Surabaya, 8 September 2026 — Seminar DigiSHIELD bertajuk “Building Cyber-Resilient Digital Ventures: Managing Cyber Risk, Data & Trust” digelar di Universitas Ciputra Surabaya pada Selasa (8/9). Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dengan latar belakang yang berbeda, yaitu Rizki Candra Kusuma, Strategy Execution Coach sekaligus Head of Ventures Development Universitas Ciputra; Annisa Pratiwi Iskandar, praktisi komunikasi, kebijakan publik, dan inklusi sosial; Yulibar Husni, Apple iOS Developer, product designer, dan educator; serta Syamsul Qomar, S.Ikom, entrepreneur dan Founder & CEO Agendakota Indonesia.
Mengangkat isu cyber risk, data, dan trust, seminar ini membahas bagaimana pelaku bisnis dan pengembang digital dapat membangun usaha yang tidak hanya bertumbuh, tetapi juga mampu menghadapi risiko keamanan dan menjaga kepercayaan pengguna.
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan ketika aktivitas bisnis semakin bergantung pada sistem digital. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan terdapat sekitar 5,16 miliar anomali trafik internet sepanjang 2025, atau rata-rata sekitar 182 potensi ancaman per detik. BSSN menegaskan bahwa angka tersebut merupakan anomali trafik yang berpotensi menjadi serangan dan tidak dapat disamakan dengan 5,16 miliar serangan yang berhasil. (Antara News)
Bagi dunia bisnis, angka tersebut menunjukkan satu hal: keamanan digital tidak lagi bisa ditempatkan sebagai persoalan teknis yang hanya diserahkan kepada tim IT.
Ancaman Bisa Berawal dari Hal yang Terlihat Sepele
Dalam sesi seminar, isu keamanan digital dibawa lebih dekat dengan aktivitas yang sering dilakukan sehari-hari.
Mulai dari penggunaan kata sandi yang mudah ditebak, mengakses mobile banking melalui Wi-Fi publik, lupa melakukan sign out dari email, hingga memasukkan username dan password ke situs mencurigakan. Bahkan, memberikan perangkat kepada teknisi tanpa memastikan keamanan data di dalamnya juga dapat menjadi celah.
Masalahnya, satu kesalahan kecil dapat membuka akses terhadap informasi yang jauh lebih besar.
Bagi perusahaan, data yang perlu dilindungi bukan hanya data pelanggan. Ada pula data karyawan, informasi keuangan, dokumen internal, kredensial akun, informasi mitra, hingga data yang berkaitan dengan pengembangan produk.
Karena itu, keamanan data pada akhirnya bukan hanya persoalan bagaimana perusahaan menyimpan data, tetapi juga bagaimana perusahaan mengelola risiko dan menjaga kepercayaan.
Empat Perspektif: Dari Keamanan hingga Kepercayaan Produk
Salah satu hal menarik dari seminar DigiSHIELD adalah pendekatan yang tidak melihat keamanan digital dari satu sudut saja. Empat narasumber membawa isu tersebut dari perspektif yang berbeda.

Rizki Candra Kusuma: Keamanan Harus Masuk ke Cara Perusahaan Bekerja
Rizki Candra Kusuma membahas keamanan dari perspektif bisnis dan eksekusi.
Pesannya relevan bagi perusahaan maupun startup: keamanan tidak seharusnya baru dipikirkan setelah terjadi masalah. Ia perlu menjadi bagian dari cara perusahaan merancang proses, menentukan prioritas, dan menjalankan bisnis.
Artinya, ketika perusahaan membangun sebuah produk digital, aspek keamanan harus ikut masuk sejak awal, bukan menjadi tambahan setelah produk selesai.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip security by design: keamanan dirancang bersama produk dan proses bisnis sejak awal.
Bagi KOMBIS, ini penting karena investasi keamanan seharusnya tidak dilihat semata sebagai biaya. Ketika sebuah perusahaan kehilangan data atau mengalami gangguan sistem, yang terdampak bukan hanya teknologi, tetapi juga operasional, pelanggan, reputasi, dan kepercayaan terhadap brand.
Annisa Pratiwi Iskandar: Di Balik Data Selalu Ada Manusia
Annisa Pratiwi Iskandar membawa perspektif yang berbeda dengan menempatkan manusia di balik setiap data.
Data bukan sekadar angka, email, nomor telepon, atau informasi yang tersimpan di dalam database. Di baliknya ada individu dan kelompok masyarakat yang dapat terdampak ketika data tersebut digunakan secara tidak tepat, bocor, atau kehilangan kendali atas informasi pribadinya.
Karena itu, keamanan digital juga memiliki dimensi sosial.
Perusahaan perlu memahami siapa yang menggunakan produknya, siapa yang datanya dikumpulkan, serta apakah kelompok tertentu dapat mengalami risiko yang lebih besar akibat cara sebuah sistem dirancang.
Perspektif ini membuat pembicaraan tentang keamanan tidak berhenti pada “bagaimana data tidak bocor”, tetapi berkembang menjadi pertanyaan yang lebih penting: apakah pengguna memahami apa yang terjadi terhadap datanya dan memiliki kendali yang cukup atas data tersebut?
Di sinilah transparansi dan inklusivitas menjadi bagian dari digital trust.
Syamsul Qomar: Risiko Digital Juga Menjadi Masalah Perusahaan
Sementara itu, Syamsul Qomar membawa pembahasan ke persoalan yang dihadapi perusahaan ketika bisnis semakin bergantung pada ruang digital.
Bagi perusahaan, ancaman digital tidak berdiri sendiri. Gangguan sistem, kebocoran data, penipuan, hingga penyalahgunaan informasi dapat memengaruhi proses operasional dan hubungan dengan pelanggan.
Karena itu, perusahaan perlu melihat keamanan sebagai bagian dari business continuity dan risk management.
Perusahaan yang tumbuh secara digital harus memahami bahwa semakin banyak sistem, pengguna, transaksi, dan data yang dikelola, semakin besar pula permukaan risiko yang harus dikendalikan.
Dengan kata lain, pertumbuhan digital harus diikuti dengan pertumbuhan kemampuan perusahaan dalam mengelola risikonya.
Yulibar Husni: Produk yang Baik Harus Bisa Dipercaya
Yulibar Husni kemudian membawa pembahasan ke sisi produk.
Sebagai developer dan educator yang banyak berkecimpung dalam pengembangan aplikasi serta UI/UX, Yulibar menekankan bahwa produk digital tidak cukup hanya berfungsi dengan baik.
Pengguna juga perlu memahami bagaimana produk tersebut bekerja, terutama ketika menyangkut data dan keamanan.
Karena itu, transparansi dan kontrol pengguna perlu diterjemahkan ke dalam desain produk. Aturan keamanan yang terlalu rumit atau tidak dijelaskan dengan baik justru dapat membuat pengguna tidak memahami apa yang sedang mereka setujui.
Di sinilah UI/UX memiliki peran penting. Tampilan, alur, notifikasi, pilihan pengaturan, hingga cara meminta izin akses data dapat menentukan apakah pengguna benar-benar memahami risiko yang ada.
Produk yang aman, tetapi tidak dipahami pengguna, tetap memiliki celah.
Cybersecurity Bukan Lagi Sekadar Persoalan Tim IT
Dari empat perspektif tersebut terlihat bahwa keamanan digital sebenarnya berada di banyak titik dalam sebuah bisnis.
Rizki berbicara mengenai keamanan dalam strategi dan eksekusi. Annisa mengingatkan bahwa di balik data selalu ada manusia dan kelompok masyarakat yang terdampak. Syamsul melihat risiko dari sisi perusahaan dan keberlangsungan bisnis. Sementara Yulibar membawa isu keamanan ke dalam produk, transparansi, dan pengalaman pengguna.
Keempatnya bertemu pada satu persoalan: trust.
Perusahaan dapat memiliki produk yang bagus dan strategi pertumbuhan yang agresif. Namun, ketika pelanggan tidak merasa aman memberikan datanya, kepercayaan dapat hilang dengan cepat.
Karena itu, cybersecurity seharusnya tidak ditempatkan di ujung proses setelah produk selesai dibuat. Ia perlu masuk sejak perusahaan menentukan apa yang dibangun, data apa yang dikumpulkan, bagaimana data digunakan, bagaimana pengguna diberi kontrol, dan bagaimana risiko dikelola.
DigiSHIELD: Mengubah Kesadaran Menjadi Kebiasaan

Pendekatan DigiSHIELD juga tidak berhenti pada seminar. Program ini membawa peserta pada berbagai skenario keamanan digital yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk risiko phishing, kebocoran data, dan informasi yang dibuat menggunakan AI.
Pesannya sederhana: berhenti sejenak sebelum membagikan sesuatu, hilangkan informasi pribadi yang tidak perlu, dan jangan langsung mempercayai jawaban atau informasi hanya karena terlihat meyakinkan.
Pendekatan edukasi semacam ini penting karena keamanan digital pada akhirnya juga bergantung pada keputusan manusia.
Bahkan, DigiSHIELD menggunakan pendekatan permainan melalui “DigiSHIELD Your Digital Life”, yang mengajak peserta menguji kesadaran mereka terhadap berbagai risiko di ruang digital. DigiSHIELD Your Digital Life
Dari “Secure Later” Menjadi “Secure by Design”
Seminar DigiSHIELD di Universitas Ciputra memperlihatkan bahwa keamanan digital tidak dapat lagi dipisahkan dari strategi bisnis.
Perusahaan yang membangun produk digital perlu memikirkan keamanan sejak tahap ide, kemudian meneruskannya ke pengembangan produk, UI/UX, pengelolaan data, hingga cara perusahaan berkomunikasi dengan pengguna.
Sebab pada akhirnya, keamanan bukan hanya tentang melindungi sistem. Keamanan adalah bagian dari cara perusahaan membangun kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan menjadi semakin penting dalam ekonomi digital, perusahaan yang mampu membuat pengguna merasa aman, memahami apa yang terjadi pada datanya, dan memiliki kontrol akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bertumbuh.
Bagi bisnis digital, pertanyaannya bukan lagi “apakah kita perlu cybersecurity?” tetapi “seberapa jauh keamanan sudah menjadi bagian dari cara kita membangun bisnis?”
Ikuti Informasi Selengkapnya
Untuk mendapatkan insight dan informasi terbaru seputar bisnis, teknologi, strategi, dan perkembangan dunia digital, ikuti:
@komunikasibisniscom — untuk business insight dan berita bisnis terkini
@uc.ventures — untuk informasi seputar entrepreneurship dan digital venture
@digishield.asean — untuk edukasi dan informasi seputar keamanan digital
Jangan lewatkan berita dan insight terbaru hanya di [komunikasibisnis.com].