Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta, Galeri Indonesia Kaya (GIK) sukses menggelar pertunjukan teater tradisional bertajuk
“Lenong Kampung Te-Ko” pada Sabtu (20/6/2026). Menggandeng Sanggar Oplet Robet, pementasan ini memadukan unsur teater
tradisi, musik, serta humor khas Betawi untuk menghibur sekaligus melestarikan identitas budaya kota di tengah modernisasi.
Pertunjukan berdurasi 60 menit yang disutradarai oleh Maulana Firdaus ini melibatkan 16 penampil berbakat, termasuk komedian senior Rudi Sipit sebagai bintang tamu. Rangkaian acara ini dikemas secara apik untuk menyentuh hati penonton dari berbagai generasi, khususnya kalangan muda.
Angkat Konflik Sosial yang Dekat dengan Realita Kota Besar

Lakon “Lenong Kampung Te-Ko” mengisahkan tentang dinamika kehidupan masyarakat kampung di Jakarta yang awalnya hidup rukun dan harmonis. Keharmonisan tersebut mulai terusik saat sekelompok preman memanfaatkan situasi ekonomi warga demi keuntungan sepihak.
Melalui dialog spontan dan improvisasi jenaka khas lenong yang diiringi musik tradisional Betawi, pertunjukan ini menyelipkan pesan moral yang mendalam mengenai:
- Nilai Persatuan: Pentingnya menjaga solidaritas antarwarga di tengah kerasnya kehidupan kota.
- Keberanian & Kepedulian: Mengajak masyarakat untuk aktif saling menjaga dan berani melawan ketidakadilan sosial.
Menjaga Identitas Jakarta di Era Baru

Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, menegaskan bahwa transformasi Jakarta menuju era baru harus tetap berjalan beriringan dengan komitmen menjaga warisan leluhur.
“Kami ingin perayaan HUT ke-499 Jakarta di Galeri Indonesia Kaya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali berbagai kesenian Betawi yang telah menjadi identitas kota ini. Kami berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal dan mengapresiasi budaya yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Jakarta,” ujar Renitasari.
Budaya Betawi Membutuhkan Ruang untuk Bertumbuh
Apresiasi tinggi juga disampaikan oleh pimpinan Sanggar Oplet Robet, Ramdani atau yang akrab disapa Qubil AJ. Menurutnya, panggung di ruang publik modern seperti Galeri Indonesia Kaya sangat krusial bagi masa depan kesenian rakyat.
“Kehadiran Oplet Robet berangkat dari kesadaran bahwa budaya Betawi membutuhkan ruang untuk terus hidup dan berkembang. Kami berharap pertunjukan ini dapat menjadi pengingat bahwa di tengah perkembangan Jakarta menuju era baru, budaya Betawi tetap menjadi bagian penting dari identitas kota yang perlu terus dijaga bersama,” kata Qubil AJ.
Rangkaian Perayaan Sepanjang Bulan Juni

Pementasan “Lenong Kampung Te-Ko” merupakan bagian dari program tematik kesenian Betawi yang dihadirkan GIK sepanjang bulan Juni 2026. Sebelumnya, GIK telah sukses memikat penonton lewat lakon ‘Majoor Jantje: The Last Mardijkers’ oleh Salindia Teater dan ‘Djantoek Reborn’ garapan Atien Kisam. Rangkaian selebrasi budaya ini akan ditutup dengan pertunjukan ‘Penganten Keder’ oleh Sanggar Sinar Norray pada 27 Juni 2026 mendatang.