Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use

Menggeliat Kembali: Kemenparekraf Siapkan Rangkaian Event Kelas Dunia untuk Dongkrak Wisatawan di Candi Borobudur

MAGELANG – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus tancap gas dalam memulihkan sektor pariwisata nasional.

Sebagai salah satu dari 5 Destinasi Super Prioritas (DSP), kawasan Candi Borobudur kini dibidik menjadi magnet utama pergerakan wisatawan melalui strategi aktivasi event berskala nasional hingga internasional yang digelar secara berkala.

Langkah strategis ini diawali dengan suksesnya perayaan Hari Raya Waisak 2566 BE yang berpusat di Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, pada 14–16 Mei 2022 lalu.

Setelah sempat dibatasi akibat pandemi, tahun ini umat Buddha kembali diperbolehkan merayakan Waisak secara massal dengan protokol kesehatan yang ketat.

Momentum sakral ini rupanya tidak hanya magnet bagi umat beragama, tetapi juga daya tarik visual yang magis bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menyampaikan harapan besarnya agar perayaan seperti ini tidak hanya menjadi simbol spiritualitas, tetapi juga pelestarian budaya.

“Semoga perayaan tahun ini dapat mengangkat dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya masa lalu sebagai salah satu eksistensi bangsa ini,” ujarnya.

Multiplier Effect: Hotel Penuh hingga UMKM Bergeliat

Dampak langsung dari membludaknya wisatawan selama rangkaian Waisak langsung dirasakan oleh ekosistem ekonomi lokal.

Lonjakan keterisian penginapan memaksa sebagian wisatawan—termasuk Menparekraf sendiri—untuk menginap di jaringan Balkondes (Balai Ekonomi Desa).

“Tadi kami mendapat laporan semua hotel penuh sehingga kami tinggal di Balkondes Karanganyar.

Restoran juga mendapatkan pesanan yang membludak, dan ini betul-betul menggeliatkan pariwisata, membangkitkan ekonomi kreatif khususnya di destinasi super prioritas Borobudur,” jelas Sandiaga dengan optimis.

Sandiaga memproyeksikan bahwa dengan promosi yang masif dan manajemen perjalanan yang rapi, festival Waisak di Borobudur berpotensi menjaring 500 ribu hingga 1 juta wisatawan mancanegara di masa depan.

Baca Juga :  Akulturasi Rasa di Kota Kembang: Mercure Bandung City Centre Hadirkan Kehangatan "Ramadhan di Kampung Cina"

Kemenparekraf saat ini tengah melakukan tabulasi data riil di lapangan guna memetakan kesiapan infrastruktur pendukung, seperti kapasitas homestay dan pelaku UMKM lokal, agar siap menghadapi lonjakan yang lebih besar.

Menghidupkan Relief Candi Lewat Wisata Gastronomi

Tak berhenti di perayaan keagamaan, Kemenparekraf telah merancang kalender acara (calendar of events) yang padat sepanjang tahun 2022. Menariknya, konsep acara yang diusung akan mengakar kuat pada nilai historis candi, salah satunya melalui pendekatan seni kuliner kuno (gastronomi).

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf, Rizki Handayani, membeberkan agenda terdekat yang akan digelar pada 19 Mei 2022. Kemenparekraf berkolaborasi dengan chef kenamaan asal Inggris untuk membedah potensi kuliner lokal.

“Tanggal 19 Mei 2022 nanti akan ada chef dari Inggris yang akan menggali gastronomi sekitar berdasarkan relief Borobudur. Kita akan buat narasinya untuk kita promosikan,” tutur wanita yang akrab disapa Kiki tersebut.

Kiki menambahkan bahwa relief-relief Borobudur menyimpan sejuta cerita, mulai dari cara bercocok tanam, jenis pangan purba, hingga alat musik masa lalu, yang semuanya bisa dikonversi menjadi event tematik yang unik.

Mendorong “Quality Tourism” dan Keberlanjutan Lingkungan

Strategi memperbanyak event di sekitar Borobudur juga sejalan dengan visi pemerintah untuk menggeser tren pariwisata Indonesia dari mass tourism menuju quality tourism (pariwisata berkualitas).

Dengan menyajikan narasi budaya yang kuat—seperti kisah di balik relief candi—wisatawan diharapkan tidak hanya datang untuk berfoto, melainkan tinggal lebih lama (longer stay) dan membelanjakan uang lebih banyak (higher spending) untuk menyelami pengalaman lokal.

Baca Juga :  ThirdHome Bawa Tren Pertukaran Rumah Mewah ke Indonesia

Di sisi lain, Kemenparekraf bersama pihak pengelola Taman Wisata Candi (TWC) dan Kemendikbudristek tetap berkomitmen menjaga aspek konservasi fisik Candi Borobudur.

Oleh karena itu, sebagian besar event besar nantinya akan difokuskan di zona luar atau kawasan sekitar candi (seperti desa wisata dan Balkondes), guna meminimalisir dampak kerusakan pada struktur bangunan utama candi, sekaligus memastikan perputaran ekonomi terdistribusi secara merata ke masyarakat desa.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Mengguncang Dunia: Suksesnya WSL CT G-Land Pro 2022 Jadi Kiblat Baru Sport Tourism Banyuwangi

Next Post

Menggali Kekayaan Tradisi: Mengintip Kemegahan Ragam Festival Budaya Kalimantan yang Mendunia