Di tengah persaingan transportasi online, kendaraan listrik, dan perubahan perilaku konsumen, bisnis taksi konvensional menghadapi tantangan besar. Namun, Bluebird menunjukkan bahwa perusahaan transportasi lama tidak selalu harus kalah ketika teknologi datang.
Alih-alih melawan perubahan, PT Blue Bird Tbk justru menggunakannya untuk mengubah model bisnis. Bluebird kini tidak hanya mengandalkan layanan taksi, tetapi terus bergerak menuju ekosistem Mobility as a Service (MaaS).
Transformasi tersebut menjadi salah satu alasan Bluebird masih mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis di tengah persaingan industri mobilitas yang semakin ketat.
Dari Bisnis Taksi Menjadi Bisnis Mobilitas
Dulu, persaingan Bluebird relatif sederhana: perusahaan taksi bersaing dengan perusahaan taksi lainnya.
Kini situasinya berbeda. Konsumen memiliki lebih banyak pilihan, mulai dari ride-hailing, kendaraan pribadi, transportasi publik, hingga layanan berbasis aplikasi.
Karena itu, Bluebird memperluas portofolio bisnisnya. Dalam laporan tahunannya, perusahaan menjelaskan strategi 3M: multi-product, multi-channel, dan multi-payment sebagai fondasi pengembangan ekosistem MaaS.
Artinya, Bluebird tidak lagi melihat dirinya hanya sebagai perusahaan taksi. Layanan mobilitas dikembangkan melalui berbagai produk dan kanal untuk memenuhi kebutuhan perjalanan yang semakin beragam.
Selain taksi, bisnis Bluebird juga mencakup layanan non-taksi seperti rental, bus, shuttle, dan berbagai layanan mobilitas lainnya. Pada 2025, segmen non-taksi bahkan terus diperkuat sebagai bagian dari strategi diversifikasi perusahaan.
Teknologi Tidak Lagi Menjadi Ancaman
Salah satu perubahan terbesar dalam industri transportasi adalah digitalisasi.
Jika sebelumnya pelanggan harus mencari taksi secara langsung, kini pemesanan dapat dilakukan melalui aplikasi. Bluebird merespons perubahan tersebut dengan terus mengembangkan MyBluebird.
Aplikasi ini menyediakan berbagai fitur untuk membuat perjalanan lebih mudah, termasuk Fixed Price, Advance Booking, EZPay, dan EZPoints. Bluebird juga memperluas pilihan pembayaran digital melalui berbagai metode, termasuk OVO.
Perkembangan kanal digital tersebut menunjukkan perubahan penting dalam strategi bisnis: teknologi bukan lagi sekadar alat untuk mengikuti kompetitor, tetapi menjadi bagian dari pengalaman pelanggan.
Pada kuartal I 2025, jumlah order dan pengguna MyBluebird tercatat tumbuh hingga 47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
EV Bukan Sekadar Tren, tetapi Bagian dari Strategi
Perubahan lain yang semakin memengaruhi industri transportasi adalah kendaraan listrik atau EV.
Bluebird mulai memasukkan kendaraan listrik ke dalam armadanya sebagai bagian dari strategi keberlanjutan. Pada 2025, perusahaan menargetkan penambahan 1.000 unit EV, sekaligus mengembangkan fitur agar pelanggan dapat memilih armada listrik melalui MyBluebird.
Langkah ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik tidak diposisikan semata sebagai pengganti kendaraan konvensional.
EV menjadi bagian dari strategi Bluebird untuk menghadirkan mobilitas yang lebih berkelanjutan sekaligus menjawab perubahan ekspektasi konsumen.
Perkembangan tersebut juga terus berlanjut. Misalnya, di Surabaya Bluebird mengoperasikan 50 armada BYD E6 untuk layanan taksi dari Bandara Juanda.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Dijual Bluebird?
Jika melihat transformasi tersebut, jawaban sederhananya bukan lagi sekadar “taksi”.
Bluebird sedang menjual akses terhadap mobilitas.
Taksi menjadi salah satu produknya. Namun, perusahaan juga menyediakan rental, bus, shuttle, layanan korporasi, kanal digital, kendaraan listrik, hingga berbagai bentuk kemitraan.
Model seperti ini membuat perusahaan tidak terlalu bergantung pada satu jenis layanan.
Ketika perilaku konsumen berubah, perusahaan memiliki pilihan untuk menyesuaikan produk dan kanal yang digunakan.
Pelajaran Bisnis dari Transformasi Bluebird
Kisah Bluebird memberikan satu pelajaran penting bagi bisnis konvensional: disrupsi tidak selalu harus dilawan.
Perusahaan dapat memilih untuk beradaptasi dengan memanfaatkan aset yang sudah dimiliki.
Bluebird memiliki brand, armada, pengemudi, jaringan operasional, dan kepercayaan pelanggan. Teknologi kemudian digunakan untuk memperkuat aset-aset tersebut, bukan menggantikannya sepenuhnya.
Strateginya terlihat dalam empat arah utama:
- Trust: mempertahankan kepercayaan dan standar layanan.
- Technology: memperkuat aplikasi dan kanal digital.
- Fleet: melakukan peremajaan serta memperluas kendaraan listrik.
- Sustainability: memasukkan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi mobilitas.
Keempat elemen tersebut kemudian bertemu dalam satu tujuan: mengembangkan Bluebird dari perusahaan taksi menjadi perusahaan mobilitas terintegrasi.
Bluebird Bukan Sekadar Bertahan
Persaingan di industri transportasi jelas belum selesai. Ride-hailing, EV, transportasi publik, dan teknologi baru akan terus mengubah cara masyarakat bepergian.
Namun, strategi Bluebird menunjukkan bahwa perusahaan lama masih dapat memiliki ruang untuk berkembang selama mampu membaca perubahan.
Bluebird tidak memenangkan persaingan dengan menjadi “taksi yang lebih tradisional”.
Sebaliknya, perusahaan berusaha mengubah definisi bisnisnya.
Dari menjual perjalanan dengan taksi, menjadi menyediakan berbagai solusi mobilitas.
Inilah yang membuat transformasi Bluebird menarik untuk dipelajari dari sisi bisnis: perusahaan tidak sekadar bertahan menghadapi disrupsi, tetapi berusaha menjadikan disrupsi sebagai bagian dari pertumbuhan.
Laporan Tahunan & Keberlanjutan Bluebird 2025 — paling penting karena menjadi sumber utama data dan strategi bisnis.
Laporan Tahunan & Keberlanjutan Bluebird 2025
Baca insight bisnis lainnya di KomunikasiBisnis.com dan ikuti kami untuk mendapatkan analisis tren, strategi, dan kisah bisnis menarik lainnya.