BENGKULU — Tradisi dan modernitas kembali melebur jadi satu di Bumi Rafflesia.
Festival Tabut, warisan budaya kebanggaan masyarakat Bengkulu, secara resmi kembali terpilih sebagai salah satu program unggulan dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang dikurasi oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar).
Keberhasilan ini menegaskan posisi Festival Tabut bukan lagi sekadar ritual lokal, melainkan magnet pariwisata nasional yang mampu menggerakkan roda ekonomi daerah secara masif.
Akulturasi Budaya yang Menembus Zaman
Pada awal perkembangannya, tradisi Tabut merupakan ritual religius untuk memperingati kisah sejarah Islam.Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini mengalami proses akulturasi yang indah dengan budaya lokal Bengkulu.
Tanpa menghilangkan nilai-nilai religius yang menjadi fondasinya, Festival Tabut kini bertransformasi menjadi ekspresi budaya masyarakat yang lebih luas sekaligus menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas kultural Bengkulu.

Akulturasi ini menciptakan sebuah harmoni unik, di mana nilai spiritual berpadu selaras dengan kearifan lokal, menjadikannya sebuah pertunjukan teatrikal budaya yang tiada duanya di dunia.
Enam Tahun Berturut-turut Masuk Kalender Elit Kemenpar
Tahun 2026 ini menandai tahun keenam bagi Festival Tabut untuk mempertahankan posisinya dalam kalender elit KEN.
Kali ini, festival akbar tersebut mengusung tema “Semarak Muharram” sebagai bentuk refleksi dan perayaan Tahun Baru Islam.
Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata, Hafiz Agung Rifai, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi festival ini.
“Dengan hadir untuk keenam kalinya, ini menunjukkan keberhasilan Festival Tabut dalam mempertahankan, bahkan terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan event dari tahun ke tahun,” ujar Hafiz dalam siaran persnya.
Hafiz menambahkan bahwa festival ini tidak hanya fokus pada estetika pertunjukan, tetapi juga mengedepankan pelestarian budaya yang inklusif dengan melibatkan masyarakat secara aktif.

“Melalui kegiatan ini, Festival Tabut diharapkan dapat semakin meningkatkan citra pariwisata Bengkulu. Penyelenggaraan event yang berkualitas akan menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara,” tambahnya.
10 Hari Prosesi Adat yang Sakral dan Magis
Selama sepuluh hari penuh, masyarakat dan wisatawan akan disuguhkan oleh rangkaian prosesi serta ritual adat Tabut Bengkulu yang sarat akan makna kehidupan, perjuangan syiar Islam, kebersamaan, dan rasa syukur.
Berikut adalah rangkaian ritual utama yang akan dilaksanakan:
- Doa Memohon Keselamatan & Pamit Rajo Agung
- Ngambik Tanah & Duduk Penja
- Menjara, Arak Penja, & Arak Sorban
- Gam & Tabut Naik Puncak
- Arak Gedang (Tabut Besanding) & Soja
- Tabut Tebuang & Doa Penutup
Kemeriahan ritual ini akan semakin bergemuruh dengan hadirnya musik Dhol—alat musik perkusi khas Bengkulu yang dentumannya telah mendunia—serta Tari Kreasi Tabut, dan permainan rakyat tradisional seperti Ikan-Ikan dan Telong-Telong.
Sentuhan Inklusivitas dan Kebangkitan Ekonomi Kreatif
Ada yang berbeda pada penyelenggaraan tahun ini. Festival Tabut 2026 tampil lebih ramah, inklusif, dan berorientasi pada masa depan ekonomi kreatif.
Festival ini secara khusus merancang ruang yang aksesibel bagi anak-anak dan penyandang disabilitas melalui berbagai aktivitas edukatif, seperti sesi dongeng dan cerita rakyat Bengkulu serta lomba mewarnai.
Bagi para pemburu kuliner dan pencinta produk lokal, festival ini juga menyajikan Showcase Ekraf Unggulan, fashion show batik besurek, pasar rakyat, hingga street food festival.
Tidak berhenti di sektor hiburan, Festival Tabut 2026 juga memfasilitasi pertumbuhan bisnis lokal melalui sesi business matching dan talkshow inspiratif.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa dampak ekonomi dari festival ini tidak hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar, tetapi juga menyentuh langsung para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di akar rumput Bengkulu.