Industri media pada 2027 diperkirakan akan semakin sulit didefinisikan secara konvensional. Media tidak lagi hanya merujuk pada penerbit, stasiun televisi, radio, atau perusahaan luar ruang, tetapi juga mencakup peritel, platform streaming, kreator, produsen televisi pintar, hingga superapp yang menghubungkan konsumen dari tahap penemuan sampai transaksi.
Perubahan ini terjadi karena pengiklan kini menuntut lebih dari sekadar jangkauan. Mereka menginginkan data yang lebih kuat, penargetan yang lebih akurat, konten yang relevan, serta hubungan yang lebih jelas antara belanja media dan hasil bisnis.
Pemilik Media Tidak Lagi Mudah Didefinisikan

Dulu, perusahaan media relatif mudah dikenali. Penerbit, penyiar, radio, dan operator media luar ruang menawarkan akses kepada audiens melalui saluran yang sudah mapan.
Kini, daftar tersebut semakin panjang. Peritel membangun jaringan media menggunakan data pelanggan yang mereka miliki. Platform e-commerce seperti Shopee dan Lazada mengembangkan bisnis iklan serta ekosistem afiliasi, sementara TikTok Shop memadukan hiburan, kreator, dan perdagangan dalam satu platform.
Platform streaming juga mulai mengembangkan bisnis periklanan. Netflix, yang sebelumnya dikenal menolak iklan, kini menjadi salah satu contoh layanan hiburan yang memasuki pasar tersebut. Di sisi lain, platform sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat berinteraksi. Platform ini juga digunakan untuk mencari informasi, menikmati hiburan, dan berbelanja.
Perangkat yang digunakan konsumen untuk mengakses konten turut berubah menjadi ruang media. LG, misalnya, memanfaatkan antarmuka connected TV sebagai peluang periklanan melalui LG Ads Solutions. Sementara itu, Grab dapat menghubungkan merek dengan konsumen melalui aplikasi dan berbagai titik interaksi fisik.
Perubahan ini membuat persaingan media tidak lagi terbatas pada perusahaan yang menjual ruang iklan. Peritel, perusahaan teknologi, kreator, platform digital, dan bisnis dengan hubungan langsung bersama konsumen juga ikut berebut perhatian audiens.
Merek Mencari Momen Baru
Persaingan utama dalam industri media kini tidak hanya terjadi antarperusahaan dengan produk serupa. Setiap merek bersaing dengan berbagai pihak yang berusaha mendapatkan perhatian konsumen.
Salah satu contohnya terlihat pada layar utama televisi pintar. Sebelum penonton membuka Netflix, YouTube, atau layanan streaming lain, antarmuka connected TV sudah dapat menampilkan rekomendasi maupun iklan. Momen pertama ketika televisi dinyalakan menjadi ruang baru bagi merek untuk berkomunikasi dengan audiens.
Peluang serupa muncul dalam ekosistem Grab. Konsumen yang membuka aplikasi untuk memesan kendaraan, mencari makanan, atau membeli kebutuhan sehari-hari sudah berada dalam konteks tertentu. Kondisi tersebut memungkinkan merek hadir sebagai bagian dari pengalaman, bukan sekadar muncul di samping konten.
Pertarungan untuk memperoleh perhatian juga berlangsung di luar layar televisi. Video pendek, gim, podcast, konten kreator, streaming, dan media sosial sama-sama memperebutkan sumber daya yang terbatas, yaitu waktu audiens.
Karena itu, strategi yang mengintegrasikan iklan ke dalam pengalaman konsumen akan semakin penting. Berdasarkan laporan Kantar Media Reactions 2025, sebanyak 66 persen konsumen menilai merek semakin baik dalam mengintegrasikan iklan ke berbagai kampanye. Sementara itu, basis data LIFT+ Kantar menunjukkan bahwa 45 persen dampak kampanye terhadap indikator kinerja merek berasal dari sinergi antarkanal.
Data tersebut menunjukkan bahwa efektivitas kampanye tidak hanya bergantung pada satu platform. Perpaduan saluran yang tepat dapat menghasilkan dampak lebih besar daripada penggunaan media secara terpisah.
Kinerja Harus Berjalan Bersama Penguatan Merek

Pemasaran berbasis kinerja bukan hal baru. Perkembangan teknologi juga membuat media semakin mudah diukur melalui indikator seperti klik, konversi, dan pembelian.
Namun, ukuran tersebut belum menggambarkan seluruh dampak kampanye. Sebuah iklan mungkin mampu mendorong transaksi hari ini, tetapi belum tentu membuat konsumen mengingat merek tersebut pada masa mendatang.
Seiring meningkatnya tuntutan untuk membuktikan hasil, pemasar tetap perlu memperhatikan daya ingat merek. Kampanye yang efektif harus mampu menonjol, membangun kedekatan, menciptakan pengenalan, dan meninggalkan kesan setelah konsumen selesai melihat iklan.
Bagi pemilik media, hal ini menciptakan peluang untuk menawarkan lebih dari sekadar jangkauan yang efisien atau hasil yang dapat diukur. Media perlu menyediakan ruang bagi merek untuk berkomunikasi melalui konten yang khas, pengalaman yang bermakna, dan gagasan yang dapat bertahan dalam ingatan audiens.
Batas Antarplatform Semakin Kabur
Perubahan yang terjadi menunjukkan bahwa lanskap media semakin sulit dibagi berdasarkan kategori tradisional. Saluran media, platform teknologi, jaringan ritel, kreator, dan perangkat konsumen mulai saling beririsan.
Bagi pengiklan, perubahan ini menyediakan lebih banyak pilihan untuk menjangkau konsumen. Namun, bagi pemilik media, persaingan menjadi jauh lebih luas karena mereka harus bersaing dengan perusahaan dari berbagai sektor.
Kondisi tersebut juga meningkatkan standar keunggulan dalam industri media. Keberhasilan tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah audiens atau tingkat keterjangkauan, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan audiens, konten, teknologi, dan perdagangan secara relevan.
Perubahan itulah yang menjadi konteks penyelenggaraan Spark Awards for Media Excellence 2027. Penghargaan tersebut akan memberikan apresiasi terhadap karya dalam tiga bidang, yaitu Media Channels, Platforms & Networks; Media Strategy & Content; serta Technology.
Dengan batas media yang terus bergeser, inovasi masa depan belum tentu datang dari perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pemilik media. Terobosan dapat muncul dari pihak yang mampu menemukan cara baru untuk menghubungkan konsumen, konten, teknologi, dan transaksi.
Pendaftaran Spark Awards 2027 dibuka hingga 16 Oktober 2026.
Dampak bagi Pelaku Industri di Indonesia
Perubahan ini relevan bagi pelaku industri media dan pemasaran di Indonesia. Platform e-commerce, layanan transportasi daring, aplikasi pesan-antar makanan, media sosial, kreator, dan layanan streaming memiliki akses terhadap data serta momen konsumsi yang semakin beragam.
Merek perlu menentukan titik interaksi yang paling sesuai dengan perilaku audiens. Iklan yang muncul dalam konteks pencarian produk, perjalanan, hiburan, atau kebutuhan sehari-hari berpotensi lebih relevan dibandingkan pesan yang disampaikan tanpa memahami situasi konsumen.
Namun, penggunaan data dan integrasi lintas platform juga membutuhkan perhatian terhadap privasi, transparansi, frekuensi iklan, dan kualitas pengalaman pengguna. Teknologi dapat meningkatkan ketepatan penargetan, tetapi keberhasilan kampanye tetap bergantung pada kualitas ide dan relevansi pesan.
Baca berita dan analisis terbaru mengenai bisnis, pemasaran, teknologi, ekonomi kreator, serta perkembangan industri media lainnya di komunikasibisnis.com. Untuk mendapatkan berita dan insight bisnis terbaru, kunjungi Instagram @komunikasibisniscom.
Sumber dan Referensi
- Marketing-Interactive. “Spark Awards Insight: 3 Media Shifts Shaping 2027.” 25 September 2026.
- Kantar. Media Reactions 2025: Your Guide to the Media Landscape.
- Kantar. “Media Reactions 2025: Where Do People Prefer Advertising?”
- Kantar. “US Media Reactions 2025: The New York Times, Amazon, Apple TV, Netflix and X Rank as the Top US Media Brands for Consumer Advertising Receptivity.” 23 September 2025.
- Marketing-Interactive. “APAC Lags Behind in Consumer Receptiveness to Ads.” 25 September 2026.