Advertisement
Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use

Disney Tidak Lagi Sekadar Menjual Film: Bagaimana IP Diubah Menjadi Ekosistem Bisnis

Disney sering dianggap sebagai perusahaan film dan hiburan. Namun, model bisnisnya sebenarnya jauh lebih luas.

Film hanyalah salah satu titik masuk. Setelah sebuah karakter atau cerita menjadi populer, Disney dapat membawanya ke streaming, merchandise, game, olahraga, taman hiburan, kapal pesiar, hingga pengalaman digital.

Strategi tersebut kini semakin terlihat. Pada kuartal ketiga tahun fiskal 2026, Disney mencatat revenue US$25,2 miliar, naik 7% secara tahunan. Total segment operating income naik 21% menjadi sekitar US$5,6 miliar, sementara bisnis Experiences—yang mencakup taman, resort, cruise, dan consumer products—mencatat revenue sekitar US$10 miliar, naik 10%.

Pertanyaannya bukan lagi bagaimana Disney menjual film.

Pertanyaannya: bagaimana satu cerita bisa menghasilkan nilai berkali-kali melalui berbagai bisnis?

Advertisement

1. Disney Menjual “IP”, Bukan Sekadar Konten

Kekuatan utama Disney bukan hanya kemampuan membuat film, tetapi memiliki intellectual property (IP) yang dapat digunakan berulang kali di berbagai touchpoint.

Toy Story adalah contoh yang jelas.

Dalam Q3 FY2026, CEO Josh D’Amaro menyebut lima film Toy Story telah menghasilkan lebih dari US$4 miliar global box office. Franchise tersebut juga telah menghasilkan lebih dari US$1 miliar retail sales global per tahun, hadir di taman dan kapal pesiar Disney, serta menghasilkan lebih dari 2 miliar jam streaming di Disney+.

Dengan demikian, satu franchise dapat bergerak melalui rantai:

Film → Streaming → Merchandise → Game → Theme Park → Cruise → Fan Community

Nilainya tidak berhenti ketika film meninggalkan bioskop.

Justru, film dapat menjadi mesin untuk mengaktifkan bisnis lain.

2. Disney+ Sedang Diubah Menjadi Pusat Ekosistem

Perubahan penting lainnya terjadi di streaming.

Disney sedang membawa Hulu semakin dekat ke Disney+. Pada Mei 2026, pelanggan tertentu sudah dapat menghubungkan profil Hulu mereka dengan Disney+, termasuk watch history, watchlist, dan rekomendasi.

Pada Q3 FY2026, Disney mengatakan proses unifikasi aplikasi terus berjalan. Strategi jangka panjangnya adalah menjadikan Disney+ bukan hanya tempat menonton film dan serial, tetapi bagian dari single digital ecosystem yang juga menghubungkan game, merchandise, dan pengalaman lainnya.

Baca Juga :  Bagaimana Boga Group Mengubah Budaya Dunia Menjadi Portofolio Brand F&B

Disney menyebut fitur-fitur baru dari ekosistem tersebut mulai diperkenalkan pada musim semi 2027. Tujuannya antara lain meningkatkan engagement, value proposition, menurunkan churn, dan meningkatkan lifetime value setiap fan.

Ini adalah perubahan penting dari model streaming tradisional.

Netflix, misalnya, terutama memonetisasi hubungan antara content → subscription.

Disney mencoba membangun hubungan yang lebih panjang:

Content → Subscription → Commerce → Experience → Fandom → Content kembali.

3. Partnership Tidak Hanya untuk Co-Marketing

Disney juga menggunakan partnership sebagai cara memperluas fungsi IP.

Contoh menarik datang dari kerja sama Disney dengan LEGO.

Pada CES 2026, Disney, Lucasfilm, dan LEGO memperluas hubungan lebih dari 25 tahun melalui LEGO SMART Play. Star Wars menjadi salah satu IP awal yang digunakan untuk teknologi baru tersebut.

Ini menunjukkan bahwa licensing Disney dapat menjadi lebih dari sekadar “karakter Disney ditempelkan pada produk partner”.

Disney membawa IP ke dalam inovasi produk milik partner.

Hal yang sama terlihat dalam strategi Disney Consumer Products. Pada Licensing Expo 2026, Disney mengatakan bisnis licensing-nya bekerja dengan partner di lebih dari 180 negara dan lebih dari 100 kategori produk, dari fashion dan wellness hingga film, olahraga, dan musik.

Dengan model ini, Disney tidak perlu membangun setiap produk sendiri.

IP menjadi aset yang dapat dikembangkan bersama partner.

4. Game Menjadi “Pintu Masuk” Baru ke Disney

Disney juga semakin serius menggunakan game sebagai touchpoint untuk fandom.

Dalam D23 2026, Disney Games menyebut game sebagai salah satu front door baru bagi konsumen untuk menemukan dan terhubung dengan cerita serta karakter Disney. Portofolionya mencakup kolaborasi dengan developer dan publisher eksternal sekaligus pengembangan konten original.

Kingdom Hearts menjadi salah satu contoh besar. Franchise tersebut telah terjual lebih dari 39 juta unit di seluruh dunia dan memasuki tahun ke-25 pada 2027.

Artinya, Disney tidak harus selalu memperkenalkan IP melalui bioskop.

Seorang konsumen dapat mengenal dunia Disney melalui:

film → game → merchandise → taman → streaming.

Touchpoint-nya berubah, tetapi IP yang menghubungkannya tetap sama.

Baca Juga :  Di Balik Ekspansi Pabrik Gemuk (Grease) Shell 12 Kiloton di Bekasi dan Dampaknya bagi Industri Nasional

5. Bahkan AI Dipakai untuk Memperpanjang Hubungan dengan Fan

Salah satu kerja sama Disney yang paling menarik adalah dengan OpenAI.

Pada Desember 2025, Disney mengumumkan perjanjian lisensi tiga tahun yang memungkinkan Sora menggunakan lebih dari 200 karakter Disney, Marvel, Pixar, dan Star Wars untuk video pendek yang dibuat pengguna.

Disney juga berinvestasi US$1 miliar di OpenAI dan menjadi pelanggan teknologi OpenAI untuk mengembangkan produk serta pengalaman baru, termasuk untuk Disney+.

Yang menarik secara bisnis adalah model dua arahnya.

Penggemar dapat membuat konten menggunakan IP Disney, sementara sebagian konten tersebut direncanakan dapat ditampilkan di Disney+.

CFO Disney Hugh Johnston menjelaskan bahwa salah satu tujuan pendekatan tersebut adalah meningkatkan engagement dan jumlah waktu yang dihabiskan konsumen di Disney+.

Dengan kata lain, Disney mulai melihat AI bukan hanya sebagai alat produksi.

AI juga dapat menjadi media interaksi antara IP dan fan.

6. Disney Menghubungkan Digital dengan Dunia Fisik

Ekosistem Disney tidak berhenti di layar.

Pada Q3 FY2026, Disney Experiences menghasilkan revenue sekitar US$10 miliar, naik 10% secara tahunan, dan operating income sekitar US$3 miliar, naik 20%. Jumlah global guests juga meningkat 4%, sementara attendance di domestic parks naik 3% dan per-capita spending naik 4%.

Ini memperlihatkan fungsi penting dari bisnis Experiences.

Streaming menciptakan hubungan digital.

Film menciptakan demand.

Merchandise membawa IP ke kehidupan sehari-hari.

Taman hiburan mengubah IP menjadi pengalaman fisik bernilai tinggi.

Cruise memperpanjang pengalaman tersebut menjadi perjalanan.

Satu bisnis dapat membantu menciptakan demand untuk bisnis lainnya.

7. Inilah “Disney Flywheel”

Jika seluruh strategi tersebut disatukan, model Disney terlihat seperti sebuah flywheel:

IP → Content → Audience → Streaming → Commerce → Games → Experiences → Fan Data → Personalization → IP

Semakin kuat satu bagian, semakin besar peluang bagian lain mendapatkan manfaat.

Contohnya, film menciptakan karakter populer. Karakter mendorong streaming. Streaming meningkatkan engagement. Popularitas karakter menciptakan demand untuk merchandise dan game. Merchandise dan game memperkuat fandom. Kemudian taman hiburan memberikan pengalaman fisik yang memperpanjang hubungan tersebut.

Baca Juga :  Dari Perdagangan hingga Properti: Strategi Basrizal Koto Membangun Basko Group Jadi Gurita Bisnis Nasional

Karena itu, nilai sebuah film Disney tidak harus diukur hanya dari box office.

Box office bisa menjadi awal dari perjalanan monetisasi yang jauh lebih panjang.

Apa yang Bisa Dipelajari Big Brands?

Strategi Disney menunjukkan bahwa brand ecosystem tidak selalu berarti memiliki sebanyak mungkin bisnis.

Yang lebih penting adalah memiliki aset inti yang dapat digunakan lintas bisnis.

Dalam kasus Disney, aset tersebut adalah IP dan hubungan dengan fans.

Maka pertanyaan strategisnya bukan:

“Bisnis apa lagi yang harus kami masuki?”

Melainkan:

“Berapa banyak cara yang relevan untuk membuat konsumen berinteraksi, membeli, dan kembali kepada aset brand yang sudah kami miliki?”

Disney sedang membangun jawabannya melalui streaming, games, licensing, merchandise, sports, AI, parks, dan experiences.

Bagi big brands, pelajarannya sederhana tetapi fundamental:

Jangan hanya memperbanyak produk. Perbanyak fungsi dari aset yang paling bernilai.

Disney tidak harus membuat satu Mickey Mouse baru untuk setiap bisnis.

Mereka cukup menemukan lebih banyak tempat bagi Mickey Mouse untuk hidup.

Ikuti @komunikasibisniscom untuk analisis bisnis, brand, komunikasi, dan strategi perusahaan besar lainnya. Baca juga artikel dan informasi terbaru lainnya di komunikasibisnis.com.


Sumber Data Utama

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

LEGO Tidak Perlu Mengubah Brick: Bagaimana Brand Ini Memperluas Bisnis dari Produk ke Ekosistem

Next Post
Indomie

Glocal Branding: Bagaimana Indomie Menaklukkan 100+ Negara Tanpa Kehilangan Identitas

Advertisement