Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Menjembatani Sains dan Pasar: Prasetiya Mulya Cetak Generasi Ahli STEM dengan Jiwa Entrepreneurship
Mencetak Inovator yang Membumi: Strategi Universitas Prasetiya Mulya Melahirkan Lulusan Siap Pakai di Era Industri 4.0

Menjembatani Sains dan Pasar: Prasetiya Mulya Cetak Generasi Ahli STEM dengan Jiwa Entrepreneurship

TANGERANG – Masa depan ekonomi Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam atau ketersediaan tenaga kerja murah.

Di tengah ancaman disrupsi global, penguasaan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi harga mati.

Namun, tantangan besar muncul: Indonesia bukan sekadar butuh inovator di laboratorium, melainkan “Inovator-Preneur” yang mampu mengomersialisasikan penemuannya menjadi solusi industri.

Paradoks STEM di Indonesia: Inovasi yang Terjebak di Laboratorium

Faktanya, banyak ahli STEM di tanah air yang berhasil menciptakan invensi luar biasa namun kesulitan menembus pasar.

Salah satu sosok yang berhasil mendobrak tembok ini adalah Prof. Ir. I Gede Wenten, Ph.D.

Advertisement

Karya monumentalnya, seperti US Patent pada 1993 dan IGW Green Ultrafilter, membuktikan bahwa sains Indonesia bisa bersaing di panggung industri global dan memenangkan penghargaan internasional sekelas ASEAN Outstanding Engineering Award.

Namun, Wenten hanyalah satu dari sedikit pengecualian. Mantan Menteri Perdagangan sekaligus Dewan Senat Universitas Prasetiya Mulya, Mari Elka Pangestu, menyoroti bahwa skor STEM Indonesia masih tertinggal di bawah Vietnam.

Akibatnya, banyak startup digital dan industri nasional terpaksa “mengimpor” tenaga ahli dari India dan Tiongkok untuk mengisi posisi strategis di bidang engineering dan software development.

Menyambut ‘Ledakan Kambrian’ Teknologi

Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Djisman S. Simandjuntak, mengibaratkan perkembangan teknologi saat ini sebagai “Ledakan Kambrian”.

Baca Juga :  Kilau "Tales of the Stars": LSPR LOCUS 2025 Menjadi Inkubator Kreativitas Mahasiswa di Panggung Komunikasi dan Bisnis

Jika 50 juta tahun lalu terjadi ledakan keanekaragaman spesies, kini dunia menghadapi ledakan teknologi di mana big data, nano-manufacturing, dan Genetically Modified Organisms (GMO) bersatu melalui digitalisasi.

“Dunia akan bergerak sangat cepat. Kita tidak mungkin bisa bertahan jika tidak menguasai teknologi yang bersinergi dengan keahlian pemasaran. Sebagai contoh, produk rekayasa genetika (GMO) atau alat diagnostik kesehatan jarak jauh membutuhkan kolaborasi antara ilmuwan, ahli komputer, dan pakar bisnis untuk bisa diterima masyarakat,” jelas Djisman.

Transformasi Prasetiya Mulya: Mengawinkan Teknologi dengan Bisnis

Merespons kebutuhan mendesak tersebut, Universitas Prasetiya Mulya melakukan transformasi besar.

Sebagai institusi yang telah lama dikenal sebagai sekolah bisnis terbaik, Prasetiya Mulya kini membuka fakultas STEM dengan pendekatan yang berbeda: STEM yang Berbasis Bisnis.

Menurut Prof. Dr. Yudi Samyudia, Vice Rector for Academic Affairs, pembeda utama STEM di Prasetiya Mulya adalah fokusnya pada kurikulum aplikatif.

Mahasiswa tidak hanya meneliti teori, tetapi dididik untuk memahami bagaimana pengetahuan tersebut dapat diubah menjadi produk komersial yang memiliki nilai jual.

Konsep ‘Dual Learning’: Sinergi Akademisi dan Raksasa Industri

Prasetiya Mulya mengusung konsep Dual Learning, yakni ekosistem di mana perguruan tinggi bergandengan tangan secara langsung dengan dunia industri.

Melalui konsep ini, mahasiswa mendapatkan paparan nyata dari kebutuhan pasar, sementara industri mendapatkan kajian ilmiah terbaru untuk pengembangan bisnis mereka.

Baca Juga :  Dua Dekade Mencetak Pemimpin: LEIT Rayakan Hari Jadi ke-20 dengan Gebrakan Inovasi dan Ekspansi Waralaba

Komitmen ini diperkuat dengan kemitraan strategis bersama berbagai perusahaan raksasa, antara lain:

  • Energi: Kerja sama dengan PT Adaro Energy.
  • Teknologi Data: Kolaborasi dengan Sinarmas di bidang asuransi dan big data.
  • Pangan: Sinergi dengan Indofood.
  • Riset Global: Kemitraan dengan Monash University dan LIPI.

Masa Depan Inovasi Indonesia

Dengan memadukan core kewirausahaan dan keahlian STEM, Indonesia berpeluang besar melahirkan ekonomi berbasis nilai tambah.

Kehadiran lulusan yang fasih dalam bahasa teknologi sekaligus mahir dalam strategi pasar akan mempercepat pertumbuhan ekosistem technopreneurship di tanah air.

“Kewirausahaan berbasis STEM adalah hal yang sangat langka di negeri ini. Prasetiya Mulya hadir untuk mengisi celah tersebut, memastikan inovasi tidak hanya berhenti sebagai dokumen paten, tetapi menjadi motor penggerak ekonomi bangsa,”

pungkas Djisman.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Mencetak Inovator yang Membumi: Strategi Universitas Prasetiya Mulya Melahirkan Lulusan Siap Pakai di Era Industri 4.0