JAKARTA – Isu keberlanjutan (sustainability) kini telah bertransformasi dari sekadar tren menjadi pilar utama kebijakan pembangunan nasional Indonesia. Hal ini ditegaskan dalam forum Lestari Summit 2025 yang diselenggarakan oleh KG Media di Raffles Hotel, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Dengan tema “Thriving Together and Cultivating Resilience for Sustainable Future”, acara ini menggarisbawahi bahwa ketangguhan (resiliensi) adalah fondasi utama untuk menghadapi tantangan iklim dan ekonomi global.
Komitmen Nasional dan Pengakuan Global
Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kemenko Perekonomian, Dida Gardera, menyatakan bahwa transformasi hijau telah terintegrasi dalam visi Asta Cita. Visi ini ditujukan untuk memberikan kontribusi nyata terhadap target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada pilar ekonomi, pendidikan, dan kelembagaan yang tangguh.
“Indonesia mencatatkan prestasi membanggakan sebagai salah satu dari lima negara G-20 dengan kemajuan pencapaian SDGs tercepat berdasarkan laporan SDGs Transformation Center per Juli 2025,” ungkap Dida dalam keynote speech-nya.

Peran Strategis Sektor Keuangan
Keberlanjutan tidak dapat berjalan tanpa dukungan pendanaan yang kuat. Direktur Keuangan Berkelanjutan OJK, Joko Siswanto, menjelaskan bahwa OJK telah menyiapkan infrastruktur regulasi, seperti POJK 51/2017 dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI).
Langkah ini bertujuan untuk memastikan arus investasi mengalir ke proyek-proyek ramah lingkungan yang mampu memitigasi risiko perubahan iklim.
Resiliensi sebagai Strategi Bertahan Hidup
CEO KG Media, Andy Budiman, menekankan bahwa di tengah ketidakpastian global, resiliensi sosial, ekonomi, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan.
Krisis di satu sektor akan berdampak berantai ke sektor lainnya.Oleh karena itu, kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi menjadi syarat mutlak bagi pemerintah maupun pelaku bisnis.
“Lestari Summit 2025 hadir untuk mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga alam, tapi tentang membangun kekuatan kolektif agar kita semua tetap tumbuh di tengah krisis yang saling berkelindan,” ujar Andy.

Penambahan Konteks: Tantangan dan Kolaborasi Lintas Sektor
Di luar kebijakan formal, keberhasilan agenda keberlanjutan Indonesia sangat bergantung pada adopsi teknologi dan perubahan perilaku di tingkat akar rumput.

Penggunaan teknologi digital dan cloud computing kini mulai dilirik sebagai alat pemantauan emisi karbon yang efektif bagi korporasi besar maupun UMKM.
itu, sinergi antara BUMN dan sektor swasta menjadi katalisator penting. Dukungan dari perusahaan besar seperti Astra, PLN, Pertamina, hingga pemain global seperti AWS dan Unilever, menunjukkan bahwa ekosistem keberlanjutan di Indonesia mulai terbentuk secara solid.
Fokusnya kini bergeser dari sekadar laporan CSR menuju integrasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam operasional inti bisnis.
Malam Apresiasi: Lestari Awards 2025
Rangkaian acara ini ditutup dengan Lestari Awards 2025, sebuah ajang apresiasi bagi perusahaan dan individu yang telah membuktikan aksi nyata dalam 14 kategori keberlanjutan. Penghargaan ini diharapkan dapat memicu semangat kompetisi positif antarlembaga untuk terus berinovasi dalam menciptakan dampak positif bagi bumi dan masyarakat.