Ketika nama Avani Eco pertama kali dikenal luas, salah satu produk yang paling mudah diingat adalah kantong berbahan pati singkong dengan pesan “I AM NOT PLASTIC.” Bentuknya menyerupai kantong plastik biasa, tetapi materialnya dirancang sebagai alternatif berbasis bahan nabati.
Dari produk tersebut, Avani berkembang menjadi perusahaan yang menawarkan berbagai solusi packaging berbasis cassava, paper, PLA, dan bagasse untuk kebutuhan bisnis. Situs resminya kini menyebut Avani telah melayani lebih dari 10.000 klien di 50+ negara. [1]
Perjalanan ini menarik karena Avani tidak mencoba mengubah kebiasaan konsumen dengan meminta mereka berhenti menggunakan kemasan. Strateginya justru lebih praktis: kebutuhan packaging tetap ada, tetapi materialnya diganti.
Di situlah letak model bisnis Avani.
Perusahaan tidak menjual isu lingkungan sebagai produk. Avani menjual kemasan yang menjalankan fungsi bisnis sekaligus menawarkan karakteristik material yang lebih berkelanjutan.
Dari Masalah Plastik di Bali ke Ide Bisnis
Latar belakang Avani sangat dekat dengan masalah yang ingin diselesaikannya.

Co-founder Kevin Kumala merupakan seorang entrepreneur asal Bali yang memiliki latar belakang biologi, kedokteran, dan bisnis. Dalam berbagai wawancara, ia menceritakan bagaimana aktivitasnya sebagai penyelam dan peselancar membuat persoalan sampah plastik terasa sangat dekat secara langsung. [2][3]
Sekitar 2012, Kevin bersama timnya mulai mengembangkan fasilitas produksi kantong berbahan singkong dalam skala rumahan. Salah satu pelanggan awalnya adalah Potato Head Beach Club. [2]
Namun, sumber mengenai tahun berdirinya Avani tidak sepenuhnya konsisten.
Profil LinkedIn perusahaan mencantumkan 2012 sebagai tahun pendirian, sementara situs resmi Avani menyebut perusahaan established in 2014 dan sebuah kajian akademik mengenai kasus Avani juga menggunakan tahun 2014. Karena itu, 2012 lebih tepat dipahami sebagai periode awal pengembangan usaha dan produksi, sedangkan 2014 merupakan tahun yang digunakan sejumlah sumber sebagai tahun berdirinya perusahaan. [1][4][5]
Perbedaan tersebut justru memperlihatkan bahwa perjalanan Avani tidak terjadi dalam satu malam.
Ada fase riset, tahap pengujian produk, ada pelanggan awal, kemudian barulah model bisnis dikembangkan menjadi perusahaan packaging.
Mengapa Singkong?
Pilihan singkong bukan sekadar gimmick untuk membuat produk terlihat unik.

Singkong merupakan sumber pati yang dapat digunakan sebagai bahan dasar bioplastik. Indonesia juga memiliki ketersediaan komoditas tersebut sehingga bahan yang relatif familiar dapat dikembangkan menjadi material dengan fungsi baru.
Avani menggunakan industrial-grade cassava starch, turunan minyak nabati, dan material alami lainnya untuk produk berbasis cassava. Situs resminya menyebut produk tersebut berbasis 100% material bio-based dan dirancang agar biodegradable serta compostable. [6]
Pada masa awal pengembangannya, pendekatan tersebut menjadi pembeda kuat.
Kantong Avani dibuat menyerupai produk yang sudah dikenal masyarakat, tetapi menggunakan material alternatif.
Ini merupakan strategi yang sederhana tetapi penting:
ubah materialnya tanpa membuat fungsi produknya terasa asing.
Dari Produk Viral ke Produk yang Bisa Dibeli Perusahaan
Salah satu momen penting dalam perjalanan Avani adalah ketika produk mulai masuk ke sektor hospitality dan bisnis.
Menurut Kompas, Avani mengalami titik balik pada 2016 ketika Kevin mulai menawarkan produk bioplastiknya kepada industri hotel dan restoran. Salah satu pelanggan awal yang disebut adalah Ritz-Carlton, kemudian produk Avani juga digunakan oleh Marriott dan sejumlah kafe. Garuda Indonesia turut menggunakan bioplastik Avani untuk kebutuhan shopping bag. [7]

Pada periode tersebut, kapasitas produksi meningkat dari sekitar 0,2 ton per hari pada awal 2016 menjadi 4 ton per hari, sementara sekitar 80% produksinya disebut diekspor. [7]
Ini merupakan perubahan penting dalam model bisnis.
Avani tidak lagi sekadar memiliki produk yang menarik perhatian.
Mereka mulai memperoleh repeatable demand dari institusi yang memang membutuhkan packaging dalam volume besar.
Bagi perusahaan material, pergeseran dari konsumen individual menuju B2B dapat mengubah skala bisnis secara signifikan.
Trik Pertama: Masuk ke Industri yang Memang Membutuhkan Packaging
Strategi Avani yang paling menarik adalah memilih industri yang penggunaan packaging-nya tinggi.
Hotel membutuhkan shopping bag.
Restoran membutuhkan food container.
Retail membutuhkan carrier bag.
Event membutuhkan merchandise packaging.
Maskapai membutuhkan kemasan untuk aktivitas tertentu.
Dengan kata lain, Avani tidak perlu menciptakan kebiasaan konsumsi baru dari nol.
Mereka masuk ke existing demand dan menawarkan material alternatif.
Pendekatan ini jauh lebih mudah dipahami oleh pasar B2B:
“Anda tetap membutuhkan kemasan. Kami membantu mengganti materialnya.”
Itulah yang membuat sustainability terhubung langsung dengan keputusan pembelian.
Dari Kantong Singkong Menjadi Portofolio Packaging
Avani kini tidak bergantung pada satu material.

Situs resminya membagi produk menjadi beberapa kategori utama.
Cassava-based Products
Kategori ini mencakup berbagai jenis kantong, garbage bag, polybag, polymailer, dan produk lainnya.
Materialnya menggunakan pati singkong serta bahan nabati lainnya. Avani juga menawarkan opsi custom untuk kebutuhan bisnis. [6][8]
Paper-based Products
Avani menawarkan paper cup, paper straw, soup bowl, dan berbagai packaging berbasis kertas.
Produk paper mereka menggunakan kertas yang disebut bersumber dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan dan menggunakan lapisan tipis bioplastik berbasis pati jagung untuk membantu ketahanan produk. [6]
PLA-based Products
PLA atau polylactic acid digunakan untuk produk seperti cup, bowl, dan cutlery.
Material tersebut berasal dari sumber nabati seperti pati jagung dan memiliki karakteristik yang menyerupai plastik konvensional, tetapi ditujukan untuk kebutuhan composting dalam kondisi tertentu. [6]
Bagasse-based Products
Bagasse merupakan serat kering yang tersisa setelah tebu diproses untuk mengambil sarinya.
Avani mengolah material tersebut menjadi berbagai food packaging, termasuk produk yang dapat digunakan untuk makanan panas maupun dingin. [6]
Poop Bags
Portofolionya juga mencakup kantong untuk kebutuhan hewan peliharaan yang berbahan dasar cassava starch. [6]
Diversifikasi tersebut memiliki implikasi bisnis yang cukup jelas.
Avani tidak lagi menjual satu inovasi.
Mereka membangun platform packaging berbasis berbagai material alternatif.
Trik Kedua: Menjual Solusi, Bukan Sekadar Produk
Situs resmi Avani secara eksplisit memosisikan perusahaan sebagai one-stop-shop solution for eco-friendly packaging needs. [1]
Positioning tersebut penting.
Bayangkan sebuah restoran ingin mengurangi penggunaan plastik.
Jika perusahaan hanya menawarkan kantong singkong, restoran tersebut tetap harus mencari supplier lain untuk cup, food box, cutlery, dan produk packaging lainnya.
Avani mencoba menyelesaikan persoalan yang lebih luas.
Satu supplier dapat menawarkan beberapa kategori material.
Ini meningkatkan peluang cross-selling sekaligus membuat hubungan dengan pelanggan lebih dalam.
Bagi bisnis B2B, convenience seperti ini mempunyai nilai tersendiri.
Sustainability memang menjadi alasan pembelian, tetapi kemudahan procurement dapat menjadi alasan pelanggan tetap bertahan.
Trik Ketiga: Customization Menjadikan Packaging sebagai Media Brand
Packaging tidak hanya berfungsi sebagai wadah.
Ia juga merupakan media komunikasi.
Karena itu, Avani menawarkan customization untuk sejumlah produknya.
Untuk cassava bag, situs resmi mereka menyebut produk custom memiliki MOQ mulai dari 10.000 pieces, tergantung spesifikasi. Sementara produk generik dapat dibeli dalam jumlah jauh lebih kecil. [1]
Ini membuka model bisnis yang menarik.
Sebuah perusahaan dapat membeli packaging yang sekaligus membawa identitas visualnya sendiri.
Dengan demikian, Avani tidak hanya menjual material.
Mereka menjual kombinasi:
material + fungsi + customization + brand visibility.
Bagi perusahaan yang ingin memperlihatkan komitmen sustainability kepada konsumennya, kemasan menjadi salah satu titik komunikasi yang paling mudah terlihat.
Trik Keempat: Sustainability Harus Bisa Dibuktikan
Salah satu tantangan terbesar bisnis ramah lingkungan adalah klaim.
Produk dapat disebut “eco-friendly”, tetapi konsumen dan perusahaan semakin membutuhkan bukti mengenai material, proses, sertifikasi, serta cara pembuangannya.
Avani berusaha menjawab kebutuhan tersebut dengan berbagai sertifikasi dan spesifikasi.
Cassava bag Avani, misalnya, diumumkan telah memperoleh sertifikasi SNI 7188-7:2022 Kriteria Ekolabel untuk kriteria bioplastik dan wadah yang dapat dikomposkan. [9]
Untuk produk paper, Avani menyebut penggunaan kertas bersertifikasi FSC. Produk PLA dan bagasse juga memiliki standar serta sertifikasi tertentu sesuai kategorinya. [6]
Bagi pasar B2B, informasi seperti ini bukan sekadar ornamen marketing.
Procurement team membutuhkan spesifikasi.
Perusahaan membutuhkan dokumentasi.
Brand membutuhkan dasar untuk menyampaikan klaim sustainability secara lebih bertanggung jawab.
Jadi, sertifikasi menjadi bagian dari value proposition, bukan hanya formalitas.
Trik Kelima: Membuat Produk Mudah Dipahami
Salah satu kekuatan komunikasi Avani sejak awal adalah demonstrasi.
Kevin Kumala pernah menunjukkan material kantong cassava dengan memasukkannya ke air panas dan kemudian meminum larutannya untuk memperlihatkan karakteristik material tersebut. Aksi tersebut kemudian menjadi bagian dari pemberitaan internasional dan membuat produk Avani mudah diingat. [3][10]
Secara komunikasi, ini sangat efektif.
Daripada menjelaskan panjang lebar mengenai biodegradability, produk diperlihatkan secara langsung.
Tentu, demonstrasi seperti itu tidak boleh menggantikan pengujian dan sertifikasi ilmiah.
Namun sebagai strategi komunikasi, prinsipnya kuat:
buat teknologi yang rumit menjadi sesuatu yang bisa dilihat, disentuh, dan dipahami.
Dari Bali ke 50+ Negara
Avani bermula dari Bali, tetapi positioning-nya sejak awal diarahkan untuk pasar yang lebih luas.
Situs resminya saat ini menyebut lebih dari 10.000 klien di 50+ negara. [1]
LinkedIn perusahaan juga menyebut Avani melayani berbagai industri, termasuk food service, hospitality, tourist attractions, event organizers, dan retail. [11]
Ekspansi tersebut menunjukkan bahwa masalah packaging bukan masalah lokal.
Bali mungkin menjadi tempat yang tepat untuk memulai karena persoalan sampah plastik terlihat sangat jelas di wilayah wisata.
Namun kebutuhan terhadap alternatif packaging terdapat di hampir setiap pasar.
Dengan demikian, Avani menggunakan local problem sebagai starting point untuk global market.
Menariknya, Avani Tidak Hanya Menjual “Kantong Ramah Lingkungan”
Jika melihat katalog Avani saat ini, transformasi tersebut semakin jelas.
Website mereka menampilkan puluhan SKU dari kategori cassava, paper, PLA, dan bagasse. [6][12]
Ada food box., cup. bowl, straw, cutlery, garbage bag, polymailer, ada poop bag.
Strateginya menyerupai perusahaan packaging konvensional: membangun breadth of portfolio.
Perbedaannya berada pada material dan positioning.
Ini merupakan langkah penting karena bisnis yang terlalu bergantung pada satu produk akan lebih rentan terhadap perubahan permintaan.
Dengan portofolio yang lebih lebar, Avani dapat masuk ke lebih banyak kebutuhan pelanggan tanpa meninggalkan positioning utamanya.
Berita Menarik: Avani dan MotoGP Mandalika
Salah satu aktivasi brand yang menarik terjadi pada MotoGP Mandalika 2025.
Avani mengumumkan bahwa kantong berbahan pati singkong mereka digunakan di official merchandise store Mandalika GP. [11]
Bagi Avani, penggunaan tersebut memiliki nilai lebih dari sekadar transaksi.
MotoGP merupakan event dengan exposure internasional dan audiens yang besar.
Ketika produk Avani hadir di titik pembelian merchandise, material packaging berubah menjadi bagian dari pengalaman brand event.
Ini juga menunjukkan bagaimana positioning sustainability dapat masuk ke industri yang sama sekali bukan industri lingkungan.
Sports event → retail → packaging → sustainability.
Semakin banyak konteks penggunaan yang dapat dimasuki, semakin luas pula asosiasi konsumen terhadap brand.
Berita Menarik Lain: Avani Semakin Aktif Mengedukasi Pasar
Sepanjang 2025–2026, Avani juga aktif mengembangkan konten edukasi melalui kanal Eco News.
Topiknya mencakup perbedaan bio-based dan biodegradable, ecodesign, paper straw, hidden emissions, agroforestry, hingga penggunaan kemasan ramah lingkungan untuk UMKM. [13]
Pada Agustus 2026, Avani bahkan menerbitkan materi khusus mengenai arti sustainability dan menghubungkannya dengan praktik bisnis seperti pengurangan plastik, pemilihan bahan terbarukan, efisiensi energi, dan sustainable packaging. [14]
Dari perspektif branding, konten seperti ini mempunyai fungsi ganda.
Avani dapat menjual produk sekaligus membangun kategori pasar.
Semakin banyak orang memahami istilah seperti compostable, biodegradable, bio-based, dan sustainable packaging, semakin mudah pula perusahaan menjelaskan mengapa produknya berbeda.
Tantangan yang Pernah Dihadapi
Perjalanan Avani tidak selalu mudah.
Sebuah kajian akademik mengenai perusahaan ini mencatat dua tantangan utama pada fase awal: harga bioplastik yang lebih tinggi daripada plastik konvensional dan keterbatasan awareness terhadap produk. Kajian tersebut juga menyebut keterbatasan pendanaan sebagai salah satu hambatan scaling. [5]
Masalah tersebut sebenarnya sangat relevan dengan bisnis sustainability sampai sekarang.
Produk yang lebih berkelanjutan tidak otomatis memenangkan pasar.
Jika harganya terlalu mahal, pelanggan dapat kembali ke produk konvensional.
Jika konsumen tidak memahami manfaatnya, keunggulan teknologi tidak akan menghasilkan permintaan.
Karena itu, Avani perlu menyelesaikan tiga persoalan sekaligus:
technology → cost → market education.
Inilah salah satu bagian paling menarik dari kasus bisnisnya.
Inovasi material hanyalah tahap awal.
Perusahaan tetap harus menemukan cara agar inovasi tersebut cukup kompetitif untuk dibeli dan cukup mudah dipahami untuk dipilih.
Apa yang Membuat Avani Bisa Bertahan?
1. Mengubah masalah lingkungan menjadi kebutuhan komersial
Avani tidak meminta pasar menciptakan kebutuhan baru.
Packaging sudah menjadi kebutuhan.
Yang diubah adalah materialnya.
Strategi ini membuat sustainability memiliki hubungan langsung dengan transaksi.
2. Memulai dari satu produk yang mudah dikenali
Cassava bag menjadi pintu masuk yang sangat kuat.
Produk tersebut mudah dipahami karena bentuknya familiar, tetapi materialnya berbeda.
Setelah awareness terbentuk, Avani dapat memperkenalkan kategori lainnya.
3. Memperluas portofolio berdasarkan kebutuhan pelanggan
Daripada berhenti pada kantong singkong, Avani mengembangkan paper, PLA, bagasse, dan berbagai produk lainnya.
Diversifikasi ini membuat positioning perusahaan semakin dekat dengan packaging supplier, bukan sekadar produsen eco bag.
4. Menargetkan B2B
Hotel, restoran, retail, event, dan berbagai bisnis membutuhkan packaging dalam volume besar.
Satu kontrak B2B dapat menghasilkan penggunaan produk dalam skala jauh lebih besar dibandingkan penjualan satuan kepada konsumen.
5. Membuat sustainability terlihat
Pesan “I AM NOT PLASTIC”, bentuk produk, demonstrasi material, sertifikasi, dan custom branding semuanya membuat value proposition Avani lebih mudah dikomunikasikan.
Sustainability tidak dibiarkan menjadi konsep abstrak.
Ia dibuat terlihat pada produk yang digunakan sehari-hari.
Apa yang Bisa Dipelajari Brand Lain dari Avani?
Jangan menjual perubahan jika produk penggantinya belum jelas
Mengajak konsumen berhenti menggunakan plastik memang penting, tetapi bisnis membutuhkan solusi yang konkret.
Avani memberikan alternatif yang dapat langsung digunakan.
Pelajarannya: setiap problem statement sebaiknya memiliki product statement.
Sustainability harus terhubung dengan kebutuhan pelanggan
Konsumen bisnis tidak membeli sustainability semata.
Mereka juga memikirkan harga, kualitas, durability, supply, customization, sertifikasi, dan kemudahan procurement.
Avani mencoba memasukkan faktor-faktor tersebut ke dalam penawarannya.
Produk yang bagus perlu cerita yang mudah diingat
“I AM NOT PLASTIC” merupakan contoh bagaimana karakteristik teknis bisa diterjemahkan menjadi pesan brand yang sederhana.
Konsumen tidak perlu mengingat seluruh komposisi material.
Mereka cukup memahami satu ide utama: produk ini dibuat untuk menggantikan plastik konvensional.
Jangan berhenti pada satu inovasi
Satu produk dapat membuka pintu.
Namun portofolio yang luas membuat bisnis lebih tahan terhadap perubahan.
Avani bergerak dari cassava bag menuju berbagai kategori packaging sehingga dapat melayani kebutuhan pelanggan yang lebih kompleks.
B2B sustainability adalah pasar yang menarik
Hotel, restoran, retail, event, dan perusahaan besar mempunyai kebutuhan packaging yang berulang.
Ketika sustainability dimasukkan ke dalam procurement, dampaknya dapat terjadi dalam skala yang jauh lebih besar daripada pembelian individual.
Avani Eco: Dari “Eco Bag” Menjadi Packaging Platform
Perjalanan Avani memperlihatkan perubahan identitas bisnis yang cukup jelas.
Pada awalnya, publik mengenal Avani lewat kantong singkong.
Kemudian perusahaan berkembang menjadi penyedia berbagai alternatif packaging berbasis material terbarukan.
Hari ini, situs resminya menempatkan Avani sebagai one-stop-shop sustainable packaging solution dengan lebih dari 10.000 klien di lebih dari 50 negara. [1]
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa inovasi produk dapat menjadi pintu masuk menuju model bisnis yang lebih besar.
Kantong singkong adalah produk.
Packaging adalah kategori.
Sustainable procurement adalah kebutuhan bisnis.
Dan Avani mencoba bergerak dari produk menuju kebutuhan tersebut.
Pada akhirnya, kekuatan Avani bukan hanya terletak pada kemampuan membuat plastik alternatif dari singkong.
Yang lebih menarik adalah bagaimana perusahaan mengubah sebuah material innovation menjadi business ecosystem: mulai dari riset, manufaktur, sertifikasi, customization, distribusi, edukasi pasar, hingga hubungan B2B.
Bagi brand lain, pelajaran terbesarnya cukup sederhana: produk berkelanjutan akan lebih kuat ketika keberlanjutan bukan satu-satunya alasan untuk membeli, melainkan menjadi bagian dari produk yang memang menyelesaikan kebutuhan pelanggan.
Ikuti Instagram @komunikasibisniscom untuk mendapatkan insight terbaru mengenai strategi brand, bisnis, komunikasi, dan perkembangan perusahaan di Indonesia. Untuk membaca analisis dan artikel bisnis lainnya, kunjungi komunikasibisnis.com dan terus ikuti artikel terbaru dari KOMBIS.
Sumber Data dan Referensi
[1] Avani Eco — Profil, visi, jangkauan klien, dan model bisnis
Avani Eco — About Us
Avani Eco — Official Website
[2] Medium — wawancara Kevin Kumala mengenai awal pengembangan Avani
Impact Series: Kevin Kumala and Avani
[3] DW Indonesia — latar belakang Kevin Kumala dan ide cassava bag
Kantong Plastik Ini Bisa Diminum — DW
[4] LinkedIn — profil perusahaan dan tahun pendirian yang tercantum
Avani Eco — LinkedIn
[5] IUP Journal of Entrepreneurship Development — studi kasus Avani Eco
Finding a Green Solution to Plastic: Kevin Kumala’s Cassava Bags
[6] Avani Eco — jenis material dan spesifikasi produk
Avani Eco — Our Products
[7] Kompas — perkembangan produksi dan pelanggan Avani pada fase awal ekspansi
Misi Kevin Kumala Mencegah Bumi Jadi Planet Plastik — Kompas
[8] Avani Eco — katalog produk cassava
Avani Eco — Cassava Products
[9] Avani Eco — sertifikasi SNI Ekolabel untuk cassava bag
Avani Eco — SNI Ekolabel Certification
[10] The National — perkembangan Avani dan cassava carrier bags
Indonesian entrepreneur tackles plastic scourge — The National
[11] Avani Eco — penggunaan cassava bag di official merchandise store Mandalika GP
Avani Eco — LinkedIn Update
[12] Avani Eco — katalog produk resmi
Avani Eco — Products Archive
[13] Avani Eco — Eco News dan perkembangan konten sustainability 2025–2026
Avani Eco — Eco News
[14] Avani Eco — artikel sustainability 2026
Sustainability Artinya Apa? — Avani Eco