JAKARTA, 1 Maret 2026 – Indonesia kembali mengukuhkan namanya di panggung kuliner internasional.
Melalui perhelatan Festival Imlek Nasional 2026, Indonesia resmi memecahkan rekor dunia dari Guinness World Record (GWR) untuk kategori penyajian Ketupat Cap Go Meh terbanyak.
Sebanyak 5.045 porsi disajikan dalam waktu singkat, menandai sebuah pencapaian luar biasa dalam diplomasi kuliner Nusantara.
Bertajuk “Makan Besar Bersama Bobon Santoso”, acara yang berlangsung di Lapangan Banteng,
Jakarta ini berhasil memecahkan rekor spesifik: Most Servings of Ketupat Cap Go Meh Served in 8 Hours. Prestasi ini bukan sekadar angka, melainkan simbol kuatnya akulturasi budaya yang hidup di tanah air.
Akulturasi Budaya dan Inklusivitas Ekonomi Kreatif
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menekankan bahwa Ketupat Cap Go Meh adalah manifestasi nyata dari percampuran budaya Tionghoa dan lokal yang harmonis.
Terlebih, perayaan tahun ini terasa sangat spesial karena momentum Imlek yang berdekatan dengan bulan suci Ramadan.
“Kegiatan ini adalah panggung bagi para pelaku UMKM, konten kreator, dan komunitas lokal. Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi kuliner kita adalah kekayaan ekonomi kreatif yang inklusif. Ketupat Cap Go Meh menjadi simbol persatuan bangsa sekaligus mesin baru pertumbuhan ekonomi kreatif kita,” ujar Irene Umar dalam sambutannya.
Bobon Santoso: Membawa Kuliner Tradisional ke Level Global
Keterlibatan kreator konten kenamaan, Bobon Santoso, menjadi daya tarik utama yang menyedot antusiasme ribuan masyarakat.
Menggunakan wajan raksasa khas “Makan Besar”, Bobon berhasil mengolah bahan-bahan lokal menjadi sajian pemecah rekor dunia.
Langkah ini membuktikan bahwa peran kreator konten digital di tahun 2026 semakin krusial dalam mempromosikan pariwisata dan kekayaan kuliner Indonesia.
Kehadiran ribuan penonton dari berbagai lapisan masyarakat menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya milik industri besar, melainkan milik rakyat yang bersatu dalam kegembiraan.
Pesan Persatuan dan Toleransi
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), yang turut hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi mendalam.
Baginya, pemecahan rekor ini merupakan bentuk nyata dari tenggang rasa dan toleransi yang sudah mendarah daging di Indonesia.
Zulhas membagikan kisah personalnya saat masa kecil di Lampung, di mana ia sempat tinggal dan diasuh oleh keluarga Tionghoa.
“Momen ini mengingatkan saya pada nilai toleransi yang saya dapatkan sejak kecil. Meskipun belajar bahasa Mandarin itu sulit bagi saya, tapi kebahagiaan dan persaudaraan itu nyata. Hari ini kita merayakannya bersama lewat kuliner,” kenang Zulhas.
Dampak Pariwisata: Jakarta sebagai Destinasi Gastronomi Dunia
Keberhasilan mencatatkan nama di Guinness World Record ini diprediksi akan meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai destinasi wisata gastronomi dunia.
Peristiwa ini mengirimkan pesan kuat ke komunitas global bahwa Indonesia adalah negara yang aman, kreatif, dan kaya akan warisan budaya yang terpelihara.
Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku kreatif, dan masyarakat, Festival Imlek Nasional 2026 diharapkan menjadi pemantik bagi festival-festival budaya lainnya untuk terus berinovasi dan mencatatkan prestasi serupa di masa depan.