Mixue memperkuat investasi di Indonesia melalui pengembangan gerai, inovasi produk, penguatan rantai pasok, dan dukungan kepada mitra usaha lokal. Setelah ekspansi agresif sejak masuk pada 2020, perusahaan kini juga menaruh perhatian pada kualitas operasional gerai agar pertumbuhan bisnis tetap berkelanjutan.
Mixue Bidik Pertumbuhan Jangka Panjang

Indonesia menjadi salah satu pasar penting bagi Mixue di Asia Tenggara. Perusahaan asal China yang dikenal melalui produk es krim, minuman teh, dan boba tersebut menyatakan akan melanjutkan pengembangan bisnis di Tanah Air dengan memperluas pasar serta meningkatkan investasi.
Strategi tersebut mencakup penambahan dan penguatan gerai, pengembangan produk, kegiatan bersama komunitas, serta dukungan operasional untuk jaringan kemitraan. Mixue menilai pasar Indonesia memiliki daya tarik karena jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan kelas menengah, serta konsumsi domestik yang kuat.
Mixue mulai masuk ke Indonesia pada 2020. Pada pemberitaan Juni 2026, perusahaan menyebut telah memiliki hampir 2.600 gerai di Indonesia pada akhir 2025 dan menyatakan diri sebagai jaringan minuman siap saji terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah gerai. Jaringannya tidak hanya tersedia di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Yogyakarta, tetapi juga telah menjangkau kota-kota yang lebih kecil.
Namun, data terbaru pada September 2026 menunjukkan fokus operasional Mixue mulai bergeser. Perusahaan menyebut mengoperasikan sekitar 2.000 gerai di Indonesia, dengan dukungan lebih dari 1.400 mitra usaha lokal. Perbedaan angka dengan klaim sebelumnya perlu dibaca dalam konteks penyesuaian dan optimalisasi jaringan gerai yang dilakukan perusahaan di Indonesia serta Vietnam.
Bukan Hanya Tambah Gerai
Ekspansi jaringan menjadi salah satu bagian dari strategi Mixue, tetapi perusahaan kini menekankan bahwa pertumbuhan harus didukung pasokan bahan baku dan standar operasional yang memadai. Fokus itu penting dalam bisnis makanan dan minuman karena kualitas produk, kecepatan distribusi, serta konsistensi pelayanan memengaruhi daya saing setiap gerai.
Pada paruh pertama 2026, Mixue menyatakan kinerja bisnisnya di Asia Tenggara tumbuh secara stabil. Di Indonesia, perusahaan memprioritaskan investasi pada rantai pasok, operasional gerai, dan pengembangan merek, sambil tetap membuka ruang penambahan gerai setiap tahun.industri.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas infrastruktur distribusi. Mixue sebelumnya telah mengoperasikan gudang di Cikarang dan Sidoarjo untuk mendukung pasokan di kawasan barat dan timur Indonesia. Perusahaan kemudian membuka gudang ketiga di Medan pada 1 Agustus 2026 guna memperkuat distribusi ke wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Mixue juga berencana menerapkan teknologi cold chain atau rantai dingin mulai Desember 2026. Implementasi awal ditargetkan melibatkan 12 gerai. Sistem ini ditujukan untuk menjaga suhu bahan dan produk dalam distribusi, sehingga kualitas produk dapat lebih terjaga serta efisiensi operasional mitra meningkat.
Strategi Lokal untuk Pasar Indonesia

Persaingan minuman kekinian dan es krim di Indonesia semakin ketat. Mixue menghadapi persaingan dari jaringan lokal, merek global, bisnis minuman berbasis waralaba, hingga pelaku usaha independen yang menawarkan produk dengan rentang harga beragam.
Untuk mempertahankan pasar, Mixue mengandalkan kombinasi harga yang kompetitif, perluasan kemitraan, serta penyesuaian promosi dengan kebiasaan konsumen lokal. Strategi lokal tersebut mencakup kampanye musiman pada periode Ramadan dan Idulfitri, selain penyesuaian produk sesuai selera konsumen di Indonesia.
Dari sisi kepatuhan, Mixue menyatakan produk, bahan baku, dan material kemasan yang dipasarkan di Indonesia telah memperoleh sertifikasi halal. Operasional perusahaan juga disebut mengikuti ketentuan keamanan pangan di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM.
Bagi jaringan makanan dan minuman yang menyasar pasar massal, isu halal, keamanan pangan, harga, dan kemudahan akses menjadi faktor penting. Hal tersebut terutama berlaku bagi bisnis dengan jaringan luas dan basis pelanggan yang mencakup berbagai kelompok usia serta wilayah.
Kontribusi Mitra dan Tenaga Kerja
Model bisnis Mixue di Indonesia didukung oleh jaringan mitra usaha. Perusahaan menyebut lebih dari 1.400 pengusaha lokal telah bergabung sebagai mitra waralaba atau franchise.
Pada Juni 2026, Mixue menyatakan operasionalnya telah menciptakan sekitar 12.800 pekerjaan langsung. Lebih dari 96 persen tenaga kerja disebut berasal dari Indonesia. Selain itu, perusahaan memperkirakan ekosistem pendukungnya—termasuk logistik, pengolahan makanan, produksi kemasan, dan konstruksi gerai—menyumbang sekitar 20.000 pekerjaan tidak langsung.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan jaringan ritel makanan dan minuman dapat mendorong aktivitas ekonomi lebih luas dari sekadar transaksi di gerai. Pertumbuhan jaringan juga menciptakan kebutuhan pada distribusi, pergudangan, konstruksi, pelatihan tenaga kerja, hingga pemasok lokal.
Kinerja Global Mixue
Di tingkat grup, Mixue mencatat pendapatan sebesar RMB33,56 miliar pada 2025, atau tumbuh 35,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan dilaporkan meningkat sekitar 32,7 persen menjadi RMB5,89 miliar.
Pada akhir 2025, Mixue mengoperasikan sekitar 60.000 gerai secara global. Sebanyak 55.356 gerai berada di China daratan dan 4.467 gerai tersebar di 13 negara di luar China. Sebagian besar jaringan tersebut dijalankan melalui model waralaba.
Meski kinerja grup tumbuh, perusahaan mengakui jumlah gerai di Indonesia dan Vietnam sempat menurun pada 2025 akibat penyesuaian dan optimalisasi operasional. Langkah ini menunjukkan perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah toko, tetapi juga berupaya meningkatkan keberlanjutan kinerja tiap gerai.
Data Terbaru Mixue Indonesia
| Indikator | Data | Sumber |
|---|---|---|
| Tahun masuk Indonesia | 2020 | The Jakarta Post, Juni 2026 thejakartapost |
| Jumlah gerai yang disebut pada Juni 2026 | Hampir 2.600 gerai pada akhir 2025 | The Jakarta Post thejakartapost |
| Jumlah gerai yang disebut pada September 2026 | Sekitar 2.000 gerai | CNN Indonesia cnnindonesia |
| Mitra usaha lokal | Lebih dari 1.400 mitra | CNN Indonesia; The Jakarta Post cnnindonesia+1 |
| Pekerjaan langsung | Sekitar 12.800 pekerjaan | The Jakarta Post thejakartapost |
| Tenaga kerja lokal | Lebih dari 96 persen | The Jakarta Post thejakartapost |
| Pekerjaan tidak langsung | Sekitar 20.000 pekerjaan | The Jakarta Post thejakartapost |
| Gudang baru | Medan, dibuka 1 Agustus 2026 | Laporan Franchise Meet Up Day msn |
| Rencana cold chain | Mulai Desember 2026, tahap awal 12 gerai | Laporan Franchise Meet Up Day msn |
| Pendapatan global 2025 | RMB33,56 miliar, naik 35,2 persen secara tahunan | Laporan tahunan Mixue Group hkexnews |
| Total jaringan global akhir 2025 | Sekitar 60.000 gerai | Laporan tahunan Mixue Group moomoo |
Tantangan yang Dihadapi
Pertumbuhan jaringan gerai tidak selalu berarti ekspansi tanpa risiko. Dengan jumlah gerai yang besar, Mixue perlu menjaga ketersediaan bahan baku, konsistensi kualitas produk, kondisi finansial mitra, standar pelayanan, dan efisiensi distribusi di berbagai daerah.
Perbedaan antara angka hampir 2.600 gerai yang disampaikan pada Juni dan sekitar 2.000 gerai pada September 2026 juga memperlihatkan pentingnya melihat ekspansi dalam konteks yang lebih luas. Penutupan, relokasi, pembenahan, atau penggabungan data jaringan dapat terjadi ketika perusahaan melakukan optimalisasi pasar.
Laporan terbaru juga menyebut Mixue mengalami pengurangan bersih 89 gerai luar negeri pada semester pertama 2026, dengan Indonesia dan Vietnam menjadi pasar yang terdampak penyesuaian. Meski begitu, perusahaan menegaskan komitmen untuk memperdalam operasi lokal di Asia Tenggara, bukan menghentikan pengembangan pasar.
Ke depan, keberhasilan Mixue di Indonesia akan bergantung pada kemampuan menggabungkan harga yang terjangkau dengan kualitas produk, jaringan distribusi yang efisien, teknologi rantai dingin, serta hubungan yang sehat dengan mitra usaha lokal.
Kunjungi komunikasibisnis.com untuk membaca informasi seputar bisnis, ekonomi, teknologi, industri, dan komunikasi korporat.