Dark Mode Light Mode

Debut Spektakuler ara contemporary di Art Jakarta 2025: Membawa Narasi Laut Selatan Ipeh Nur ke Panggung Dunia

JAKARTA – Kancah seni rupa Asia Tenggara kedatangan kekuatan baru yang menjanjikan.

ara contemporary, galeri seni yang berbasis di Jakarta Selatan, sukses mencuri perhatian dalam partisipasi perdana mereka di ajang seni rupa internasional, Art Jakarta 2025. Menempati area seluas 100 meter persegi di Hall C3, JIExpo Kemayoran, galeri ini tampil impresif dengan kurasi yang berani dan mendalam.

Langkah Strategis Sang Pendatang Baru

Meskipun baru resmi beroperasi pada 12 April 2025, ara contemporary menunjukkan ambisi besar dalam mendukung ekosistem seni regional.

Pendiri ara contemporary, Fiesta Ramadanti, menjelaskan bahwa keterlibatan mereka di Art Jakarta bukan sekadar pameran, melainkan sebuah pernyataan visi.

“Art Jakarta adalah platform seni terbaik di Indonesia dengan skala internasional. Sebagai galeri yang berfokus pada seniman Asia Tenggara, bergabung di sini adalah langkah strategis untuk memperkenalkan karakter ara kepada publik luas,” ujar sosok yang akrab disapa Danti tersebut saat pembukaan acara, 3 Oktober 2025.

Advertisement

Sorotan Utama: “Ombak Belum Tidur” Karya Ipeh Nur

Bintang utama di booth ara contemporary tahun ini tak lain adalah Ipeh Nur. Melalui program spesial Art Jakarta Spot, seniman asal Yogyakarta ini memukau pengunjung dengan karya monumental bertajuk “Ombak Belum Tidur”.

Karya ini bukan sekadar visual, melainkan sebuah instalasi multidimensi:

  • Struktur: Tanggul berukuran 4 x 2,5 meter yang diolah dengan fragmen tanah, batu, dan kapur di atas kanvas.
  • Narasi: Mengangkat mitologi Laut Selatan dan sosok Nyi Roro Kidul.
  • Media: Dilengkapi dengan video berdurasi 11 menit yang mengeksplorasi perjalanan spiritual dan memori sejarah.
Baca Juga :  Dekade Keempat TEI: Menembus Batas Global, Targetkan Ribuan Buyer dari 106 Negara di ICE BSD

Ipeh Nur menjelaskan bahwa karya ini berakar dari pengalaman personal kakeknya. “Saya mencoba memahami bagaimana mitologi bisa merefleksikan peristiwa sejarah yang nyata melalui lensa spiritualitas,” ungkapnya.

Apresiasi Kuratorial dan Signifikansi Global

Kehadiran karya Ipeh Nur di Jakarta menjadi momen penting bagi publik seni tanah air.

Enin Supriyanto, Artistic Director Art Jakarta 2025, menekankan betapa istimewanya karya ini setelah sebelumnya meraih penghargaan khusus di ajang internasional Future Generation Art Prize 2024.

“Sangat disayangkan jika karya yang sudah mendunia ini tidak dipamerkan di rumahnya sendiri. Inilah pertama kalinya ‘Ombak Belum Tidur’ hadir di Indonesia,” tegas Enin.

Kehadiran instalasi ini juga mempertegas posisi ara contemporary sebagai galeri yang mampu menjembatani karya-karya berkelas dunia dengan audiens lokal, sekaligus memberikan panggung bagi narasi-narasi lokal untuk tetap relevan dalam diskursus seni kontemporer global.

Koleksi Komprehensif Asia Tenggara

Selain Ipeh Nur, ara contemporary memboyong lebih dari 50 karya dari 21 seniman lintas disiplin.

Nama-nama besar seperti Agan Harahap, Arlette Quynh-Anh Tran, Irfan Hendrian, hingga Marcos Kueh turut mengisi ruang pameran dengan medium yang beragam—mulai dari lukisan konvensional hingga instalasi inovatif dari kertas.

Keberagaman ini mencerminkan komitmen galeri dalam mengeksplorasi batas-batas media seni rupa di Asia Tenggara, menjadikan ara contemporary salah satu destinasi paling wajib dikunjungi di Hall C3 tahun ini.

Baca Juga :  Menjemput Keberkahan di Kota Tangerang: Howard Johnson by Wyndham Hadirkan "Miracle of Ramadhan" dan Hadiah Utama Umroh

Informasi Kunjungan Art Jakarta 2025

Art Jakarta 2025 masih berlangsung hingga 5 Oktober 2025 di JIExpo Kemayoran. Pameran terbuka untuk umum mulai pukul 11.00 hingga 20.00 WIB dengan tiket masuk seharga Rp150.000 yang dapat dibeli melalui situs resmi artjakarta.com.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Menuju Indonesia Hijau: Resiliensi Jadi Kunci Keberhasilan SDGs dalam Lestari Summit 2025

Next Post

Sulap Limbah Batik Jadi Produk "High-Fashion", Nafisa Craft Rembang Tembus Pasar Nasional hingga Korea