Advertisement
Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use

LG Electronics Tidak Lagi Sekadar Menjual Elektronik: Bagaimana Hardware Diubah Menjadi Platform, Subscription, dan Bisnis B2B

Ketika mendengar LG Electronics, konsumen kemungkinan besar akan mengingat televisi, kulkas, mesin cuci, AC, atau smartphone yang pernah menjadi bagian dari portofolionya. Namun, bisnis LG hari ini jauh lebih luas daripada consumer electronics.

LG sedang mengubah struktur bisnisnya dari perusahaan yang terutama menjual perangkat menjadi Smart Life Solution Company. Perubahannya terlihat dari ekspansi ke B2B, subscription, platform webOS, kendaraan, HVAC, robotics, hingga solusi pendingin untuk data center AI.

Transformasi ini bukan sekadar perubahan komunikasi brand. Angkanya mulai terlihat.

Pada 2025, LG Electronics membukukan revenue KRW89,2 triliun, mencetak rekor tahunan untuk tahun kedua berturut-turut. Yang lebih menarik, bisnis yang disebut LG sebagai qualitative growth businesses—termasuk B2B, webOS, product-based services, dan direct-to-consumer—sudah menyumbang hampir separuh total revenue perusahaan.

Pada kuartal II 2026, LG kembali mencatat rekor dengan revenue KRW23,83 triliun dan operating profit KRW1,58 triliun. Revenue B2B mencapai KRW6,50 triliun atau sekitar 36% dari total revenue kuartal tersebut.

Advertisement

Pertanyaannya kemudian bukan lagi bagaimana LG menjual lebih banyak elektronik.

Bagaimana LG mengubah perangkat yang sudah mereka kuasai menjadi pintu masuk ke bisnis yang lebih luas?

Dari GoldStar Menjadi LG

LG Electronics didirikan pada 1958 dengan nama GoldStar, dan menjadi perusahaan elektronik pertama di Korea Selatan. Produk awalnya mencakup radio, kulkas, dan televisi. GoldStar juga menjadi produsen TV pertama Korea pada 1966.

Pada 1995, perusahaan mengganti identitas korporatnya menjadi LG Electronics, setelah sebelumnya dikenal sebagai Lucky GoldStar.

Perubahan tersebut bukan hanya pergantian nama. LG mulai membangun identitas global yang berbeda dari citra produsen elektronik Korea yang berorientasi produk.

Slogan “Life’s Good” pertama kali berkembang dari kantor LG di Australia sekitar 1998 dan kemudian menjadi slogan global perusahaan pada 2003. Pada 2023, LG kembali melakukan penyegaran identitas dengan konsep “Life’s Good” dan Brave Optimism, sekaligus memperkenalkan identitas visual yang lebih dinamis.

Brand evolution ini sejalan dengan perubahan bisnisnya.

Dari:

GoldStar → consumer electronics → global electronics brand → Smart Life Solution Company

LG kini ingin menjual bukan hanya perangkat, tetapi solusi yang terhubung di berbagai ruang kehidupan.

Strategi LG: Jangan Tinggalkan Hardware, Bangun Bisnis di Atasnya

Salah satu kesalahan dalam membaca transformasi LG adalah menganggap perusahaan sedang meninggalkan bisnis elektronik.

Faktanya, justru sebaliknya.

Home appliance masih menjadi salah satu mesin utama LG. Pada Q2 2026, bisnis Home Appliance Solution menghasilkan KRW7,08 triliun revenue dan KRW686 miliar operating profit. Revenue kuartal tersebut bahkan untuk pertama kalinya melewati KRW7 triliun.

Yang berubah adalah apa yang dilakukan LG setelah perangkat terjual.

Sebuah mesin cuci tidak lagi hanya menjadi mesin cuci.

Ia dapat menjadi:

hardware → connected device → service → subscription → customer relationship

Televisi juga tidak lagi hanya:

panel → TV → selesai

Melainkan:

TV → webOS → content → advertising → platform

Dan teknologi yang awalnya dikembangkan untuk consumer electronics dapat masuk ke:

mobil → commercial building → HVAC → data center → robotics

Inilah inti transformasi LG.

1. Subscription: Mengubah Penjualan Sekali Menjadi Hubungan Berulang

Consumer electronics secara tradisional memiliki masalah sederhana: konsumen membeli produk, lalu transaksi selesai.

LG mencoba mengubah struktur tersebut melalui subscription.

Pada 2024, revenue subscription LG hampir mencapai KRW2 triliun, meningkat lebih dari 75% YoY. LG kemudian menargetkan revenue subscription lebih dari tiga kali lipat hingga 2030.

Baca Juga :  Arai: Mengapa Helm yang Terlihat Sederhana Justru Bisa Dijual Premium?

Pada 2025, revenue subscription sudah mendekati KRW2,5 triliun dan tumbuh sekitar 29% YoY.

Modelnya bukan sekadar menyewakan produk. LG menggabungkan perangkat dengan layanan seperti perawatan dan customer care.

Artinya, value proposition bergeser dari:

“Beli produk LG.”

menjadi:

“Gunakan produk LG dan dapatkan layanan selama siklus penggunaannya.”

Pada Q2 2026, bisnis subscription mencatat revenue KRW660 miliar, naik 5% YoY, dan terus diperluas secara internasional.

Pelajaran bisnis

Hardware memberikan entry point.

Subscription kemudian memperpanjang hubungan.

Ini membuat perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan unit baru setiap periode.

2. webOS: TV Berubah Menjadi Platform

Transformasi LG yang paling menarik mungkin justru terjadi di televisi.

LG memiliki basis perangkat yang sangat besar. Daripada membiarkan TV hanya menjadi hardware, perusahaan mengembangkan webOS sebagai platform.

Pada 2025, webOS telah digunakan pada sekitar 260 juta perangkat secara global dan tumbuh double digit. Bisnis platform tersebut juga telah menghasilkan lebih dari KRW1 triliun revenue pada 2024, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sekitar 40% dalam tiga tahun sebelumnya.

Model bisnisnya memungkinkan LG menghasilkan nilai dari:

  • advertising,
  • content,
  • streaming,
  • LG Channels,
  • cloud gaming,
  • layanan platform,
  • hingga integrasi dengan perangkat dan kendaraan.

LG Channels sendiri telah tersedia di 33 negara dengan lebih dari 4.000 channel menurut perusahaan pada 2025.

Yang lebih menarik, webOS tidak hanya ditujukan untuk televisi LG.

Pada 2025, lebih dari 600 brand global telah mengadopsi webOS Hub. LG juga memperluas webOS ke commercial displays, hotel, institusi publik, dan kendaraan.

Di sini terjadi perubahan besar:

LG bukan hanya menjual layar. LG mulai menjual operating layer di balik layar.

3. B2B: Masuk ke Bisnis yang Lebih Besar dari Rumah Tangga

Strategi berikutnya adalah memperbesar B2B.

Pada Q2 2026, revenue B2B LG mencapai KRW6,50 triliun, sekitar 36% dari total revenue kuartal.

Salah satu mesin pertumbuhannya adalah Vehicle Solution.

Pada Q2 2026, bisnis tersebut mencatat revenue KRW3,03 triliun dan operating profit KRW191 miliar. Ini menjadi kuartal kedua berturut-turut ketika revenue bisnis tersebut menembus KRW3 triliun.

LG menyediakan berbagai teknologi kendaraan, terutama di area infotainment dan komponen elektronik.

Pada Q1 2026, Vehicle Solution bahkan mencatat revenue kuartalan tertinggi sepanjang sejarahnya sebesar KRW3,64 triliun, dengan operating profit KRW212 miliar.

Ini menarik karena konsumen mungkin mengenal LG dari TV dan kulkas, sementara salah satu mesin pertumbuhan baru perusahaan justru bekerja di belakang layar industri otomotif.

4. HVAC dan Data Center: Dari AC Rumah ke Infrastruktur AI

Perubahan lain yang tidak terlalu terlihat oleh konsumen adalah HVAC.

LG kini memperbesar bisnis heating, ventilation and air conditioning untuk pasar komersial dan industri.

Alasannya juga berubah.

AI membutuhkan data center.

Data center membutuhkan komputasi.

Komputasi menghasilkan panas.

Panas membutuhkan sistem pendinginan yang semakin canggih.

LG melihat peluang tersebut melalui AI Data Center Cooling.

Pada Q2 2026, LG Eco Solution mencatat revenue KRW2,73 triliun dan operating profit KRW236 miliar. Perusahaan juga menyatakan terus berinvestasi dalam solusi pendingin AI data center, termasuk teknologi Coolant Distribution Unit atau CDU untuk liquid cooling.

Ini menunjukkan bagaimana kompetensi lama bisa memperoleh pasar baru.

LG tidak perlu menjadi perusahaan AI model seperti pembuat chatbot.

Mereka bisa mendapatkan nilai dari infrastruktur yang membuat AI berjalan.

5. Robotics: Menyiapkan Bisnis Setelah Smart Home

LG juga mulai memperkuat robotics.

Baca Juga :  Ghanisa Prime x OXYZ Health Malaysia: Solusi Terdepan Regenerative Medicine & Medical Tourism Eksklusif

Pada Juni 2026, perusahaan mendirikan Robotics Business Center untuk mempercepat pertumbuhan bisnis robotik. Pada awal 2026, LG juga memperkenalkan LG CLOiD, robot rumah tangga berbasis AI yang dirancang untuk membantu aktivitas di rumah.

Konsep LG tidak berhenti pada robot sebagai produk tunggal.

Perusahaan membayangkan AI Home yang menghubungkan:

AI appliances + ThinQ AI orchestration + autonomous home robots.

Pada 2026, LG menjelaskan konsep ini sebagai bagian dari pengembangan AI Home menuju rumah dengan lebih sedikit pekerjaan manual, di mana perangkat dapat memahami rutinitas dan mengoordinasikan berbagai aktivitas.

Ini memperlihatkan arah jangka panjang LG:

dari connected devices → connected ecosystem → autonomous ecosystem.

Apa “Trik” LG dalam Mempertahankan Pertumbuhan?

Tidak ada satu trik yang menjelaskan performa LG. Namun, strategi perusahaan memperlihatkan beberapa pola yang bisa dipelajari brand lain.

1. Mempertahankan core business sambil mencari revenue layer baru

LG tidak meninggalkan kulkas, mesin cuci, AC, atau TV.

Justru produk tersebut menjadi basis untuk subscription, platform, service, dan data-driven relationship.

2. Mengubah kompetensi menjadi lintas kategori

Teknologi display dapat masuk ke automotive.

Kompetensi motor dan compressor dapat masuk ke appliance dan HVAC.

Software dapat bergerak dari TV ke kendaraan.

AI dapat digunakan untuk consumer products sekaligus operasi internal.

Dengan cara ini, diversifikasi LG lebih dekat dengan technology adjacency daripada sekadar membeli bisnis yang sedang tren.

3. Mengejar recurring revenue

Subscription dan platform menjadi penting karena memberikan sumber pendapatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada transaksi hardware baru.

4. Memperbesar B2B

B2B memberikan akses ke proyek, kontrak, dan kebutuhan perusahaan yang berbeda dengan siklus pembelian konsumen.

Vehicle Solution dan HVAC menjadi dua contoh utama strategi tersebut. LG menyebut B2B, non-hardware, dan D2C sebagai bagian dari pergeseran menuju qualitative growth.

5. Menggunakan AI bukan hanya sebagai fitur

LG pada 2026 memperkenalkan pendekatan “AI in Action”, yang mencakup device intelligence, orchestrated ecosystem, kendaraan berbasis AI, dan HVAC untuk data center AI. Perusahaan juga membentuk AX Center untuk mempercepat penggunaan AI dalam operasi internal.

Dengan demikian, AI diposisikan bukan sekadar “fitur baru di kulkas”, tetapi sebagai lapisan yang menghubungkan produk, ekosistem, dan operasi bisnis.

Berita LG yang Menarik untuk Diperhatikan

Transformasi LG masih berlangsung dan beberapa perkembangan 2026 menunjukkan arahnya.

Pertama, robot semakin serius. LG membentuk Robotics Business Center dan mulai memperluas teknologi actuator serta home robotics.

Kedua, AI data center menjadi pasar baru. LG mengembangkan liquid cooling dan CDU untuk mengikuti kebutuhan infrastruktur AI.

Ketiga, webOS semakin jauh dari TV. Platform ini dikembangkan untuk perangkat lain, commercial spaces, hotel, institusi publik, hingga kendaraan.

Keempat, subscription terus diperluas secara internasional. Pada Q2 2026 revenue subscription mencapai KRW660 miliar dan LG terus memperluas jangkauan geografisnya.

Kelima, kendaraan menjadi salah satu mesin B2B utama. Vehicle Solution mencatat rekor revenue dan profit pada Q1 2026 dan kembali mencapai rekor kuartalan revenue serta operating profit pada Q2.

Apa yang Bisa Dipelajari Brand dari LG?

Pelajaran terbesar LG bukan tentang bagaimana menjual lebih banyak produk elektronik.

Justru sebaliknya: bagaimana sebuah produk dapat menjadi pintu masuk ke bisnis berikutnya.

TV menjadi platform.

Mesin cuci menjadi subscription service.

Teknologi appliance menjadi B2B component.

AC menjadi solusi data center.

Baca Juga :  Subway Tidak Lagi Mengejar Outlet: Bagaimana Raksasa Franchise Mengubah Cara Mereka Bertumbuh

Software TV masuk ke kendaraan.

AI menjadi lapisan yang menghubungkan semuanya.

Strategi tersebut membuat LG tetap memiliki bisnis hardware sebagai fondasi, tetapi tidak berhenti pada margin dari satu transaksi.

Inilah pergeseran yang penting dalam bisnis consumer technology:

produk bukan lagi titik akhir transaksi. Produk bisa menjadi titik awal sebuah ekosistem.

LG sendiri menyebut porsi bisnis qualitative growth meningkat dari sekitar 29% revenue pada 2021 menjadi 45% pada paruh kedua 2025, sementara kontribusinya terhadap operating profit meningkat dari 21% menjadi sekitar 90% dalam periode yang sama.

Angka tersebut menunjukkan arah transformasinya dengan cukup jelas.

LG masih menjual elektronik.

Tetapi semakin banyak uang yang ingin mereka hasilkan dari apa yang terjadi setelah elektronik tersebut berada di tangan pelanggan atau menjadi bagian dari infrastruktur bisnis lain.

Kesimpulan

LG Electronics menunjukkan bahwa transformasi perusahaan tidak selalu berarti meninggalkan bisnis lama.

Strateginya justru terlihat seperti menumpuk lapisan bisnis di atas kompetensi yang sudah dimiliki.

Hardware menjadi fondasi. Software memperpanjang hubungan. Subscription menciptakan recurring revenue. B2B membuka pasar baru. Platform menciptakan monetisasi tambahan. AI kemudian menjadi penghubung antarproduk dan ruang.

Dari perusahaan GoldStar yang membuat radio dan televisi di Korea pada 1950-an, LG kini mencoba menjadi perusahaan yang menghubungkan rumah, kendaraan, ruang komersial, dan infrastruktur AI.

Bagi brand lain, pertanyaan yang bisa dipelajari bukan “bagaimana menjadi LG berikutnya?”

Pertanyaannya lebih sederhana:

Setelah produk kita dibeli, bisnis apa lagi yang sebenarnya masih bisa kita bangun?

Ikuti pembahasan strategi bisnis, brand, komunikasi, teknologi, dan perkembangan industri lainnya melalui Instagram @komunikasibisniscom.

Untuk membaca analisis bisnis lainnya dan mengikuti berita terbaru dari berbagai industri, kunjungi komunikasibisnis.com.

Sumber Data & Referensi

  1. LG Electronics — Company History
    Sejarah GoldStar, perubahan menjadi LG Electronics, evolusi brand identity, dan perkembangan “Life’s Good”.
    LG Electronics — Company History
  2. LG Electronics — Preliminary Full-Year 2025 Results
    Revenue KRW89,2 triliun, operating profit KRW2,48 triliun, webOS, B2B, subscription, vehicle solutions, dan HVAC.
    LG Electronics — Full-Year 2025 Results
  3. LG Electronics — Q2 2026 Financial Results
    Revenue KRW23,83 triliun, operating profit KRW1,58 triliun, B2B KRW6,50 triliun, subscription KRW660 miliar, Vehicle Solution, dan AI data-center cooling.
    LG Electronics — Q2 2026 Financial Results
  4. LG Electronics — Q1 2026 Financial Results
    Data Vehicle Solution, home appliances, B2B, dan perkembangan AI data-center cooling.
    LG Electronics — Q1 2026 Financial Results
  5. LG Electronics — CEO Strategic Direction 2026
    Data perubahan bisnis qualitative growth, B2B, subscription, webOS, D2C, dan AI transformation.
    LG Electronics — Strategic Direction for Profit-Driven Growth
  6. LG Electronics — webOS Platform Strategy
    Data 260 juta perangkat, 600+ brand webOS Hub, lebih dari KRW1 triliun revenue webOS pada 2024, LG Channels, dan ekspansi ke automotive/commercial.
    LG Electronics — webOS: Powering Our Next Growth Chapter
  7. LG Electronics — AI in Action 2026
    Strategi AI Home, LG CLOiD, ecosystem orchestration, AI-defined vehicles, dan AI data-center HVAC.
    LG Electronics — AI in Action
  8. LG Electronics — AI Home Ecosystem 2026
    ThinQ AI, AI appliances, autonomous home robots, dan konsep Zero Labor Home.
    LG Electronics — AI Home Ecosystem
  9. LG Electronics — 2026 Organizational Changes
    Pembentukan Robotics Business Center, penguatan webOS Advertisement Business, HVAC data-center solutions, dan AX Center.
    LG Electronics — 2026 Organizational Changes

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Taman Sari Royal Heritage Spa Tidak Sekadar Menjual Pijat: Bagaimana Tradisi Jawa Diubah Menjadi Bisnis Wellness?

Next Post

Dyson Tidak Menjual Vacuum Cleaner: Bagaimana Engineering Menjadi Mesin Ekspansi Brand

Advertisement