YOGYAKARTA, 2 November 2019 – Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta (Hima Akuntansi UNY)
sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Fenomena Transaksi di Era Cashless, Guna Mendukung Modern Monetary Society”.
Acara yang berlangsung di Digital Library UNY ini menjadi puncak sekaligus penutup dari rangkaian akbar ACCFAIR#4,
setelah sebelumnya sukses menggelar kompetisi Akuntansi untuk Negeri (AUN) dan Debate Competition for College Student (DECODE).
Seminar ini dihadiri oleh 250 peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, serta praktisi umum.
Kehadiran jajaran Dekanat Fakultas Ekonomi UNY mempertegas posisi penting diskusi ini dalam merespons transformasi sistem keuangan digital di Indonesia.
Menghadapi Disrupsi Keuangan Digital
Topik ekonomi tanpa tunai (cashless) dipilih karena relevansinya dengan pergeseran perilaku konsumen dan pelaku bisnis di era industri 4.0.
Untuk membedah fenomena ini dari berbagai perspektif, UNY menghadirkan tiga pakar lintas sektor:
- Irmika Ngesti Handayani (Bank Indonesia DIY): Memaparkan peran regulator dalam menjaga stabilitas sistem pembayaran serta tata kelola uang rupiah di tengah gempuran dompet digital.
- R. Agus Trimurjanto (Direktur Pemasaran BPD DIY): Meninjau kesiapan sektor perbankan daerah dalam mengadopsi teknologi digital guna melayani kebutuhan nasabah yang kian dinamis.
- Bhima Yudhistira (Ekonom INDEF): Memberikan analisis kritis mengenai dampak makroekonomi dari masyarakat non-tunai terhadap inklusi keuangan dan efisiensi moneter nasional.

Milenial: Motor Penggerak Ekonomi Non-Tunai
Bhima Yudhistira, sebagai pembicara dari kalangan milenial, berhasil mencuri perhatian peserta dengan gaya penyampaian yang energik.
Ia menekankan bahwa generasi muda bukan sekadar pengguna, melainkan motor penggerak utama dalam terciptanya ekosistem Modern Monetary Society.
Dengan adopsi teknologi yang cepat, milenial diharapkan mampu mendorong efisiensi transaksi yang lebih transparan dan akuntabel.
“Seminar ini tidak hanya memberikan teori akademik, tetapi juga wawasan praktis tentang bagaimana dunia keuangan bekerja saat ini. Pembicaranya sangat kompeten dan mampu membawa semangat muda,” ujar Zulfa Mujahidah, salah seorang peserta.
Inklusi Keuangan dan Tantangan Keamanan Digital
Peralihan menuju masyarakat non-tunai membawa manfaat besar, seperti pencatatan transaksi yang lebih rapi dan pengurangan biaya cetak uang fisik.
Namun, seminar ini juga menggarisbawahi tantangan besar yang harus dihadapi, yakni keamanan siber dan perlindungan data pribadi konsumen.
Integrasi antara teknologi finansial (fintech) dan perbankan konvensional menjadi kunci utama agar masyarakat di tingkat akar rumput tidak tertinggal dalam revolusi digital ini.
Pendidikan literasi keuangan digital pun menjadi pekerjaan rumah bersama bagi akademisi dan praktisi agar masyarakat tidak hanya konsumtif, tetapi juga cerdas secara finansial.

Komitmen UNY dalam Mencetak Akuntan Masa Depan
Melalui penyelenggaraan ACCFAIR#4 dan seminar nasional ini, Prodi Akuntansi UNY membuktikan komitmennya untuk terus memperbarui wawasan mahasiswa agar relevan dengan kebutuhan industri.
Lulusan akuntansi tidak lagi hanya dituntut mahir dalam penjurnalan manual, tetapi juga harus mampu menganalisis data keuangan digital secara cepat dan akurat.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam mengeksplorasi potensi ekonomi digital di Indonesia.