Belanja kebutuhan sehari-hari melalui e-commerce semakin diminati konsumen Indonesia. Kategori Food & Beverages atau F&B kini menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan pasar fast-moving consumer goods (FMCG) online, dengan nilai transaksi mencapai Rp20,6 triliun pada semester I 2026.
Berdasarkan Indonesian FMCG E-commerce Report H1 2026 yang dirilis Compas.co.id, transaksi F&B meningkat 52,1 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pada saat yang sama, volume penjualan tumbuh 33 persen.compas.co
Pertumbuhan tersebut membuat F&B menjadi kategori dengan perkembangan paling cepat di antara sejumlah kelompok FMCG yang dipantau dalam laporan. Kategori ini mulai menantang dominasi Beauty & Care yang selama beberapa tahun menjadi penyumbang terbesar penjualan produk FMCG di e-commerce.
Kebutuhan Harian Masuk ke Marketplace

Perubahan perilaku konsumen terlihat dari meningkatnya minat terhadap produk kebutuhan sehari-hari. Konsumen tidak lagi hanya menggunakan marketplace untuk membeli pakaian, kosmetik, atau barang elektronik, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan dapur dan konsumsi rumah tangga.
Produk yang banyak dicari dan dibeli mencakup air mineral, minyak goreng, makanan ringan, minuman, bumbu dapur, bahan makanan, serta berbagai produk konsumsi lainnya.
Kenaikan permintaan menunjukkan bahwa marketplace mulai berfungsi sebagai kanal belanja rutin. Konsumen dapat memesan produk tanpa harus datang ke toko fisik, sementara penjual memiliki kesempatan menjangkau pembeli di luar wilayah operasionalnya.
Nilai Transaksi FMCG Capai Rp88,4 Triliun
Secara keseluruhan, nilai transaksi FMCG melalui e-commerce Indonesia mencapai Rp88,4 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh sekitar 29,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laporan Compas mencakup penjualan pada lima kategori utama, yaitu Beauty & Care, Food & Beverages, Healthcare, Mom & Baby, serta Homecare. Data tersebut dikumpulkan dari empat platform utama, yakni Shopee, ShopTokopedia, Lazada, dan Blibli.
Riset tersebut mencakup 270 subkategori, lebih dari 63.000 merek, dan lebih dari 10,7 juta daftar produk. Cakupan data tersebut memberikan gambaran mengenai pergeseran perilaku belanja, persaingan merek, dan perkembangan penjualan FMCG di kanal digital.compas.co
Pangsa F&B Naik Menjadi 23 Persen
Kenaikan transaksi F&B turut meningkatkan kontribusi kategori tersebut terhadap keseluruhan pasar FMCG online. Pangsa F&B naik dari sekitar 20 persen menjadi 23 persen pada semester I 2026.
Peningkatan pangsa ini menunjukkan bahwa F&B tidak hanya mengalami kenaikan nilai transaksi karena pertumbuhan harga. Volume penjualannya juga meningkat secara signifikan, sehingga pertumbuhan terjadi melalui kombinasi permintaan dan perluasan konsumsi.
Namun, perbedaan antara pertumbuhan nilai transaksi sebesar 52,1 persen dan volume penjualan sebesar 33 persen menunjukkan bahwa kenaikan harga juga berkontribusi terhadap pertumbuhan nilai. Konsumen membeli lebih banyak produk, tetapi pada saat yang sama harga rata-rata sejumlah produk ikut meningkat.industri.kontan.co
Beauty & Care Masih Memimpin Nilai Penjualan

Meskipun pertumbuhan F&B lebih tinggi, kategori Beauty & Care masih menjadi kelompok dengan nilai transaksi terbesar. Nilai penjualan Beauty & Care mencapai sekitar Rp42,9 triliun pada semester I 2026.
Kategori tersebut tumbuh 20,8 persen secara tahunan, sedangkan volume penjualan meningkat 12,8 persen. Kenaikan harga rata-rata sekitar 6,3 persen ikut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan nilai transaksi Beauty & Care.katadata.co
Dengan demikian, F&B belum sepenuhnya menggeser Beauty & Care dari posisi kategori terbesar berdasarkan nilai transaksi. Namun, F&B menjadi kategori dengan pertumbuhan paling cepat dan berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru bagi pasar FMCG e-commerce.
Perbedaan ini penting untuk dipahami. Beauty & Care masih memiliki skala penjualan yang lebih besar, sedangkan F&B mencatat akselerasi pertumbuhan yang lebih tinggi.
Shopee Mendominasi Penjualan F&B

Dari sisi platform, Shopee menjadi kontributor terbesar dalam transaksi F&B e-commerce pada semester I 2026. Berdasarkan data Compas, sekitar 59 persen nilai penjualan F&B berasal dari Shopee.
ShopTokopedia menyumbang sekitar 39 persen, sedangkan sisanya berasal dari Lazada dan Blibli. Data ini menunjukkan bahwa persaingan marketplace dalam kategori kebutuhan harian masih sangat terkonsentrasi pada dua platform utama.databoks.katadata.co
Dominasi Shopee dapat dipengaruhi oleh jumlah pengguna, promosi, kemudahan pencarian, variasi penjual, dukungan logistik, serta kebiasaan konsumen yang telah terbentuk.
Bagi merek dan penjual, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya strategi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing platform. Pengelolaan harga, promosi, iklan, ulasan, serta ketersediaan stok perlu dilakukan secara berbeda berdasarkan kanal penjualan.
Reseller Masih Menguasai Penjualan
Penjualan F&B di e-commerce masih banyak berasal dari toko reseller atau toko nonresmi. Compas mencatat kanal reseller dan toko nonresmi menyumbang sekitar Rp15,8 triliun, atau 77 persen dari total transaksi F&B.
Sementara itu, toko resmi mencatat nilai transaksi sekitar Rp4,8 triliun, setara dengan 23 persen.databoks.katadata.co
Tingginya kontribusi reseller memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pemilik merek. Di satu sisi, reseller dapat memperluas distribusi dan membuat produk lebih mudah ditemukan. Di sisi lain, pemilik merek perlu memperhatikan konsistensi harga, keaslian produk, kualitas layanan, dan pengelolaan promosi.
Perbedaan harga antarpenjual juga dapat memengaruhi persepsi konsumen. Karena itu, merek perlu memperkuat kanal resmi tanpa mengabaikan peran reseller dalam memperluas jangkauan pasar.
Produk Kebutuhan Pokok Jadi Penggerak
Pertumbuhan F&B terutama didorong oleh produk yang dikonsumsi secara rutin. Produk-produk tersebut memiliki tingkat pembelian berulang lebih tinggi dibandingkan barang yang hanya dibeli sesekali.
Air mineral dan minyak goreng menjadi beberapa produk yang mencatat pertumbuhan kuat. Kebutuhan rumah tangga yang bersifat rutin membuat konsumen lebih terbuka membeli produk melalui marketplace, khususnya ketika terdapat promosi, subsidi ongkos kirim, atau paket bundling.
Produk dengan frekuensi pembelian tinggi juga memberikan peluang bagi penjual untuk membangun pelanggan berulang. Jika pengalaman belanja berjalan baik, konsumen cenderung kembali ke toko yang sama ketika membutuhkan produk serupa.
Tantangan Distribusi Produk F&B
Perdagangan produk makanan dan minuman melalui e-commerce memiliki tantangan yang berbeda dari kategori fesyen atau kecantikan. Penjual harus memperhatikan masa kedaluwarsa, keamanan kemasan, kondisi produk saat dikirim, serta kecepatan distribusi.
Untuk produk tertentu, seperti minuman, bahan makanan, dan makanan siap konsumsi, kerusakan kemasan atau keterlambatan pengiriman dapat memengaruhi kualitas produk.
Penjual juga perlu memastikan informasi produk tercantum secara lengkap. Label, komposisi, berat bersih, tanggal kedaluwarsa, izin edar, dan petunjuk penyimpanan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan konsumen.
Peluang bagi Merek Lokal
Pertumbuhan F&B online membuka kesempatan bagi merek lokal untuk memperluas pasar tanpa harus membangun jaringan toko fisik di setiap daerah. Produk makanan khas, minuman lokal, bumbu, makanan ringan, dan produk rumah tangga dapat menjangkau konsumen nasional melalui marketplace.
Namun, merek lokal perlu memperhatikan kemasan, daya tahan produk, foto, deskripsi, ulasan, dan pelayanan pelanggan. Produk yang berkualitas tetapi memiliki kemasan kurang kuat atau informasi yang tidak lengkap akan sulit bersaing di kanal digital.
Merek juga dapat memanfaatkan data penjualan untuk memahami wilayah dengan permintaan tinggi, produk yang sering dibeli bersama, serta periode promosi yang paling efektif.
Social Commerce dan Perubahan Perilaku
Pertumbuhan F&B di e-commerce juga tidak terlepas dari perkembangan social commerce. Konsumen dapat menemukan produk melalui video pendek, siaran langsung, rekomendasi kreator, dan konten promosi sebelum diarahkan ke halaman pembelian.
Produk kebutuhan sehari-hari menjadi semakin mudah dipasarkan melalui konten yang menunjukkan cara penggunaan, resep, perbandingan harga, hingga pengalaman konsumen.
Bagi pelaku bisnis, kombinasi marketplace dan media sosial dapat memperluas jangkauan promosi. Namun, strategi tersebut perlu tetap memperhatikan transparansi harga, keaslian ulasan, dan kualitas informasi produk.
F&B Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Data Compas menunjukkan bahwa kategori F&B semakin penting dalam perkembangan pasar FMCG online Indonesia. Pertumbuhan nilai transaksi sebesar 52,1 persen dan kenaikan pangsa pasar menjadi 23 persen memperlihatkan bahwa kebutuhan sehari-hari mulai berpindah ke kanal digital.
Beauty & Care masih menjadi kategori terbesar dari sisi nilai penjualan, tetapi F&B memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat. Perubahan tersebut dapat menjadi peluang bagi produsen, distributor, pemilik merek, dan pelaku usaha makanan serta minuman untuk memperkuat strategi e-commerce.
Ke depan, pertumbuhan kategori ini akan dipengaruhi oleh harga, daya beli, jaringan logistik, promosi marketplace, keamanan produk, dan kemampuan penjual memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten.
Baca berita dan analisis terbaru mengenai bisnis digital, e-commerce, Food & Beverages, FMCG, dan perkembangan industri lainnya di komunikasibisnis.com. Untuk mendapatkan berita serta insight terbaru seputar bisnis, ikuti Instagram @komunikasibisniscom.
Sumber dan Referensi
- Marketing.co.id. “Belanja Online Sembako Kalahkan Beauty, Transaksi F&B Tumbuh 52 Persen.”
- Compas.co.id. “Indonesian FMCG E-commerce Report H1 2026.”
- Kontan. “Transaksi Pasar E-Commerce FMCG, Tapi Bukan Karena Kian Banyak Produk Terjual.” 19 Agustus 2026.
- Katadata. “Belanja Kebutuhan Harian Makin Pindah ke E-Commerce, Transaksi Rp88 Triliun.” 21 Agustus 2026.
- Databoks Katadata. “Shopee Dominates F&B Sales in Indonesian E-Commerce in H1 2026.”
- Fortune Indonesia. “F&B E-Commerce Naik 52% pada Semester I 2026.” 2 Oktober 2026.