BERLIN, 4 Maret 2026 – Indonesia kembali menggebrak panggung pariwisata global dalam ajang ITB Berlin 2026, pameran pariwisata Business-to-Business (B2B) terbesar di dunia.
Bertempat di Berlin ExpoCenter, paviliun “Wonderful Indonesia” hadir dengan kampanye terbaru bertajuk #GoBeyondOrdinary.
Sebuah pesan kuat yang menandai pergeseran paradigma pariwisata nasional dari kuantitas menuju kualitas tinggi (Quality Tourism).
Berdiri megah di Hall 26, Booth 111, paviliun seluas 441 meter persegi ini merupakan partisipasi terbesar Indonesia dalam lima tahun terakhir.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, secara resmi membuka paviliun tersebut pada Selasa (3/3/2026), menegaskan komitmen Indonesia untuk menawarkan pengalaman wisata yang lebih mendalam, berkelanjutan, dan inklusif.
Fokus pada Wisata Minat Khusus dan Regeneratif
Kampanye #GoBeyondOrdinary bukan sekadar slogan estetika. Tahun ini, Indonesia memboyong lima paket wisata minat khusus
yang dirancang untuk menarik segmen pasar kelas atas (high-end) dari Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Paket-paket tersebut meliputi:
- Pariwisata Bahari & Gastronomi: Menonjolkan kekayaan laut dan cita rasa autentik Nusantara.
- Wellness & Kebugaran: Mengangkat tradisi penyembuhan lokal yang semakin diminati pasar global.
- Wastra Nusantara: Memperkenalkan keindahan kain tradisional sebagai bagian dari fashion tourism.
- Pariwisata Ramah Muslim: Strategi khusus untuk menangkap potensi besar pasar halal global.
Selain itu, Kementerian Pariwisata secara agresif mempromosikan Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR).
Berbeda dengan pariwisata biasa, konsep regeneratif menuntut wisatawan untuk tidak hanya menikmati alam, tetapi juga berkontribusi positif pada pemulihan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Optimisme Target Devisa dan Tantangan Realisasi
Sebanyak 91 pelaku industri dari 11 provinsi—mulai dari penyedia akomodasi mewah hingga desa wisata—turut ambil bagian.
Pemerintah memproyeksikan potensi transaksi mencapai 498.000 hingga 541.000 pax, yang diharapkan mampu menyumbang devisa negara sebesar Rp12,9 hingga Rp14,3 triliun.
Namun, optimisme ini dibayangi oleh tantangan realisasi di lapangan. Para pengamat pariwisata mengingatkan bahwa kontrak B2B di Berlin hanya akan
menjadi angka di atas kertas jika tidak dibarengi dengan perbaikan fundamental di dalam negeri. Isu konektivitas antar-wilayah,
stabilitas harga tiket pesawat domestik yang masih tinggi, hingga tata kelola sampah di destinasi populer tetap menjadi poin kritis yang kerap disorot oleh travel buyers internasional.
Diplomasi Budaya di Rumah Budaya Indonesia (RBI)
Di sela-sela agenda bisnis ITB Berlin, Menteri Widiyanti juga melakukan diplomasi budaya dengan mengunjungi Rumah Budaya Indonesia (RBI) Berlin.
Langkah ini penting untuk memperkuat citra branding Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan seni dan tradisi, yang menjadi nilai tawar unik (Unique Selling Point) dalam menarik minat wisatawan mancanegara yang haus akan otentisitas.
Penerapan teknologi immersive experiences di Paviliun Indonesia juga menjadi magnet tersendiri.
Calon wisatawan dapat merasakan sensasi berada di Labuan Bajo atau Borobudur melalui teknologi VR sebelum mereka benar-benar memesan perjalanan.
Masa Depan Pariwisata Indonesia: Melampaui Biasa
Implementasi strategi #GoBeyondOrdinary akan menjadi ujian bagi kesiapan SDM pariwisata Indonesia.
Keberhasilan kampanye ini tidak hanya diukur dari kemegahan paviliun di Berlin, tetapi dari standar layanan di bandara, pelabuhan, hingga senyum masyarakat di desa wisata.
Indonesia kini berada di persimpangan jalan: tetap terjebak dalam pariwisata massal (mass tourism) atau benar-benar beralih menjadi
destinasi berkualitas yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal tanpa merusak ekosistem alam.