Advertisement
Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use

Philips Tidak Lagi Sekadar Menjual Elektronik: Bagaimana Perusahaan 135 Tahun Mengubah Dirinya Menjadi Health-Tech

Selama puluhan tahun, Philips dikenal lewat produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: lampu, televisi, radio, alat rumah tangga, hingga produk personal care.

Namun Philips yang dikenal konsumen hari ini sebenarnya sudah sangat berbeda dari Philips beberapa dekade lalu.

Perusahaan asal Belanda tersebut telah melakukan transformasi besar menjadi health technology company, dengan fokus pada diagnosis, treatment, connected care, enterprise informatics, dan personal health.

Pada 2025, Royal Philips mencatat penjualan sebesar €17,8 miliar, mempekerjakan sekitar 64.817 orang, mengajukan 700 paten baru, dan menyatakan telah membantu meningkatkan kehidupan sekitar 2 miliar orang. Sekitar 9% penjualannya diinvestasikan kembali ke R&D.

Angka tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar ukuran bisnis.

Advertisement

Philips berhasil mengubah kategori bisnisnya tanpa membuang identitas inovasinya.

Dari perusahaan lampu, Philips berkembang menjadi perusahaan teknologi kesehatan yang menjual mesin MRI, ultrasound, patient monitoring, image-guided therapy, software, AI, hingga produk personal health seperti Sonicare dan Lumea.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi bagaimana Philips menjual elektronik.

Melainkan:

Bagaimana sebuah brand berusia 135 tahun bisa melakukan repositioning sebesar itu?

Dari Lampu ke Teknologi Kesehatan

Philips didirikan pada 1891 oleh Gerard Philips bersama ayahnya, Frederik Philips, di Eindhoven, Belanda.

Produk awalnya adalah lampu pijar. Philips berkembang melalui produksi lampu yang menekankan kualitas dan reliabilitas, kemudian secara bertahap masuk ke berbagai teknologi baru.

Hubungan Philips dengan healthcare sebenarnya juga bukan sesuatu yang baru.

Pada 1895, tidak lama setelah Wilhelm Röntgen menemukan teknologi X-ray, keluarga Philips mulai melihat potensi teknologi tersebut. Pada 1924, Philips memperkenalkan tabung X-ray Metalix.

Artinya, perjalanan menuju health technology bukanlah pivot yang muncul tiba-tiba pada abad ke-21.

Ada benihnya sejak lebih dari satu abad lalu.

Yang berubah adalah skala dan fokus bisnisnya.

Philips kemudian berkembang ke radio, televisi, consumer electronics, lighting, appliances, dan berbagai produk konsumen lainnya. Namun pada dekade terakhir, perusahaan mulai melakukan serangkaian divestasi untuk mengonsentrasikan bisnis pada healthcare dan personal health.

Transformasi Besar: Philips Mulai Meninggalkan Bisnis Lamanya

Salah satu keputusan paling penting terjadi pada bisnis lighting.

Philips memisahkan bisnis lighting yang kemudian berkembang menjadi Signify. Langkah ini menjadi bagian dari proses perusahaan untuk memusatkan Philips pada health technology.

Transformasi tersebut berlanjut.

Pada 2021, Philips menjual bisnis Domestic Appliances kepada Hillhouse Capital dengan enterprise value sekitar €3,7 miliar. Bisnis tersebut memiliki penjualan sekitar €2,2 miliar pada 2020 dan mencakup kategori seperti kitchen appliances, coffee, garment care, serta home care.

Yang menarik, Philips tidak sepenuhnya kehilangan hubungan dengan kategori tersebut.

Dalam transaksi tersebut, Philips memberikan brand license selama 15 tahun kepada bisnis Domestic Appliances yang telah dijual. Dengan demikian, produk rumah tangga masih dapat menggunakan nama Philips, tetapi bisnisnya tidak lagi menjadi bagian dari perusahaan health technology.

Ini adalah keputusan branding yang sangat menarik.

Philips pada dasarnya memisahkan:

brand equity dari operating business.

Nama Philips masih memiliki nilai komersial yang besar di consumer market, sementara perusahaan induknya dapat memfokuskan modal, teknologi, dan manajemen pada health technology.

Philips Hari Ini: Tiga Mesin Bisnis Utama

Setelah transformasi tersebut, Philips sekarang berfokus pada tiga kelompok bisnis utama:

1. Diagnosis & Treatment

Segmen ini mencakup teknologi yang digunakan tenaga kesehatan untuk mendeteksi dan menangani penyakit.

Contohnya termasuk diagnostic imaging, image-guided therapy, ultrasound, dan sistem terkait lainnya.

Salah satu platform penting Philips adalah Azurion, yang digunakan untuk prosedur image-guided therapy.

Pada 2026, Philips meluncurkan SmartIQ untuk Azurion. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan kualitas imaging sekaligus mengurangi paparan radiasi. Philips menyatakan protokol ultra-low-dose yang digunakan dapat mengurangi radiasi X-ray lebih dari 50% dibanding pengaturan low-dose tertentu.

2. Connected Care

Di sini Philips bergerak dari perangkat medis individual menuju sistem yang menghubungkan pasien, tenaga kesehatan, data, dan workflow.

Baca Juga :  Dyson Tidak Menjual Vacuum Cleaner: Bagaimana Engineering Menjadi Mesin Ekspansi Brand

Kategori ini mencakup patient monitoring, connected care, enterprise informatics, dan solusi untuk perawatan di rumah.

Perubahannya penting karena rumah sakit tidak hanya membutuhkan perangkat.

Mereka membutuhkan workflow.

Sebuah rumah sakit yang membeli patient monitor, misalnya, juga membutuhkan data yang dapat diintegrasikan ke dalam sistem informasi, dipantau tenaga medis, dan digunakan untuk mengambil keputusan.

Philips karena itu tidak hanya menjual hardware.

Mereka semakin menjual infrastruktur care delivery.

3. Personal Health

Ini adalah bagian Philips yang paling dekat dengan konsumen.

Produk seperti Philips Sonicare, Lumea, shaver, mother & child care, dan berbagai solusi personal health berada di dalam kategori ini.

Pada 2025, Personal Health mencatat pertumbuhan comparable sales sebesar 8%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan grup sebesar 2%.

Pada Q2 2026, pertumbuhan comparable sales Personal Health bahkan mencapai 8%, dengan adjusted EBITA margin sebesar 23,0%.

Ini menunjukkan bahwa meskipun Philips semakin dikenal sebagai health-tech company, consumer business tetap menjadi bagian penting dari modelnya.

Trik Philips: Tidak Menjual Teknologi, tetapi Menjual Outcome

Salah satu perubahan terbesar dalam positioning Philips adalah pergeseran dari product-centric menjadi solution-centric.

Dulu, konsumen bisa mengenal Philips melalui sebuah benda:

lampu Philips, TV Philips, atau coffee maker Philips.

Sekarang, terutama di B2B healthcare, Philips lebih sering berhadapan dengan pertanyaan yang berbeda:

Bagaimana rumah sakit dapat melakukan diagnosis lebih cepat?

Bagaimana patient monitoring dapat dibuat lebih terhubung?

Apakah perawatan dapat dipindahkan sebagian ke rumah?

Bagaimana AI dapat mengurangi beban administratif dan klinis?

Perubahan pertanyaan tersebut mengubah model bisnis.

Produk menjadi bagian dari solusi yang lebih besar.

Hal ini terlihat dari strategi Philips yang menekankan kombinasi technology, clinical insights, customer partnerships, software, data, dan services. Perusahaan menyebut fokus strateginya sebagai pertumbuhan yang profitable melalui fokus, inovasi, dan disciplined execution.

Strategi Besar Philips: Hardware + Software + Data

Healthcare adalah salah satu industri yang paling jelas menunjukkan bahwa hardware saja semakin tidak cukup.

MRI, ultrasound, patient monitor, atau imaging system memang merupakan perangkat fisik.

Tetapi nilai bisnis semakin besar ketika perangkat tersebut terhubung dengan:

  • software,
  • AI,
  • data,
  • cloud,
  • workflow,
  • predictive analytics,
  • dan layanan.

Philips menyatakan sekitar 50% fokus R&D-nya pada 2025 berada pada software dan data science, sementara perusahaan memiliki sekitar 53.000 patent rights.

Ini menunjukkan arah transformasinya.

Philips tidak meninggalkan hardware.

Philips membuat hardware menjadi entry point menuju ecosystem.

AI Menjadi Bab Berikutnya

Jika transformasi pertama Philips adalah dari electronics menuju health technology, transformasi berikutnya adalah dari health technology menuju AI-enabled healthcare.

Pada 2026, Philips Future Health Index melibatkan lebih dari 2.000 healthcare professionals dan 20.000 pasien di 10 negara.

Hasilnya menunjukkan bahwa 65% clinician meningkatkan penggunaan AI tools yang disediakan di tempat kerja. Hampir setengah responden melaporkan penghematan waktu minimal 132 jam per tahun, sementara 50% mengatakan AI memberi mereka kapasitas untuk melihat lebih banyak pasien.

Angka tersebut penting bagi strategi Philips karena AI tidak diposisikan hanya sebagai fitur teknologi.

AI diposisikan sebagai cara untuk meningkatkan capacity of care.

Dengan kata lain:

AI bukan sekadar membuat alat Philips lebih pintar. AI membuat sistem kesehatan dapat bekerja dengan cara yang berbeda.

Berita Menarik: Philips Masuk Lebih Dalam ke Robotic Surgery

Salah satu perkembangan paling menarik pada 2026 adalah keterlibatan Philips dalam pengembangan AI-enabled robotic stroke care.

Pada Agustus 2026, Philips menerima penghargaan hingga US$33,7 juta dari ARPA-H untuk mengembangkan teknologi robotic stroke care bersama Johns Hopkins University dan Boston University.

Program tersebut bertujuan mengembangkan teknologi untuk prosedur endovascular yang semakin remote dan automated, dengan membangun kemampuan dari platform image-guided therapy Philips Azurion.

Baca Juga :  Brand Storytelling: Cara Membangun Hubungan Emosional dengan Pelanggan

Ini memperlihatkan bagaimana kemampuan Philips yang awalnya berasal dari imaging dapat diperluas ke robotics.

Polanya sama seperti perusahaan teknologi lainnya:

satu capability menjadi fondasi untuk capability berikutnya.

Imaging → image-guided therapy → AI → robotics.

Berita Menarik Lainnya: Philips Membuat AI Semakin Dekat dengan Perangkat Medis

Pada Juli 2026, Philips memperkenalkan Alturion ultrasound system dengan AI-powered workflows untuk lingkungan klinis dengan volume tinggi.

Pada bulan yang sama, perusahaan juga memperkenalkan berbagai perkembangan AI dan imaging, termasuk Titanion MR.

Sementara itu, Philips juga mulai membawa AI ke personal health.

Pada Juli 2026, Philips Sonicare memperkenalkan electric toothbrush dengan on-device AI dan real-time spatially aware guidance untuk membantu pengguna mendapatkan cakupan menyikat yang lebih baik.

Ini menarik dari perspektif brand.

AI tidak hanya menjadi teknologi untuk rumah sakit.

Philips sedang membawa teknologi yang sama ke pengalaman konsumen sehari-hari.

Bahkan Philips Masih Bisa Meluncurkan Produk Beauty Baru

Meski positioning korporatnya semakin kuat di health technology, Philips tidak meninggalkan consumer health.

Pada September 2026, Philips meluncurkan Lumea 9900 Pro, perangkat IPL untuk penggunaan di rumah yang menurut perusahaan menjadi produk IPL home-use pertamanya dengan real-time audio feedback dan motion guidance.

Produk tersebut menunjukkan bahwa personal health tetap menjadi bagian dari strategi Philips.

Namun kategorinya telah bergeser.

Bukan lagi sekadar “alat elektronik rumah tangga”.

Melainkan technology-enabled personal health.

Perbedaan bahasa ini mungkin terlihat kecil, tetapi secara strategis sangat besar.

Bagaimana Philips Bisa Bertahan 135 Tahun?

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Philips.

Teknologi yang mereka jual berubah berkali-kali.

Lampu berubah.

Radio berubah.

Televisi berubah.

Consumer electronics berubah.

Healthcare berubah.

AI sekarang berkembang sangat cepat.

Namun Philips mempertahankan satu benang merah:

innovation yang dirancang untuk memperbaiki kehidupan manusia.

Perusahaan sendiri menggambarkan sejarahnya sebagai perjalanan lebih dari 130 tahun people-focused innovation. Pada 2026, Philips merayakan ulang tahun ke-135 dan kembali menyoroti transformasi dari produsen lampu menjadi health-tech company.

Jadi, yang sebenarnya dipertahankan Philips bukan kategori produk.

Yang dipertahankan adalah kemampuan untuk mengubah teknologi menjadi solusi yang relevan bagi manusia.

Apa yang Bisa Dipelajari Brand dari Philips?

1. Brand tidak harus terjebak pada kategori awal

Philips dimulai dari lampu.

Hari ini, perusahaan menjual teknologi kesehatan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa brand dapat mempertahankan relevansi jika positioning dibangun berdasarkan purpose dan capability, bukan hanya kategori produk.

Brand yang awalnya menjual “produk” dapat berkembang menjadi perusahaan yang menjual solusi.

2. Tidak semua bisnis harus dipertahankan

Keputusan menjual Domestic Appliances menunjukkan bahwa transformasi kadang membutuhkan keberanian untuk melepas bisnis yang sebenarnya masih memiliki nilai.

Bisnis tersebut memiliki penjualan €2,2 miliar pada 2020 dan portofolio global yang kuat. Namun Philips memilih menjualnya untuk memusatkan perusahaan pada health technology.

Pelajarannya bukan bahwa diversifikasi selalu buruk.

Pelajarannya adalah:

diversifikasi harus memiliki alasan strategis.

Jika sebuah bisnis tidak lagi memperkuat arah utama perusahaan, mempertahankannya hanya karena sudah lama menjadi bagian dari brand dapat menjadi beban.

3. Brand heritage harus menjadi fondasi, bukan penjara

Philips memiliki warisan lebih dari satu abad.

Namun heritage tidak membuat perusahaan harus terus menjual produk yang sama.

Justru heritage tersebut digunakan untuk membangun kredibilitas sebagai perusahaan teknologi.

Ini berbeda dengan nostalgia.

Heritage Philips bukan hanya “kami sudah ada sejak 1891”.

Heritage diterjemahkan menjadi:

kami memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan teknologi untuk kehidupan manusia.

4. Hardware dapat menjadi pintu masuk ke recurring ecosystem

Perangkat medis adalah titik awal.

Namun setelah perangkat masuk ke rumah sakit, Philips dapat menyediakan software, data, workflow, maintenance, services, dan partnerships.

Model seperti ini membuat hubungan perusahaan dengan pelanggan tidak berhenti ketika hardware terjual.

Baca Juga :  Red Bull Menjual 13,9 Miliar Kaleng. Tapi Bisnis Sebenarnya Bukan Minuman

Untuk perusahaan lain, prinsipnya bisa diterapkan di luar healthcare.

Produk fisik dapat menjadi pintu masuk menuju:

software → service → data → subscription → ecosystem.

5. R&D harus terhubung dengan kebutuhan nyata

Philips menginvestasikan sekitar 9% sales ke R&D pada 2025 dan memiliki fokus besar pada software serta data science.

Namun perusahaan juga menekankan customer needs dan partnerships dengan healthcare providers.

Ini penting.

R&D yang hebat tetapi tidak menyelesaikan masalah pelanggan tetap sulit menjadi bisnis.

Karena itu, inovasi Philips bergerak dari:

technology push

menuju

customer problem + technology.

Philips Menjual “Better Care”, Bukan Sekadar Mesin

Transformasi Philips memberikan satu pelajaran besar tentang repositioning.

Perusahaan tidak mencoba membuat orang melupakan sejarahnya sebagai perusahaan elektronik.

Sebaliknya, Philips menggunakan sejarah teknologinya sebagai fondasi untuk memasuki masalah yang lebih besar.

Dari lampu menjadi imaging.

Imaging menjadi diagnosis.

Daari perangkat menjadi connected care.

Connected care menjadi AI.

Dan dari AI menuju healthcare yang semakin terintegrasi.

Pada 2025, Philips mencatat €17,8 miliar sales, adjusted EBITA €2,195 miliar, serta 27,9% revenue dari produk dan solusi yang dikategorikan sebagai circular revenues. Perusahaan juga menargetkan dapat meningkatkan jumlah kehidupan yang dibantu menjadi 2,5 miliar orang per tahun pada 2030, termasuk 400 juta orang di komunitas yang underserved.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa transformasi Philips bukan sekadar perubahan slogan.

Ia sudah menjadi perubahan struktur bisnis.

Dan mungkin itulah inti strategi Philips:

jangan mempertahankan produk hanya karena produk tersebut sudah dikenal. Pertahankan kemampuan yang membuat brand mampu terus menciptakan nilai ketika teknologi dan kebutuhan manusia berubah.

Untuk brand yang sudah lama berdiri, ini adalah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar “bagaimana membuat produk baru?”

Pertanyaannya adalah:

“Bisakah kemampuan yang selama ini kita miliki digunakan untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar?”

Ikuti Instagram KOMBIS di @komunikasibisniscom untuk mendapatkan insight seputar bisnis, brand, marketing, dan komunikasi. Untuk terus membaca artikel dan analisis KOMBIS lainnya, kunjungi komunikasibisnis.com.

  1. Philips 2025 Annual Results — data revenue €17,8 miliar, adjusted EBITA €2,195 miliar, 64.817 karyawan, 700 paten baru, circular revenue 27,9%, dan 2 miliar lives improved.
    Philips 2025 Annual Results
  2. Philips 2025 Annual Report — laporan tahunan lengkap dan rincian kinerja 2025.
    Philips Annual Report 2025
  3. Philips About Us — positioning Philips sebagai focused health technology company, R&D, patent rights, dan strategi perusahaan.
    Philips About Us
  4. Philips 135 Years of Innovation — sejarah Philips dari lampu pada 1891 hingga perkembangan health technology.
    135 Years of Philips: An Innovation Diary
  5. Philips 2026 Q2 Results — revenue €4,4 miliar, comparable sales growth 4%, adjusted EBITA €717 juta, serta perkembangan Diagnosis & Treatment, Connected Care, dan Personal Health.
    Philips Q2 2026 Results
  6. Philips Q2 2026 Press Release — rincian kinerja Q2, SmartIQ, AI, imaging, hospital-at-home, Personal Health, dan outlook 2026.
    Philips Second-Quarter Results 2026
  7. Philips Capital Markets Day 2026 — strategi Philips 2026–2028 dan arah bisnis setelah tiga tahun transformasi.
    Philips Capital Markets Day 2026
  8. Philips — Domestic Appliances Sale 2021 — penjualan bisnis Domestic Appliances senilai sekitar €3,7 miliar enterprise value dan brand license 15 tahun.
    Philips Domestic Appliances Sale
  9. Philips Future Health Index 2026 — data penggunaan AI oleh healthcare professionals dan dampaknya terhadap waktu serta kapasitas layanan.
    Philips Future Health Index 2026
  10. Philips ARPA-H Robotic Stroke Care — pendanaan hingga US$33,7 juta untuk pengembangan AI-enabled robotic stroke care bersama Johns Hopkins University dan Boston University.
    Philips ARPA-H Robotic Stroke Care
  11. Philips Global News & Insights — perkembangan terbaru 2026, termasuk Lumea 9900 Pro, Sonicare AI, Alturion, dan berbagai inovasi Philips.
    Philips News & Insights

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Guardian

Penjualan Naik tapi Profit Jebol? Pelajaran Penting dari Strategi Ekspansi Guardian

Next Post
J&T Express

Menguak Mesin Pertumbuhan J&T Express: Mengubah Logistics Friction Menjadi Scalable Growth Engine di Industri E-Commerce Modern

Advertisement