Advertisement
Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use

Royal Canin Tidak Sekadar Menjual Makanan Hewan: Bagaimana Sains Menjadi Moat Bisnis

Di tengah pertumbuhan industri pet care, banyak merek berlomba menjual makanan untuk kucing dan anjing dengan klaim rasa, bahan premium, atau harga kompetitif. Royal Canin mengambil jalur yang berbeda.

Sejak didirikan dokter hewan Jean Cathary di Prancis pada 1968, Royal Canin membangun identitas bisnis di sekitar satu gagasan: nutrisi harus disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan hewan. Dari sinilah Royal Canin berkembang dari produsen makanan menjadi brand yang memosisikan diri sebagai perusahaan health through nutrition.

Strategi tersebut semakin relevan ketika hubungan manusia dengan hewan peliharaan berubah. Studi global Mars yang dilakukan bersama Ipsos terhadap lebih dari 20.000 pemilik anjing dan kucing di 20 negara menemukan bahwa 56% responden merupakan pet parent, dan 47% di antaranya adalah pemilik hewan untuk pertama kalinya. Bahkan, 37% pet parent mengatakan hewan peliharaan mereka merupakan hal terpenting dalam hidup mereka.

Bagi bisnis, perubahan tersebut menciptakan peluang: ketika hewan tidak lagi sekadar dianggap sebagai hewan peliharaan, keputusan membeli makanannya juga semakin dekat dengan keputusan kesehatan.

Pasar Pet Food Indonesia Sedang Membesar

Indonesia merupakan salah satu pasar yang menarik.

Advertisement

Menurut laporan USDA Foreign Agricultural Service, nilai pasar pet food Indonesia—khususnya kucing dan anjing—mencapai sekitar US$237 juta pada 2023, naik 24,5% dari sekitar US$190,38 juta pada 2022.

Pertumbuhan tersebut sangat dipengaruhi oleh kucing. Populasi kucing Indonesia diperkirakan mencapai 5,1 juta pada 2022, naik 137,6% dibandingkan 2017. Pada 2023, makanan kucing menyumbang sekitar 77,5% nilai pasar pet food Indonesia.

Artinya, pasar berkembang bukan hanya karena semakin banyak hewan dipelihara. Ada perubahan pada cara pemilik membelanjakan uang untuk hewan tersebut.

Di sinilah positioning Royal Canin menjadi menarik.

Royal Canin Menjual “Precision”, Bukan Sekadar Kibble

Royal Canin tidak membangun proposisinya terutama berdasarkan bahan yang terdengar menarik bagi manusia.

Baca Juga :  Revolusi Loyalitas Konsumen: transcosmos Indonesia Ungkap Rahasia Sukses Strategi Community Engagement Berbasis Data

Filosofi perusahaan berangkat dari nutrient-based approach: kebutuhan nutrisi ditentukan terlebih dahulu berdasarkan spesies, ras, usia, gaya hidup, kondisi kesehatan, dan sensitivitas; kemudian bahan dipilih untuk memenuhi profil nutrisi tersebut.

Pendekatan ini memungkinkan Royal Canin membuat produk yang sangat spesifik.

Misalnya, perusahaan memiliki formula berdasarkan breed, life stage, ukuran tubuh, lifestyle, hingga kondisi kesehatan tertentu. Royal Canin Indonesia sendiri menawarkan sistem rekomendasi yang meminta pemilik memasukkan informasi mengenai hewan sebelum mendapatkan rekomendasi nutrisi.

Secara bisnis, pendekatan ini menciptakan diferensiasi yang lebih sulit ditiru daripada sekadar mengganti rasa atau desain kemasan.

Semakin spesifik masalah yang diselesaikan, semakin sulit produk dibandingkan hanya berdasarkan harga per kilogram.

Science Menjadi Brand Asset

Royal Canin secara terbuka menempatkan riset dan inovasi sebagai fondasi pengembangan produk.

Perusahaan menyebut telah mengembangkan lebih dari 200 produk unik sejak 1968 dan terus bekerja dengan ahli ilmiah, profesional hewan, serta pemilik hewan untuk mengembangkan formula.

Di Indonesia, Royal Canin juga menjelaskan bahwa pengembangan nutrisi melibatkan dokter hewan, ahli nutrisi hewan bersertifikasi, ahli nutrisi bergelar PhD, serta kolaborasi dengan institusi penelitian. Pengujian mencakup antara lain palatabilitas, digestibilitas, kualitas feses, analisis nutrien, studi stabilitas, dan—untuk tujuan tertentu—uji klinis.

Inilah yang membuat science bukan hanya fungsi R&D.

Ia menjadi brand asset.

Konsumen membeli produk dengan persepsi bahwa keputusan tersebut didukung oleh pengetahuan dan proses ilmiah, bukan hanya oleh klaim marketing.

Mengapa Dokter Hewan Penting dalam Model Bisnisnya?

Royal Canin juga membangun hubungan yang kuat dengan ekosistem profesional.

Perusahaan menyediakan edukasi melalui Royal Canin Academy dan bekerja sama dengan dokter hewan serta breeder. Sejak awal, Royal Canin memang mengembangkan bisnis dengan menempatkan pengetahuan mengenai kebutuhan kucing dan anjing sebagai pusat inovasi.

Baca Juga :  Strategi Meningkatkan Engagement Media Sosial Tanpa Bergantung pada Iklan

Model ini menciptakan sesuatu yang penting bagi brand premium: third-party credibility.

Untuk kategori seperti makanan hewan, konsumen belum tentu memiliki pengetahuan untuk menilai apakah sebuah formula benar-benar sesuai dengan kebutuhan hewan mereka.

Dokter hewan dapat menjadi sumber validasi.

Dengan demikian, customer journey tidak berhenti pada:

Awareness → Purchase

tetapi dapat berkembang menjadi:

Concern → Professional Advice → Nutritional Solution → Trust → Repeat Purchase.

Kepercayaan kemudian menjadi bagian dari switching cost psikologis.

Jika pemilik merasa sebuah formula cocok untuk kondisi hewannya, mengganti merek tidak lagi sesederhana mencari produk yang lebih murah.

Dari Produk ke Ekosistem Kesehatan Hewan

Strategi tersebut semakin terlihat ketika Royal Canin memperluas solusi ke kategori kesehatan dan nutrisi terapeutik.

Pada 2026, Royal Canin meluncurkan portfolio fresh therapeutic diets untuk anjing yang tersedia melalui dokter hewan, sementara berbagai formula terapeutiknya mencakup kebutuhan seperti gastrointestinal, weight management, dan diabetes care. [10]

Ini menunjukkan arah bisnis yang berbeda dari sekadar “pet food company”.

Royal Canin berusaha berada di sepanjang perjalanan kesehatan hewan:

prevention → nutrition → veterinary recommendation → therapeutic nutrition → ongoing care.

Bagi brand, semakin banyak touchpoint yang dapat dilayani, semakin besar peluang membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Moat Royal Canin Bukan Hanya Formulanya

Keunggulan Royal Canin tidak berdiri pada satu produk.

Moat-nya lebih tepat dilihat sebagai kombinasi:

Science + Precision + Professional Network + Brand Trust.

Satu formula mungkin dapat ditiru.

Namun, membangun puluhan tahun pengetahuan nutrisi, jaringan profesional, konten edukasi, sistem rekomendasi, portofolio spesifik, dan kredibilitas secara bersamaan jauh lebih sulit.

Ini juga menjelaskan mengapa Royal Canin dapat bermain pada kategori yang lebih premium tanpa harus mengandalkan perang harga.

Pelajaran untuk Big Brands

Royal Canin memberikan satu pelajaran penting: diferensiasi tidak selalu harus berasal dari produk yang terlihat berbeda.

Baca Juga :  Brand Engagement: Dari Awareness ke Advocacy

Perbedaannya bisa berada pada pengetahuan di balik produk.

Bagi brand lain, pertanyaannya bukan sekadar:

“Apa fitur produk yang bisa kami tambahkan?”

Tetapi:

“Pengetahuan apa yang dapat kami kuasai sehingga produk kami menjadi lebih sulit dibandingkan?”

Royal Canin mengubah makanan hewan dari kategori yang berpotensi menjadi komoditas menjadi solusi yang lebih dekat dengan health, science, dan professional trust.

Di pasar Indonesia yang sedang berkembang, strategi seperti ini menjadi semakin penting. Ketika jumlah konsumen bertambah, kompetisi tidak hanya akan terjadi pada siapa yang menjual produk lebih banyak, tetapi siapa yang berhasil memiliki alasan paling kuat untuk dipercaya.

Royal Canin menunjukkan bahwa dalam kategori yang semakin kompetitif, science dapat menjadi strategi brand, bukan hanya fungsi R&D.

Ketika perusahaan menggabungkan pengetahuan, precision, profesional, dan pengalaman konsumen, produk tidak lagi sekadar “makanan untuk hewan”.

Ia menjadi bagian dari keputusan pemilik untuk menjaga kesehatan hewan mereka.

Ikuti @komunikasibisniscom untuk mendapatkan lebih banyak business insight, strategi brand, marketing, dan pembelajaran dari brand besar Indonesia maupun global.

Temukan analisis bisnis lainnya di komunikasibisnis.com.


Sumber Data

[1] Royal Canin — About Us & History
[2] Mars & Ipsos — Global Pet Parent Study 2024
[3] USDA Foreign Agricultural Service — Indonesia Pet Food, 2024/2025
[4] USDA FAS / Petfood Industry — Indonesia Pet Food Market
[5] Royal Canin Indonesia — Falsafah Nutrisi
[6] Royal Canin Indonesia — Tailored Nutrition
[7] Royal Canin — Nutritional Philosophy
[8] Royal Canin Indonesia — Pet Food Safety & Research
[9] Royal Canin Academy — About Royal Canin Academy
[10] Royal Canin — Therapeutic Nutrition, 2026

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Duolingo Tidak Menjual Bahasa: Bagaimana Mereka Mengubah Kebiasaan Menjadi Mesin Bisnis?

Next Post
Prodia

Mengubah Sample Menjadi Skala Melalui Infrastruktur Diagnostik Berbasis Ekosistem Rujukan Prodia

Advertisement