Harga kakao global diperkirakan tetap berada pada level tinggi hingga 2027 karena pasar masih menghadapi risiko defisit pasokan. Namun, kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya tercermin pada pendapatan petani kakao di Indonesia.
Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) Soetanto Abdullah mengatakan harga kakao global saat ini berada di kisaran US$5.600 per metrik ton. Angka tersebut masih jauh di bawah rekor lebih dari US$11.000 per ton pada awal 2024, tetapi tetap lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis komoditas tersebut.
“Pergerakan harga kakao sangat dinamis. Fluktuasi dipengaruhi oleh pasokan jangka pendek, kekhawatiran produksi, perubahan permintaan, serta kondisi cuaca di negara-negara produsen utama,” kata Soetanto kepada Bisnis, sebagaimana dikutip pada 30 September 2026.ekonomi.bisnis
Risiko Pasokan Menahan Harga

Tekanan pasokan menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga kakao. Pantai Gading dan Ghana sebagai produsen utama menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari cuaca kering, penyakit tanaman, usia perkebunan yang menua, hingga gangguan distribusi pupuk.
Di Pantai Gading, ancaman cuaca kering dapat menghambat perkembangan tanaman dan menurunkan produktivitas. Sementara itu, Ghana menghadapi dampak penyakit swollen shoot, penurunan kualitas tanaman, serta keterbatasan input pertanian.
Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks karena El Niño diperkirakan memengaruhi pola cuaca hingga awal 2027. Cuaca yang lebih panas dan kering di Afrika Barat dapat mengurangi kelembapan tanah dan menekan hasil panen kakao.fitchsolutions
Allianz Research menyebut Afrika Barat memasok sekitar 70 persen kakao dunia. Dengan kondisi produksi yang sudah menghadapi persoalan struktural, gangguan cuaca di kawasan tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap pasar global.allianz
Proyeksi Harga 2027
Sejumlah lembaga memperkirakan harga kakao tetap tinggi sepanjang 2027. Consensus Economics memproyeksikan harga rata-rata sekitar US$5.000 per ton, dengan kisaran antara US$4.300 dan US$6.000.
BMI Research memperkirakan harga rata-rata mencapai US$5.670 per ton dengan asumsi produksi Pantai Gading turun 17,5 persen dan Ghana turun 9,1 persen. Sementara itu, Citi dan J.P. Morgan memproyeksikan harga kakao dapat bertahan di sekitar US$6.000 per ton dalam 12 bulan ke depan.
Kurva harga ICE pada September 2026 bahkan mengindikasikan peluang kenaikan menuju sekitar US$6.200 per ton sepanjang 2027 apabila defisit pasokan mencapai 300.000–400.000 ton. Namun, proyeksi tersebut tetap bergantung pada cuaca, hasil panen, tingkat konsumsi, nilai tukar, serta aktivitas spekulasi di pasar berjangka.
Pergerakan harga juga tidak selalu bergerak satu arah. Pada 29 September 2026, harga kakao turun 4,2 persen ke sekitar US$5.354 per ton karena pasar memperhitungkan membaiknya pasokan jangka pendek dan meningkatnya persediaan global.tradingeconomics
Harga Ekspor Naik, Petani Belum Merasakan
Di Indonesia, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao periode September 2026 naik 4,07 persen menjadi US$5.271 per metrik ton. Kenaikan tersebut mengikuti peningkatan Harga Referensi (HR) biji kakao menjadi US$5.635,76 per metrik ton.antaranews
Namun, kenaikan harga acuan ekspor belum otomatis meningkatkan pendapatan petani. Soetanto mengatakan harga riil yang diterima petani, khususnya di Lampung, berada di kisaran Rp70.000–Rp80.000 per kilogram.
Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara harga komoditas di bursa global dan harga yang diterima produsen di tingkat kebun. Faktor yang memengaruhi perbedaan itu mencakup kualitas biji, kadar air, biaya pengumpulan, transportasi, margin pedagang, struktur pasar lokal, serta posisi tawar petani.
Harga global juga tidak langsung diterjemahkan menjadi harga pembelian di tingkat petani karena komoditas harus melewati beberapa tahap sebelum masuk pasar ekspor atau industri pengolahan.
Petani Menghadapi Masalah Produktivitas

Kenaikan harga global hanya akan memberikan manfaat maksimal apabila petani mampu menghasilkan biji kakao dalam jumlah dan kualitas yang lebih baik.
Dekaindo mendorong intensifikasi kebun melalui pemangkasan tanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, perbaikan irigasi, serta penanganan pascapanen.
Pemangkasan membantu menjaga produktivitas tanaman dan mengurangi bagian yang tidak produktif. Pemupukan yang tepat dapat mendukung pertumbuhan buah, sedangkan pengendalian penyakit diperlukan untuk mencegah penurunan hasil.
Tahap pascapanen juga menentukan nilai jual. Fermentasi, pengeringan, sortasi, dan penyimpanan yang dilakukan dengan benar dapat meningkatkan kualitas biji dan membuka peluang memperoleh harga yang lebih baik.
Perlu Dukungan Pemerintah
Pemerintah diharapkan memperkuat program penyuluhan dan pendampingan agar petani memiliki akses terhadap teknik budi daya serta informasi pasar. Dukungan tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika harga komoditas sedang meningkat.
Subsidi pupuk dan pestisida juga perlu disalurkan secara tepat sasaran. Selain itu, petani membutuhkan akses pembiayaan, bibit berkualitas, fasilitas pascapanen, serta informasi harga yang mudah diperoleh.
Perbaikan infrastruktur transportasi di sentra produksi menjadi faktor lain yang penting. Biaya logistik yang tinggi dapat mengurangi harga bersih yang diterima petani, terutama di daerah yang jauh dari pusat pengumpulan dan pelabuhan.
Kesenjangan Harga Terjadi Secara Global
Persoalan antara harga global dan pendapatan petani tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Pantai Gading, pemerintah mempertahankan harga farmgate pada level 1.200 CFA franc per kilogram, meskipun harga pasar dunia berada pada tingkat yang lebih tinggi.
Di Ghana, kenaikan harga produsen sebesar 2,4 persen pada musim 2026/2027 juga tergerus inflasi. Nilai riil yang diterima petani bahkan disebut turun 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa harga komoditas di pasar global tidak selalu langsung meningkatkan kesejahteraan petani. Struktur perdagangan, kebijakan harga domestik, biaya produksi, dan inflasi turut menentukan manfaat yang diterima produsen.
Peluang Hilirisasi Kakao
Harga tinggi dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri kakao nasional. Indonesia tidak hanya perlu meningkatkan produksi biji, tetapi juga mengembangkan pengolahan di dalam negeri.
Hilirisasi dapat dilakukan melalui produk seperti pasta kakao, bubuk kakao, lemak kakao, cokelat batangan, minuman cokelat, bahan baku industri makanan, serta produk premium berbasis kakao lokal.
Dengan pengolahan lebih lanjut, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berasal dari penjualan biji mentah. Peluang usaha juga dapat terbuka bagi koperasi, industri kecil dan menengah, produsen makanan, hingga pelaku ekspor.
Namun, pengembangan hilirisasi harus tetap melibatkan petani sebagai bagian penting dari rantai pasok. Peningkatan nilai tambah perlu diikuti mekanisme pembelian yang transparan agar manfaatnya dapat kembali ke sentra produksi.
Harga Tinggi Belum Cukup
Proyeksi harga kakao global yang tinggi hingga 2027 memberikan peluang bagi Indonesia, tetapi kenaikan harga tidak otomatis menyelesaikan persoalan petani.
Peningkatan pendapatan petani membutuhkan kombinasi antara produktivitas yang lebih baik, kualitas biji yang meningkat, informasi pasar, biaya logistik yang lebih rendah, penguatan kelembagaan, serta kebijakan harga yang berpihak pada produsen.
Tanpa perbaikan di tingkat kebun dan rantai pasok, petani tetap berisiko hanya menjadi pemasok bahan mentah dengan margin terbatas. Karena itu, momentum harga tinggi perlu dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi industri kakao dari hulu hingga hilir.
Baca berita dan analisis terbaru mengenai bisnis, komoditas, agribisnis, Food & Beverages, serta perkembangan industri lainnya di komunikasibisnis.com. Untuk mendapatkan berita dan insight terbaru seputar bisnis, ikuti Instagram @komunikasibisniscom.
Sumber dan Referensi
- Bisnis.com. “Harga Kakao Global Meroket, Petani Lokal Masih Gigit Jari.” 30 September 2026.
- ANTARA News. “Kemendag: Harga Biji Kakao Naik akibat Cuaca Buruk dan Serangan Hama.” 1 September 2026.
- DDTCNews. “Harga Referensi Naik, Tarif Bea Keluar CPO…” 2 September 2026.
- Fitch Solutions BMI. “El Niño Threatens Cocoa Output in West Africa.” 15 Juni 2026.
- Allianz Research. “Super El Niño Risk: More Inflation in Asia, Oversupply in…” Juli 2026.
- StoneX. “Cocoa Storm Gathers as Two Crops and El Niño Line Up Against Supply.” 10 Agustus 2026.
- Trading Economics. “Cocoa – Price, Chart, Historical Data, News.”