KAI mengusulkan mendatangkan 23 trainset KRL bukan baru dari Jepang untuk menutup kesenjangan armada Jabodetabek. Keputusan ini bukan berarti Indonesia tidak mampu memproduksi KRL, melainkan menunjukkan bahwa pertumbuhan penumpang dan kebutuhan penggantian armada bergerak lebih cepat daripada kapasitas produksi domestik.
Rencana impor KRL bekas Jepang kembali menjadi perhatian setelah Komisi VI DPR menyetujui usulan PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada 23 September 2026. Persetujuan tersebut disertai syarat agar impor tetap berjalan bersama penguatan industri kereta api nasional, terutama PT Industri Kereta Api (INKA).
Namun, hingga 5 Oktober 2026, rencana tersebut belum berarti kereta otomatis segera masuk ke Indonesia. Masih terdapat proses pengaturan, perizinan, penghitungan biaya pengiriman, asesmen teknis, pengujian, sertifikasi, dan integrasi dengan sistem operasional KRL Jabodetabek. Bahkan, Danantara menyatakan belum ada keputusan final mengenai pelaksanaan impor tersebut.
Permintaan KRL Tumbuh Lebih Cepat

Alasan utama KAI mengusulkan impor KRL bukan baru adalah peningkatan jumlah penumpang. Pada semester I 2026, jumlah pengguna KRL Jabodetabek tumbuh sekitar 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rata-rata penumpang kini mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari dan pada kondisi tertentu dapat menyentuh 1,3 juta penumpang. KAI juga mengoperasikan sekitar 1.065 perjalanan KRL per hari untuk melayani kebutuhan mobilitas masyarakat Jabodetabek.finance.detik+1
Pertumbuhan tersebut membuat kebutuhan armada meningkat. Untuk operasional 2026, KAI menyebut kebutuhan layanan mencapai sekitar 105 trainset dengan asumsi konservatif satu juta penumpang per hari.
Dalam jangka lebih panjang, KAI memproyeksikan kebutuhan KRL Jabodetabek terus meningkat seiring pertumbuhan penumpang, pengembangan jaringan, dan perluasan layanan menuju wilayah seperti Cikampek dan Cigombong. Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung kapasitas jaringan hingga sekitar dua juta penumpang per hari.
Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya jumlah kereta yang tersedia hari ini. KAI juga harus mempersiapkan kapasitas untuk pertumbuhan penumpang pada tahun-tahun berikutnya.
Armada KAI Semakin Tua

Di sisi lain, armada KRL Jabodetabek memasuki fase penting dalam siklus hidupnya. KAI memiliki sekitar 92 trainset dengan usia rata-rata sekitar 41 tahun. Sebagian besar armada tersebut telah mendekati atau melewati usia penggunaan yang menuntut perawatan dan penggantian lebih intensif.kompas+1
KAI memperkirakan sekitar 87 trainset harus diganti hingga 2031. Angka ini menunjukkan besarnya tekanan penggantian armada dalam waktu relatif singkat.
Kereta yang sudah tua tidak hanya berpengaruh terhadap kenyamanan penumpang. Beberapa tantangan yang muncul meliputi:
- Ketersediaan suku cadang yang semakin terbatas.
- Risiko kelelahan material pada komponen tertentu.
- Kebutuhan perawatan dan pemeriksaan yang lebih sering.
- Potensi meningkatnya waktu kereta tidak beroperasi.
- Biaya pemeliharaan dan penggantian komponen yang lebih tinggi.
- Tantangan menjaga keandalan dan keselamatan armada.
Karena itu, regenerasi armada bukan sekadar proyek untuk membuat kereta lebih modern. Penggantian trainset berkaitan langsung dengan kapasitas angkut, ketersediaan perjalanan, efisiensi perawatan, keandalan layanan, dan keselamatan penumpang.
Indonesia Bisa Membuat KRL

Indonesia bukan negara yang tidak memiliki kemampuan memproduksi KRL. PT INKA telah membuat KRL iE305 atau CLI-225 dan terus meningkatkan kapasitas fasilitas produksinya.
KAI sebelumnya telah memesan 16 trainset KRL baru dari INKA, atau setara dengan 192 kereta. Nilai kontrak pengadaan tersebut disebut sekitar Rp3,85 triliun.
Masalahnya terletak pada kecepatan produksi dan kemampuan memenuhi target pengiriman. Dalam perencanaan awal, kapasitas produksi INKA diproyeksikan mencapai sekitar delapan trainset per tahun. Namun, realisasi produksi yang disampaikan dalam pembahasan dengan DPR berada di kisaran dua hingga tiga trainset per tahun.
Dari total 16 trainset yang dipesan, tujuh trainset telah beroperasi pada September 2026, sedangkan sembilan trainset lainnya masih mengalami keterlambatan penerimaan.
Kondisi tersebut menggambarkan perbedaan antara kapasitas teoritis dan kapasitas aktual. Memiliki pabrik dan teknologi tidak otomatis berarti perusahaan dapat menghasilkan produk dalam jumlah besar, tepat waktu, dan dengan kualitas yang konsisten.
Dalam manufaktur kereta, proses produksi melibatkan banyak tahapan:
- Penyediaan komponen.
- Kesiapan pemasok.
- Produksi bodi dan sistem kereta.
- Instalasi kelistrikan dan mekanikal.
- Pengujian keselamatan.
- Sertifikasi.
- Pengiriman.
- Integrasi dengan prasarana dan sistem operasi.
Gangguan pada salah satu tahapan dapat menunda keseluruhan jadwal pengiriman.
KRL Bekas Jepang sebagai Solusi Bridging
KAI mengusulkan 23 trainset KRL bukan baru dari Jepang sebagai solusi sementara atau bridging solution. Rinciannya terdiri atas:
| Formasi | Jumlah trainset | Jumlah kereta |
|---|---|---|
| SF12 atau 12 kereta per rangkaian | 7 trainset | 84 kereta |
| SF8 atau 8 kereta per rangkaian | 16 trainset | 128 kereta |
| Total | 23 trainset | 212 kereta |
Dengan demikian, istilah yang lebih tepat bukan “mengimpor 23 kereta”, melainkan mendatangkan 23 trainset atau 212 unit kereta.
KAI menyebut KRL bukan baru tersebut akan digunakan untuk menggantikan sebagian armada yang telah berusia lebih dari 40 tahun. Kereta tersebut direncanakan dapat digunakan sekitar 10 tahun sambil kapasitas produksi dalam negeri ditingkatkan.
Dalam konteks ini, impor bukan diposisikan sebagai solusi permanen. KRL bukan baru dimaksudkan untuk membeli waktu sampai produksi domestik mampu mengejar kebutuhan.
Mengapa Ada SF12 dan SF8?

KAI tidak mengusulkan seluruh rangkaian dalam konfigurasi 12 kereta. Sebagian menggunakan formasi SF8 karena panjang peron setiap stasiun tidak sama.
Rangkaian SF12 membutuhkan peron yang lebih panjang. Namun, sejumlah stasiun atau lintasan tertentu belum memiliki peron yang memadai untuk melayani kereta 12 kereta secara optimal. Karena itu, formasi SF8 dipilih untuk menyesuaikan kondisi prasarana dan pola operasi.
Keputusan ini menunjukkan bahwa pengadaan KRL bukan hanya persoalan membeli sebanyak mungkin kereta. Setiap trainset harus sesuai dengan:
- Panjang peron.
- Sistem kelistrikan.
- Persinyalan.
- Depo dan fasilitas perawatan.
- Ketersediaan suku cadang.
- Kompetensi teknisi.
- Pola perjalanan.
- Kapasitas stasiun dan jalur.
Kesesuaian dengan sistem yang sudah berjalan menjadi salah satu alasan Jepang dipilih. Indonesia telah lama mengoperasikan KRL produksi Jepang sehingga ekosistem perawatan, teknisi, suku cadang, dan integrasinya relatif lebih familiar.
Dari 908 unit KRL tua yang berusia sekitar 34–41 tahun, sebanyak 780 unit disebut berasal dari JR East dan 128 unit dari Tokyo Metro.
Bukan Dibeli, tetapi Tetap Memerlukan Biaya
Salah satu informasi terbaru yang menarik adalah rencana kedatangan KRL Jepang tersebut menggunakan skema hibah, bukan transaksi jual-beli biasa. Namun, skema hibah tidak berarti seluruh prosesnya tanpa biaya.
KAI masih menghitung biaya pengiriman dari Jepang ke Indonesia. Selain logistik, tetap terdapat kemungkinan biaya untuk:
- Pemeriksaan kondisi kereta.
- Perizinan impor.
- Pengujian teknis.
- Sertifikasi.
- Penyesuaian sistem.
- Pekerjaan perbaikan atau refurbishment.
- Pengadaan suku cadang.
- Integrasi dengan fasilitas perawatan di Indonesia.
KAI juga disebut mengincar kereta dengan usia sekitar 25 tahun, sementara ketentuan Kementerian Perdagangan membatasi usia barang modal bukan baru sekitar 20 tahun dalam konteks ini. Perbedaan tersebut membuat aspek regulasi masih menjadi salah satu hambatan penting.
Karena itu, persetujuan DPR tidak sama dengan izin operasional final. Masih diperlukan penyelesaian regulasi dan proses teknis sebelum unit dapat digunakan untuk melayani penumpang.
Perubahan Sikap dari 2023
Rencana impor KRL bekas Jepang pada 2026 berbeda dengan keputusan pemerintah pada 2023. Saat itu, pemerintah tidak merekomendasikan impor KRL bekas setelah mempertimbangkan hasil evaluasi BPKP, pengembangan industri dalam negeri, optimalisasi armada yang tersedia, dan opsi retrofit.
Perubahan sikap tersebut terjadi karena kondisi kebutuhan pada 2026 tidak sama dengan 2023. Beberapa faktor yang memperbesar urgensi antara lain:
- Jumlah penumpang sudah mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari.
- Pertumbuhan penumpang semester I 2026 mencapai sekitar 11,3 persen.
- Armada KAI memiliki rata-rata usia sekitar 41 tahun.
- Sebanyak 87 trainset diperkirakan harus diganti hingga 2031.
- Produksi KRL domestik belum mencapai target awal.
- KAI membutuhkan solusi tambahan sebelum seluruh produksi baru tersedia.
Dengan demikian, perdebatan kebijakan bergeser. Pada 2023, pertanyaannya adalah apakah impor diperlukan. Pada 2026, pertanyaannya menjadi bagaimana menjaga kapasitas transportasi publik sambil menunggu industri nasional meningkatkan kemampuan produksinya.
Tujuh Trainset INKA dan Isu Keselamatan
Perkembangan lain yang perlu diperbarui adalah status tujuh trainset KRL iE305 atau CLI-225 produksi INKA.
Sebelumnya, seluruh tujuh trainset tersebut menjalani pemeriksaan dan perawatan setelah ditemukan persoalan pada bagian rangka bawah atau underframe. Namun, per 5 Oktober 2026, enam trainset telah menyelesaikan pemeriksaan dan kembali beroperasi, sedangkan satu trainset masih dalam proses penyelesaian perawatan.
Artinya, narasi bahwa “tujuh KRL INKA masih ditarik” sudah tidak lagi akurat. Formulasi yang lebih tepat adalah:
“Tujuh trainset KRL iE305 sempat menjalani pemeriksaan; per 5 Oktober 2026, enam telah kembali beroperasi dan satu masih dalam proses perawatan.”
Kasus ini penting karena menunjukkan bahwa penguatan industri nasional tidak hanya diukur dari jumlah produksi. Aspek yang sama pentingnya adalah kualitas desain, keselamatan, pengujian, reliabilitas, dan layanan purnajual.
Membangun kereta buatan dalam negeri berarti membangun keseluruhan ekosistem, bukan hanya merakit unit di pabrik.
TKDN INKA Meningkat
Di tengah perdebatan impor KRL bukan baru, INKA tetap melakukan penguatan industri dalam negeri. Dalam kunjungan Komisi XI DPR ke fasilitas INKA pada Mei 2026, disebutkan bahwa Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) INKA meningkat dari sekitar 33 persen menjadi 52 persen.
Kenaikan TKDN penting karena tujuan industrialisasi bukan hanya menghasilkan kereta yang dirakit di Indonesia. Target yang lebih besar adalah meningkatkan nilai tambah domestik melalui:
- Komponen lokal.
- Pemasok dalam negeri.
- Tenaga ahli dan teknisi nasional.
- Penguasaan desain dan rekayasa.
- Kemampuan pengujian.
- Pemeliharaan dan perbaikan.
- Pengembangan teknologi produksi.
INKA juga mengembangkan fasilitas produksi di Banyuwangi dengan dukungan mesin robotik. Fasilitas tersebut direncanakan mendukung produksi KRL mulai trainset kelima dan seterusnya dengan kapasitas yang lebih besar.
Namun, peningkatan kapasitas membutuhkan waktu. Pabrik, mesin, dan kontrak belum cukup jika pemasok, kontrol kualitas, pengujian, dan proses sertifikasi belum berjalan pada tingkat yang sama.
Impor atau Produksi Lokal?
Perdebatan tentang KRL bekas Jepang sering disederhanakan menjadi pilihan antara impor dan produksi lokal. Padahal, situasinya lebih kompleks.
| Pilihan | Keunggulan | Tantangan |
|---|---|---|
| KRL baru produksi dalam negeri | Mendukung industri nasional dan berpotensi memiliki umur pakai lebih panjang | Memerlukan waktu produksi, pengujian, dan sertifikasi |
| KRL bukan baru dari Jepang | Lebih cepat tersedia dan kompatibel dengan ekosistem KRL yang sudah ada | Usia lebih tua, perlu asesmen, refurbishment, dan persetujuan regulasi |
| Retrofit armada lama | Memanfaatkan aset yang tersedia | Tidak semua kereta layak diremajakan dan umur material tetap menjadi pertimbangan |
| Kombinasi pengadaan | Menutup kebutuhan jangka pendek sekaligus membangun kapasitas jangka panjang | Memerlukan koordinasi anggaran, teknologi, jadwal, dan standar yang ketat |
Komisi VI DPR menyetujui rencana impor dengan syarat penguatan industri kereta api dalam negeri tetap berjalan. DPR juga mendorong peningkatan Technology Readiness Level (TRL) dan Manufacturing Readiness Level (MRL) INKA.
Dengan pendekatan tersebut, KRL bukan baru seharusnya dipandang sebagai solusi jangka pendek, sedangkan INKA menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Kapasitas Tidak Sama dengan Output
Kasus KRL Jabodetabek memperlihatkan konsep penting dalam bisnis manufaktur: kapasitas di atas kertas tidak selalu sama dengan kemampuan produksi aktual.
Sebuah perusahaan dapat memiliki:
- Pabrik.
- Mesin.
- Tenaga kerja.
- Teknologi.
- Kontrak besar.
Namun, output tetap dapat tertahan karena pemasok belum siap, proses kontrol kualitas terlalu lama, kapasitas pengujian terbatas, atau pengiriman tidak berjalan sesuai jadwal.
Dalam kasus KRL, kesenjangan tersebut muncul ketika kebutuhan armada meningkat, tetapi produksi domestik belum mampu mengirimkan trainset dalam jumlah dan waktu yang diperlukan.
KRL bukan baru dari Jepang kemudian menjadi jembatan untuk mengurangi kesenjangan tersebut. Nilai yang dibeli KAI bukan hanya unit kereta, melainkan juga waktu agar industri domestik dapat meningkatkan kapasitas, kualitas, dan kesiapan manufaktur.
Apa Risiko Strategi Bridging?
Strategi bridging tetap memiliki risiko dan tidak boleh dipahami sebagai jalan pintas tanpa evaluasi.
Pertama, usia kereta harus diperiksa secara menyeluruh. Kereta bekas tidak otomatis aman atau ekonomis hanya karena berasal dari Jepang. Kondisi material, riwayat perawatan, sisa umur komponen, dan ketersediaan suku cadang harus menjadi dasar keputusan.
Kedua, biaya total harus dihitung secara transparan. Status hibah tidak menghapus biaya pengiriman, pemeriksaan, penyesuaian, sertifikasi, perawatan, dan integrasi.
Ketiga, impor sementara dapat berubah menjadi ketergantungan jika penguatan industri lokal tidak memiliki target dan indikator yang jelas.
Keempat, proses regulasi harus diselesaikan sebelum pengadaan berjalan. Perbedaan antara usia kereta yang diincar dan batas usia barang modal bukan baru menunjukkan bahwa aspek administrasi dapat memengaruhi jadwal kedatangan.
Kelima, standar keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Pengalaman pemeriksaan tujuh trainset iE305 menunjukkan bahwa kereta baru maupun bekas sama-sama memerlukan pengujian, perawatan, dan pengawasan yang ketat.
Membaca Arah Industri KRL
Indonesia tidak mengimpor KRL bekas Jepang karena tidak mampu membuat kereta sendiri. Indonesia mengusulkan impor karena kebutuhan transportasi tumbuh lebih cepat daripada kemampuan produksi domestik untuk menyediakan KRL baru dalam waktu yang dibutuhkan.
Sebanyak 23 trainset yang terdiri atas 7 SF12 dan 16 SF8, atau 212 kereta, diposisikan sebagai solusi bridging. Armada tersebut diharapkan membantu menutup sebagian kesenjangan kapasitas, terutama ketika 92 trainset KAI rata-rata telah berusia sekitar 41 tahun dan 87 trainset diproyeksikan perlu diganti hingga 2031.
Pada saat yang sama, INKA harus meningkatkan kapasitas produksi, kualitas, keandalan, TKDN, kesiapan teknologi, dan kemampuan pengiriman. Per 5 Oktober 2026, enam dari tujuh trainset iE305 yang menjalani pemeriksaan telah kembali beroperasi, tetapi satu trainset masih dalam perawatan.
Jadi, inti persoalannya bukan lokal versus impor. Persoalan sebenarnya adalah kesenjangan antara demand, kapasitas, kualitas, dan waktu.
Jika dikelola dengan batas waktu, target produksi, dan pengawasan yang jelas, KRL bukan baru dapat menjadi jembatan. Namun, jika tidak diikuti peningkatan kemampuan industri nasional, solusi sementara tersebut berisiko berubah menjadi ketergantungan jangka panjang.
Impor KRL bekas Jepang bukan hanya cerita tentang transportasi, tetapi juga tentang kapasitas produksi, waktu, dan strategi industri. Baca analisis bisnis dan industri lainnya di Komunikasibisnis.com.