Traveloka lahir dari masalah yang sangat personal. Ferry Unardi kesulitan mencari tiket pesawat saat ingin pulang ke Padang dari Amerika Serikat. Dari pengalaman itulah lahir gagasan membangun platform yang membuat perjalanan lebih mudah.
Bersama Derianto Kusuma dan Albert Zhang, Ferry mendirikan Traveloka pada 2012. Awalnya, Traveloka hanya berfungsi sebagai mesin pencari dan pembanding harga tiket pesawat. Kini, perusahaan telah menjadi salah satu pemain online travel agency terbesar di Asia Tenggara.
Latar Belakang Pendiri Traveloka

Ferry Unardi menempuh pendidikan Ilmu Komputer dan Matematika di Purdue University, Amerika Serikat. Setelah lulus, ia bekerja sebagai software engineer di Microsoft di Seattle selama sekitar tiga tahun.inet.
Ia kemudian melanjutkan studi MBA di Harvard Business School. Namun, hanya setelah satu semester, Ferry memutuskan berhenti kuliah untuk fokus membangun Traveloka.
Keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Ia meninggalkan jalur karier yang mapan di perusahaan teknologi besar dan kesempatan pendidikan bergengsi untuk menekuni bisnis yang masih berada di tahap awal.
Namun, pengalaman kerjanya di Silicon Valley memberi bekal penting. Ferry memahami teknologi, pengembangan produk, dan cara membangun layanan digital yang dapat digunakan dalam skala besar.
Masalah Nyata Menjadi Titik Awal Bisnis

Banyak bisnis besar dimulai dari masalah kecil yang dialami langsung oleh pendirinya. Dalam kasus Traveloka, masalah tersebut adalah kesulitan mencari dan memesan tiket pesawat.
Pada saat itu, informasi tiket tersebar di berbagai kanal. Konsumen perlu membandingkan harga, jadwal, dan rute secara manual sebelum melakukan pembelian.
Traveloka awalnya hadir sebagai mesin pencari tiket untuk menyederhanakan proses tersebut. Pengguna dapat melihat pilihan penerbangan dan membandingkan harga dalam satu platform.
Pendekatan ini sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia yang sensitif terhadap harga transportasi. Ferry sendiri menyatakan layanan Traveloka dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Pivot dari Pencari Tiket Menjadi Platform Pemesanan
Pada awalnya, Traveloka tidak langsung menjual tiket. Perusahaan berfokus membantu pengguna menemukan pilihan penerbangan dengan harga terbaik.
Namun, perilaku konsumen kemudian menunjukkan kebutuhan yang lebih besar. Pengguna tidak hanya ingin membandingkan harga, tetapi juga ingin memesan dan membayar tiket dalam satu tempat.
Traveloka kemudian melakukan pivot menjadi platform pemesanan tiket penuh pada 2013. Perubahan ini menjadi titik penting karena perusahaan mulai membangun hubungan langsung dengan konsumen dan maskapai penerbangan.
Pivot ini menunjukkan pentingnya mendengarkan perilaku pengguna. Produk yang baik tidak selalu berarti produk awal harus tetap sama. Bisnis perlu beradaptasi ketika kebutuhan pasar berkembang.
Ditolak Maskapai, Tetapi Terus Berkembang
Di awal berdiri, Traveloka menghadapi tantangan besar. Dengan tim yang masih kecil, perusahaan harus meyakinkan maskapai penerbangan untuk bekerja sama dalam model pemesanan tiket daring.
Industri penerbangan saat itu belum sepenuhnya percaya pada kanal digital. Banyak maskapai masih mengandalkan saluran distribusi konvensional dan agen perjalanan.
Namun, Traveloka terus membangun kredibilitas melalui teknologi, pengalaman pengguna, dan pertumbuhan permintaan konsumen. Seiring waktu, platform ini berkembang menjadi mitra penting bagi maskapai dan penyedia akomodasi.
Pada 2017, Traveloka telah menawarkan sekitar 100.000 akomodasi dan menjalin kemitraan dengan sekitar 100 maskapai penerbangan.
Pendanaan dan Status Unicorn
Traveloka memperoleh pendanaan awal dari East Ventures pada 2012. Pendanaan tersebut membantu perusahaan memperkuat pengembangan produk dan operasional awal
Pada 2013, Traveloka memperoleh pendanaan Seri A dari Global Founders Capital, perusahaan ventura yang berafiliasi dengan Rocket Internet.
Lonjakan besar terjadi pada 2017. Expedia berinvestasi US$350 juta dalam Traveloka. Investasi tersebut menempatkan valuasi Traveloka di atas US$1 miliar dan menjadikannya unicorn.
Pada periode yang sama, Traveloka juga memperoleh dukungan dari East Ventures, Hillhouse Capital, JD.com, dan Sequoia Capital. Total pendanaan yang dikumpulkan dalam satu tahun mencapai sekitar US$500 juta.
Ekspansi ke Asia Tenggara
Traveloka tidak berhenti di Indonesia. Perusahaan memperluas layanannya ke enam pasar utama Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Filipina
Ekspansi regional ini menunjukkan bahwa masalah yang dipecahkan Traveloka tidak hanya relevan di Indonesia. Konsumen di berbagai negara juga membutuhkan cara yang lebih mudah untuk mencari, memesan, dan mengelola perjalanan.
Dari tim awal yang kecil, Traveloka berkembang menjadi perusahaan teknologi perjalanan dengan ribuan karyawan serta portofolio layanan yang lebih luas, termasuk tiket pesawat, hotel, transportasi, hiburan, dan layanan keuangan terkait perjalanan.
Pelajaran dari Perjalanan Traveloka
Kisah Traveloka menunjukkan bahwa ide bisnis yang kuat sering lahir dari masalah nyata. Ferry Unardi tidak memulai Traveloka karena ingin mengejar tren, melainkan karena mengalami kesulitan yang juga dialami banyak orang.
Perjalanan perusahaan ini juga menunjukkan pentingnya adaptasi. Traveloka tidak berhenti sebagai mesin pencari tiket. Perusahaan mengubah model bisnisnya ketika melihat kebutuhan pengguna yang lebih besar.
Keberanian mengambil risiko juga menjadi bagian penting. Ferry meninggalkan Harvard untuk fokus pada peluang yang diyakininya. Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu titik penting dalam pertumbuhan Traveloka.
Bisnis besar sering dimulai dari masalah kecil yang dialami langsung oleh pendirinya. Ikuti kisah pendiri, startup, dan transformasi bisnis digital di Komunikasibisnis.com.