MCUs

Kolaborasi antara rumah sakit, biro perjalanan, hotel, dan destinasi wisata diharapkan dapat menciptakan paket medical tourism yang terintegrasi, mulai dari kedatangan, pelayanan medis, masa pemulihan, hingga aktivitas wisata bagi pasien dan pendamping.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pengalaman Pasien

Dr Mgs M Hakim menekankan bahwa pengembangan medical tourism tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan. Diperlukan kerja sama lintas sektor agar pasien memperoleh pengalaman yang nyaman sejak kedatangan, selama menjalani perawatan, hingga menikmati destinasi wisata setelah atau di sela-sela proses pengobatan.

Konsep yang dikembangkan mencakup pengarahan pasien yang datang ke Palembang untuk layanan kesehatan agar juga dapat menikmati berbagai destinasi wisata. Misalnya, wisata budaya dan sejarah seperti kawasan Pulau Kemaro, tradisi Cheng Beng, serta agenda budaya tertentu yang dapat menjadi bagian dari paket wisata kesehatan.

Pendekatan ini relevan karena wisatawan medis biasanya didampingi keluarga atau kerabat. Selama masa pemulihan atau jeda perawatan, pendamping memerlukan aktivitas wisata, akomodasi, kuliner, dan transportasi yang memadai. Karena itu, PERKEDWI Sumsel berupaya menjadi jembatan antara dunia kesehatan dan sektor pariwisata.

Baca Juga :  Halomedis Hadir sebagai Solusi Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan yang Customable dan Terintegrasi

Mengubah Kebiasaan Berobat ke Luar Negeri

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumsel, Prof dr M Irfanuddin SpKO, menyebut masih banyak masyarakat Sumsel yang memilih berobat ke luar negeri padahal sejumlah fasilitas kesehatan di Palembang telah didukung dokter spesialis dan fasilitas yang memadai. “Fasilitas kesehatan seperti RSMH dan RS Siti Fatimah memiliki tim dokter spesialis yang tidak kalah pintar dan canggih. Yang kita butuhkan adalah kepercayaan masyarakat,” katanya.

Menurut Irfanuddin, PERKEDWI dapat berperan strategis dalam memperkenalkan potensi Sumsel di bidang kesehatan melalui edukasi dan promosi. Upaya ini penting agar masyarakat mengetahui pilihan layanan kesehatan yang tersedia di daerah sendiri, sehingga tidak langsung memilih berobat ke luar negeri untuk layanan yang sebenarnya dapat diperoleh di dalam negeri.

Konteks nasional memperkuat urgensi ini. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat sekitar 1 juta orang Indonesia melakukan perjalanan medis ke luar negeri setiap tahun, dengan estimasi kehilangan devisa mencapai US$11,5 miliar. Pengembangan health tourism di dalam negeri dipandang sebagai strategi untuk menahan kebocoran devisa sekaligus memperkuat industri kesehatan dan pariwisata domestik.

PERKEDWI Pusat dan Ekspansi Cabang

Perwakilan PERKEDWI pusat, Dr Farid Nugroho, menyebut organisasi terus mengembangkan cabang di berbagai wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Yogyakarta, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan. Menurutnya, Sumsel memiliki sejarah, budaya, dan potensi wisata yang kuat sehingga berpeluang dikembangkan sebagai destinasi health tourism.rri.co+1

Ekspansi cabang PERKEDWI mencerminkan upaya membangun jaringan nasional yang dapat saling mendukung. Setiap daerah dapat mengembangkan keunggulan layanan medis tertentu, lalu dikombinasikan dengan destinasi wisata lokal untuk menciptakan paket medical tourism yang khas.

Baca Juga :  Ghanisa Prime x OXYZ Health Malaysia: Solusi Terdepan Regenerative Medicine & Medical Tourism Eksklusif

Peluang Pengembangan Medical Tourism Sumatera Selatan

Pengembangan medical tourism di Sumsel menghadapi beberapa tantangan:

  • Membangun kepercayaan pasar. Pasien perlu yakin bahwa layanan medis di Sumsel setara atau lebih baik dibandingkan opsi di luar negeri atau daerah lain.
  • Koordinasi lintas sektor. Kesehatan, pariwisata, transportasi, akomodasi, dan biro perjalanan harus terintegrasi agar pengalaman pasien mulus.
  • Standar layanan dan akreditasi. Rumah sakit wisata medis memerlukan standar yang jelas, transparansi informasi, dan mekanisme perlindungan pasien.
  • Pemasaran dan branding. Destinasi health tourism harus dapat menjangkau segmen yang tepat dan membangun narasi yang meyakinkan.

Di sisi lain, peluangnya juga besar. Sumsel memiliki rumah sakit rujukan regional, destinasi budaya dan sejarah yang kuat, serta akses transportasi udara yang memadai. Jika dikelola dengan baik, medical tourism dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisatawan, dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor kesehatan dan pariwisata.

Pelantikan PERKEDWI Sumsel periode 2026–2029 menjadi tonggak penting dalam upaya menjadikan Sumatera Selatan sebagai destinasi medical tourism di Indonesia. Dengan RSMH dan RSUD Siti Fatimah sebagai rumah sakit rujukan, kolaborasi lintas sektor, serta promosi ke pasar domestik dan internasional, Sumsel berpotensi menjadi rujukan wisata kesehatan di bagian selatan Pulau Sumatera.

Keberhasilan program ini akan bergantung pada kualitas layanan medis, pengalaman pasien dan pendamping, integrasi dengan sektor pariwisata, serta kemampuan membangun kepercayaan pasar. Jika dijalankan secara konsisten, medical tourism dapat menjadi pengungkit baru bagi ekonomi daerah sekaligus mengurangi kecenderungan masyarakat berobat ke luar negeri untuk layanan yang tersedia di dalam negeri.

Ikuti perkembangan wisata kesehatan, inovasi layanan medis, dan peluang industri pariwisata Indonesia hanya di komunikasibisnis.com.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Bulog Ubah Pola Pengelolaan Stok Beras SPHP dengan Formula Mixing 2:3:4

Next Post

Jatim Fest 2026: Layanan Publik, UMKM, dan QRIS Bertemu di Grand City Surabaya

Advertisement